Menyaksikan adegan itu, saya sempat heran. Padahal, sekilas saya melihat cangkir itu sudah cukup bersih. Tapi, bagi teman saya, masih kurang bersih. “Di Jepang, kalau ingin nikmat minum teh-nya, semua peralatan minum, hingga air untuk menyeduh harus bersih,” kata dia, seperti ingin menjawab keheranan saya. Teman saya ini memang pernah lima tahun tinggal di Jepang. Selain melanjutkan studi, dia juga bekerja di sana.
Saya lantas teringat dengan sebuah buku klasik, yang ditulis pada tahun 1906. Judulnya: “The Book of Tea” yang ditulis oleh Okakura Kakuzo. Dijelaskan dalam buku itu, setidaknya ada tiga filosofi dibalik minum teh. Pertama, filosofi minum teh tidak terletak pada gaya atau keindahan ritualnya. Namun, terletak pada kebersihannya. Termasuk bersih peralatan (gelas, cangkir) maupun air untuk menyeduh. Makanya, teman saya tadi, begitu detailnya melihat sisi kebersihan dari cangkir teh yang disuguhkan kepada tamu. Bisa jadi, dia sudah terbiasa dengan budaya bersih saat tinggal di Jepang dulu.
Filosofi kedua, adalah ekonomis. Dibandingkan dengan minuman lain, teh adalah minuman yang murah. Namun, jika secangkir teh diseduh dengan benar, minuman hangat itu akan menjadi minuman paling nikmat. Memberikan nilai kepuasan yang sangat tinggi. Menurut Okakura, kekuatan teh terletak pada kesederhanaannya. Bukan pada kompleksitas yang perlente. Kesederhanaan teh memurnikan nilai-nilai yang kita cari.
Filosofi ketiga, adalah pada tatanan moral. Teh adalah minuman yang secara universal dapat berjalan harmoni dengan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, teh dapat kita minum dalam segala bentuk dan kesempatan. Baik dalam keadaan panas, hangat, dingin dan bersama es. Tawar, pahit, sangat pahit dan manis. Makanya, teh di Indonesia juga termasuk minuman ringan yang paling populer.
Bersih, ekonomis, dan harmoni. Tiga filosofi ini, bisa diterapkan dalam marketing. Saya menduga, teman saya yang tergolong pengusaha sukses tadi, bisa jadi menerapkan tiga filosofi dari teh itu dalam mengembangkan bisnisnya, sehingga semakin sukses dan berkembang. Dia jago marketing. Dia juga punya reputasi yang cukup baik di kalangan pengusaha yang lain.
Dalam marketing, aspek bersih itu penting. Dari sisi penampilan, seorang marketer harus selalu tampil bersih. Mulai dari penampilan fisik hingga pakaian yang dikenakan. Sehingga, akan bikin nyaman customer yang berurusan dengannya. Dari sisi cara bekerja, juga harus bersih. Clear. Jujur. Antara janji yang disampaikan kepada customer, dengan kenyataan yang diterima customer, harus linier. Sedapat mungkin harus dihindarkan adanya penyimpangan antara janji yang diberikan dengan kenyataan yang diterima oleh customer. Hal ini lah yang akan membangun reputasi.
Aspek ekonomis, dalam marketing bisa juga dimaknai sebagai kesederhanaan. Sebuah produk yang akan dipresentasikan atau ditawarkan kepada customer, harus sesederhana mungkin dikemas dan disampaikan. Sehingga bisa diterima dengan sangat mudah oleh customer, tapi cukup bisa membuat customer tergoda dan penasaran.
Begitu pula dengan aspek harmoni. Di dalam marketing, prinsip harmoni juga tak kalah pentingnya. Terutama dalam membangun harmoni yang seimbang antara branding, sales dan marketing. Kerap terjadi, antara tim sales dan marketing kurang harmoni dalam menjalankan aktivitasnya. Antara tim sales dan marketing, sebenarnya punya tujuan bisnis yang sama. Tapi proses kerja mereka sangat lah berbeda. Sehingga, ini yang membuat antara keduanya saling bertumpang tindih, bahkan berlawanan.
Tim marketing terkadang menyalahkan tim sales, karena tidak memanfaatkan semua prospek atau konten yang mereka buat. Sebaliknya, tim sales berpikir bahwa tim marketing tidak menghasilkan prospek yang siap untuk dijual dan berkualitas baik.
Menurut survei dari InsideView, ada enam hambatan terbesar dalam penyelarasan atau menjalin harmoni antara sales dan marketing: Pertama, kurangnya data yang akurat tentang prospek target. Kedua, komunikasi yang kurang (antara sales dan marketing). Ketiga, penggunaan metrik yang berbeda. Keempat, proses yang gagal. Kelima, kurangnya akuntabilitas di kedua sisi. Keenam, tidak menyampaikan tantangan yang dialami.
Selain itu, tim sales seringkali lebih berfokus pada pendapatan yang bersifat jangka pendek. Sedangkan tim marketing lebih berfokus pada membangun brand kreatif yang berjangka panjang.
Jadi, “The Book of Tea” tidak hanya menjelaskan tentang filosofi dibalik tradisi minum teh di Jepang. Tapi, buku itu bisa juga dijadikan pegangan bagi para praktisi marketing.
Di akhir bukunya, Okakura menulis bab tentang “The Tea Masters”. Ini merupakan bab pencerahan yang tertinggi. Dia menulis bagaimana bangsa Jepang memiliki disiplin tinggi dalam menjalankan ritual minum teh, sehingga memerlukan ruangan sendiri yang disebut “Ruangan Teh”. Dia menulis: “Perfection is everywhere if only we choose to recognize it”. Artinya, kesempurnaan ada dimana-mana, jika saja kita memilih untuk mengenalinya. Dengan kata lain, kita akan selalu berusaha melakukan segala sesuatu dengan sempurna, jika kita mengerti kebenaran yang sejati.
Dan, untuk bisa mengerti kebenaran yang sejati, harus ikhtiyar mencarinya, hingga berhasil menemukannya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah