Di antara Factory Outlet (FO) di Kota Bandung yang masih eksis dan tetap ramai didatangi pengunjung adalah “Rumah Mode” di Jalan Setiabudi. Baru-baru ini saya ke Kota Bandung. Dan menyempatkan mampir ke Rumah Mode. Masih ramai. Dan mayoritas pengunjungnya pembeli dari luar Bandung.
FO di Kota Bandung tampaknya tak seramai dulu. Rupanya sudah banyak FO yang tutup. Bisa jadi karena terdampak oleh habit belanja online dan serangan pandemi covid-19. Beberapa FO yang masih bisa bertahan hingga kini dan tetap ramai dikunjungi konsumen, karena mereka memang punya diferensiasi atau value yang kuat. Salah satunya “Rumah Mode”.
Setidaknya ada empat value yang dimiliki Rumah Mode yang membuat deferensiasinya masih kuat. Pertama, dari sisi lokasi. Area Rumah Mode cukup luas. Pengunjung tidak hanya seperti pergi ke toko untuk berbelanja pakaian. Tapi, sekaligus bisa menikmati suasana rumah dengan pekarangan dan taman yang luas. Ada pula arena bermain untuk anak-anak. Bagi bapak-bapak yang nunggu istrinya lama berbelanja, bisa nongkrong ke sisi resto, satu kompleks dengan Rumah Mode. Di sana dijual aneka jajanan, makanan dan minuman. Ada makanan tradisional, menu fancy, aneka badros, aneka bubur dan snack khas Jawa Barat seperti batagor dan siomay. Juga ada nasi goreng buntut dan Mie Aceh. Selain bisa ngopi, juga bisa menikmati gelato dengan aneka varian. Bagi yang muslim, juga disediakan musholla dan tempat wudhu yang nyaman.
Kedua, Rumah Mode didirikan, dimiliki dan dikembangkan oleh figur yang benar-benar memahami dunia fashion dan mode. Dia adalah Hario Aldi Adhisaputra. Porto folionya: pernah mengenyam pendidikan formal di bidang desain, lulusan Tata Whidi Budiharjo School of Design di Bandung dan School of Design di Singapura. Makanya, dari sisi ini, nama Rumah Mode itu bukan lah sekadar nama. Tapi, sang pemilik agaknya ingin menunjukkan dan ingin menonjolkan kepada konsumen, bahwa di tempat ini, benar-benar dijual produk yang selalu update terhadap mode-mode terbaru. Sebab, dikelola oleh orang-orang yang benar-benar faham terhadap mode. Dan ini bisa dilihat dari berbagai koleksi yang tersedia untuk segala segmen. Segmen secara gender, segmen secara umur, dan segmen secara lifestyle.
Ketiga, harga yang relatif murah. Ini yang paling kuat daya tariknya. Hampir semua koleksi yang dijual di Rumah Mode, harganya ramah untuk kantong. Koleksi baju yang dijual di Rumah Mode jika dilihat dari sisi model dan desain, menurut saya tidak kalah dengan koleksi yang dijual di Uniqlo maupun di H&M. Tapi, untuk harga, Rumah Mode lebih murah.
Keempat, Rumah Mode termasuk FO yang sudah menjadi “top of mind”-nya orang Bandung. Saya pernah bikin survei kecil-kecilan. Dari 10 orang di Kota Bandung yang saya tanya “kemana saya harus belanja baju”? Tujuh di antaranya menjawab “Rumah Mode”. Begitu pula dengan sopir taksi offline maupun online. Dari 10 yang saya tanya dengan pertanyaan yang sama, 8 di antaranya menjawab “Rumah Mode”. Ini menjadi kekuatan tersendiri bagi Rumah Mode, sehingga sejak berdiri pada 1999, hingga kini masih tetap bisa eksis dan berkembang.
Walhasil, Rumah Mode memiliki empat unsur yang membangun diferensiasi yang disebutkan Philip Kotler. Pertama, produk. Produk yang dijual di Rumah Mode, selain lengkap, beragam, fashionable, harganya pun relatif murah. Kedua, layanan. Di Rumah Mode, konsumen dibikin nyaman dengan pelayanan yang diberikan. Berbagai fasilitas pun disediakan. Tak hanya belanja, tapi juga aneka kuliner, tempat istirahat hingga tempat sholat. Ketiga, personel. Ini kaitanya dengan staf atau karyawan. Rata-rata ramah. Dan cepat dalam memberikan pelayanan. Kasir yang disediakan pun cukup banyak. Sehingga, pembeli nggak harus berlama-lama ngantri untuk membayar. Dan keempat, citra. Rumah Mode punya citra atau reputasi yang baik. Baik bagi warga di Bandung maupun warga dari luar Bandung.
Jadi, betapa pentingnya deferensiasi. Sebuah produk tak akan mampu bertahan lama, dan tak akan mampu bersaing dengan kompetitor, jika tak dilengkapi dengan deferensiasi yang kuat. Inti dari deferensiasi menurut Al Ries dan Jack Trout adalah untuk menciptakan keunikan yang relevan dan mudah dikenali oleh konsumen. Sehingga produk atau merek tersebut memiliki tempat yang khusus di benak konsumen. Nah, apakah produkmu sudah punya deferensiasi yang kuat? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah