Ini adalah judul film Indonesia yang jumlah penontonnya per 26 Juni lalu sudah tembus 3 juta. Untuk ukuran film Indonesia, dengan jumlah tersebut sudah bisa disebut sebagai film yang laris. Dan berpotensi sebagai film yang paling banyak ditonton pada tahun ini.
“Ipar adalah Maut” merupakan film yang diadaptasi dari kisah nyata yang viral di media sosial. Waktu itu kisahnya dibagikan oleh konten kreator Elizasifaa di TikTok. Inti dari kisah tersebut adalah perselingkuhan antara suami dan adik iparnya.
Saya sudah menonton filmnya. Istri saya sampai menangis. Penonton di belakang saya yang semuanya perempuan ramai berkomentar (ramainya kayak nonton sepak bola) ketika menyaksikan adegan si istri (Nisak) akhirnya bertengkar dengan si suami (Aris), setelah si istri memergoki bahwa suaminya berselingkuh dengan adik iparnya, yang tak lain adik kandung si istri.
“Ipar adalah Maut” adalah salah satu contoh dari produk yang dipasarkan dengan memanfaatkan “emotional marketing”. Kata Philip Kotler, “emotional marketing” adalah strategi marketing yang fokus pada penciptaan ikatan emosional antara produk atau merek dengan konsumen. Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami dan memanfaatkan emosi manusia untuk mempengaruhi keputusan pembelian.
Emosi dasar manusia bisa dibagi menjadi lima: perasaan senang, sedih, marah, takut, dan jijik.
Jika Anda membaca kisah atau menyaksikan Film “Ipar adalah Maut”, mungkin emosi yang akan diaduk-aduk adalah perasaan sedih, marah, jijik, dan bisa juga takut. Sedih dan marah, ikut merasakan kesedihan dan kemarahan yang dirasakan Nisak, karena telah dikhianati suaminya dan adiknya. Juga ikut merasa jijik seperti yang dirasakan Nisak setelah melihat kelakuan suaminya yang sangat tidak patut. Dan mungkin juga perasaan takut, bagi para istri yang punya adik perempuan.
Berbagai aspek emosional tersebut, sukses diramu dan diracik dalam Film “Ipar adalah Maut” sehingga sukses menyedot jumlah penonton hingga 3 juta lebih. Dan ketika seseorang menyaksikan sebuah film yang bagus, maka dia akan menceritakan kepada temannya. Ini yang disebut dengan “word of mouth” alias kekuatan cerita dari mulut ke mulut. Kalau pun saya akhirnya menonton film “Ipar adalah Maut”, ini karena juga dapat cerita dari teman saya yang sudah lebih dahulu menonton.
Lantas, apa yang bisa kita pelajari dari kasus “Ipar adalah Maut”? Setidaknya kita bisa mengetahui, betapa berdampaknya “emotional marketing”. Setidaknya ada empat poin utama menurut Kotler yang perlu diperhatikan jika Anda ingin menerapkan strategi “emotional marketing”:
Pertama, pengenalan emosi. Produk dan kampanye pemasaran harus dirancang untuk memicu emosi spesifik yang dapat memotivasi konsumen. Perhatikan lima emosi dasar manusia seperti yang saya sebutkan di atas (senang, sedih, marah, takut dan jijik). Selanjutnya bisa dikembangkan emosi yang lain seperti kebahagiaan, nostalgia, rasa aman, atau kegembiraan.
Kedua, cerita dan narasi. Gunakan lah dalam mempromosikan produk Anda cerita yang menyentuh hati, sehingga dapat membuat produk tampak lebih menarik dan relevan bagi konsumen. Narasi yang kuat dapat membantu konsumen mengaitkan produk dengan pengalaman pribadi mereka.
Ketiga, pengalaman konsumen. Anda bisa menciptakan pengalaman konsumen yang emosional, baik melalui iklan, layanan pelanggan, atau interaksi lainnya. Sehingga hal ini dapat meningkatkan loyalitas dan keterlibatan konsumen.
Keempat, personalisasi. Dalam hal ini menyesuaikan pesan dan penawaran dari produk Anda, berdasarkan kebutuhan dan preferensi individual konsumen. Sehingga dapat meningkatkan dampak emosional bagi konsumen.
Kotler menekankan, bahwa dengan menyentuh hati konsumen, perusahaan dapat menciptakan hubungan yang lebih kuat dan tahan lama, yang pada akhirnya dapat meningkatkan loyalitas dan keuntungan jangka panjang. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah