Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tatag, Teteg, Tutug, dan Intuisi

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 1 November 2023 | 13:00 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Sebagai pemimpin perusahaan, Anda mungkin pernah mengalami hal ini: karyawan Anda, termasuk para manajer, satu per satu keluar atau mengundurkan diri karena merasa tak nyaman dengan kebijakan Anda. Sepuluh tahun lebih memimpin perusahaan, saya pernah mengalaminya. Bahkan, gara-gara peristiwa itu, saya pernah dipanggil dan ditanya secara khusus oleh atasan saya.

Dalam memimpin dan menjalankan perusahaan, ada tiga filosofi Jawa yang saya anut, saya yakini, dan saya lakoni. Yakni: tatag, teteg, dan tutug. Tatag, berarti mental yang baik, sebagai bekal pada diri seseorang untuk menghadapi tantangan. Seorang pemimpin, dalam membuat kebijakan, harus tatag, selama dia meyakini, bahwa kebijakannya itu untuk kebaikan bersama. Karena itu, seorang pemimpin tak boleh terpengaruh oleh guncangan dan tantangan apa pun. "Biarlah waktu yang akan menjawab, apakah kebijakan itu mendatangkan kebaikan atau malah sebaliknya," demikian yang selalu menjadi keyakinan saya.

Teteg, bermakna konsisten, atau keteguhan dalam menjawab segala hambatan di depan. Ketika kebijakan sudah dibuat, dan ternyata dampak dari kebijakan itu menemui beberapa hambatan dan kesulitan, maka seorang pemimpin harus teteg. Harus konsisten dan teguh dengan kebijakannya.

 Sedangkan makna dari tutug adalah tuntas dalam mengerjakan atau menyelesaikan segala sesuatu pekerjaan. Dalam hal ini, kebijakan yang dibuat oleh seorang pemimpin harus bisa dituntaskan hingga hasil, manfaat dan dampaknya bisa dirasakan oleh berbagai pihak.

Memimpin, bagi saya, selalu butuh improvisasi dan intuisi. Karena itu, wajar jika ada yang menyebut, memimpin adalah sebuah seni. Saya terinspirasi dengan pengalaman Konosuke Matsushita, pendiri pabrik elektronik Panasonic, dalam buku berjudul: "People Before Products". Matsushita menjabarkan sebuah matematika unik. Dia menyebutkan, kalau Anda memiliki 10 karyawan, umumnya hanya dua yang menjiwai pemikiran dan perintah Anda. Enam lainnya hanya patuh karena sadar bahwa Anda adalah bosnya. Lainnya akan membandel, beroposisi, dan selalu tak setuju dengan Anda. Dengan memahami matematika ala Matsushita ini, maka Anda tidak akan kaget dengan berbagai respon dari anak buah Anda, dalam menyikapi kebijakan Anda.

Matsushita mengutip peribahasa cantik: "Biarkanlah manusia berusaha sebisanya. Sisanya dilakukan Tuhan". Pengalaman Matsushita ini mengajarkan kepada kita, bahwa manajemen itu lebih mirip sebuah mozaik. Sehingga tak ada kepingan yang jelek. Bergantung kepada kita yang mampu meletakkan kepingan tertentu di posisi tertentu, sehingga tergambar desain yang indah. Kemampuan meletakkan orang pada posisinya yang tepat, adalah jurus manajemen tingkat tinggi.

Mengapa kemampuan meletakkan orang pada posisinya yang tepat, termasuk jurus manajemen tingkat tinggi? Menurut saya, karena sedikit-banyak melibatkan intuisi.

 Menurut kamus Merriam Webster, intuisi adalah sebuah kemampuan untuk mengetahui atau memahami sesuatu tanpa bukti.

Dan yang menarik, banyak pengusaha paling berpengaruh di dunia mengaku membuat keputusan berdasarkan intuisi, daripada pemikiran logis dan disengaja. 

Dari sampel 36 CEO, 85 persen di antara mereka menegaskan bahwa intuisi, dalam bentuk aturan praktis, merupakan inti dari proses pengambilan keputusan mereka.

Dalam marketing, intuisi juga dianggap penting. Ada sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Roger Dooley, seorang penulis, pembicara utama internasional, pencipta dan pakar neuromarketing. Pada artikelnya itu, Dooley mengutip sebuah penelitian yang pernah diterbitkan di Journal of Marketing, yang menyebutkan bahwa validitas intuisi seorang tenaga penjualan atau marketing telah berhasil dibuktikan.

 Penelitian tersebut dilakukan selama empat bulan, di beberapa lokasi jaringan toko kasur, mengamati interaksi tenaga penjualan dengan pelanggan, kemudian ditindaklanjuti dengan wawancara terhadap kedua belah pihak.

Para peneliti membedakan dua cara tenaga penjualan mengevaluasi kebutuhan pelanggan. Cara pertama, bersifat intuitif. Yakni, mendasarkan pada kesan pertama tenaga penjualan mengenai apa yang dibutuhkan pelanggan, dan bagaimana mendekati proses penjualan. Cara kedua, bersifat deliberatif. Yakni, mendasarkan pada data dan penilaian yang lebih masuk akal.

Hasilnya, menunjukkan bahwa penilaian intuitif secara akurat dapat meningkatkan kinerja penjualan dengan memungkinkan strategi penjualan awal yang lebih tepat. Penilaian ini tidak hanya membantu meningkatkan efektivitas upaya penjualan tenaga penjualan, namun juga mengurangi jumlah waktu penjualan. Sehingga, meningkatkan efisiensi penjualan.

Jadi, betapa pentingnya intuisi. Albert Einstein sampai harus mengatakan, "The only real valuable thing is intuition" (satu-satunya hal yang benar-benar berharga adalah intuisi).

Karena intuisi bersifat sangat subyektif, maka ketika harus membuat keputusan atau pun penilaian berdasarkan intuisi, rentan untuk ditentang, dicaci maki, atau pun dicemooh. Maka harus punya sikap yang tatag, teteg, dan tutug. Bagaimana menurut Anda? (Kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah