Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), intuisi adalah daya atau kemampuan mengetahui atau berusaha memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau pun dipelajari, yang hadir melalui bisikan hati atau gerak hati. Sedangkan menurut Albert Einstein, intuisi adalah hasil dari sebuah pengalaman intelektual yang telah dirasakan sebelumnya. Berarti, intuisi juga bisa datang dari rekognisi yang terjadi secara terus-menerus.
Bagi saya, intuisi adalah kemampuan membuat pertimbangan atau analisis berdasarkan prediksi yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Beberapa kali saya membuat keputusan di perusahaan yang saya pimpin, berdasarkan intuisi. Misalnya, dalam mengangkat manajer. Atau, ketika merotasi staf untuk dipindahkan ke bagian lain. Di bidang marketing, beberapa kali kami membuka pasar baru, atau menyasar klien baru, juga berdasarkan intuisi. Jadi, minim sekali riset pasar-nya. Lebih banyak pada pertimbangan yang sifatnya intuitif. Apakah berhasil dengan pertimbangan intuisi itu? Sebagian besar berhasil.
Para pengusaha merupakan salah satu kelompok terbesar yang mengandalkan cara mengambil keputusan lewat intuisi. Salah satu contoh pengusaha di Indonesia yang sukses dalam mengembangkan intuisinya adalah (almarhum) Ciputra. Bagi Pak Ci (sapaan akrab Ciputra), intuisi bukan semata bisnis. Tapi, intuisi juga tentang lukisan. Lho, kok lukisan? Apa hubungan antara lukisan dengan intuisi seorang Pak Ci?
Saya pernah mendengar cerita, bahwa jauh sebelum menjadi pengusaha besar yang sukses, sekitar tahun 1968, untuk pertama kalinya Pak Ci membeli lukisan karya Hendra Gunawan. Padahal, saat itu, Hendra Gunawan sedang berada di dalam tahanan, karena aktivitasnya di Lekra (salah satu organisasi onderbow PKI). Pak Ci kala itu sangat terkesan dengan lukisan Hendra. Sejak itu, Pak Ci seperti tergila-gila dengan lukisan Hendra. Dia terus menerus membeli lukisan karya Hendra. Saat itu, tak ada yang peduli dengan lukisan Hendra. Lukisan Hendra dianggap tak bernilai. Tapi, anggapan ini tak berlaku bagi Pak Ci. Intuisinya telah menuntunnya pada kesimpulan bahwa coretan kanvas Hendra berkualitas dan bernilai tinggi.
Terbukti, di kemudian hari, Hendra menjadi satu dari lima pelukis hebat di Indonesia. Kualitas lukisan-lukisannya diakui dunia. Salah satu lukisan Hendra, ada yang pernah laku hingga Rp 6 miliar. Hingga akhir hayatnya, Pak Ci berhasil mengoleksi sedikitnya 117 lukisan karya Hendra dan 18 sketsa Hendra. Konon, nilai karya seni rupa tersebut bernilai lebih dari Rp 2 triliun. Semua lukisan tersebut kini disimpan di Museum Ciputra.
Lukisan-lukisan Hendra benar-benar menginspirasi Pak Ci di kemudian hari. Pak Ci yang seorang arsitek lulusan ITB, selanjutnya merekayasa ulang lukisan Hendra untuk menghasilkan karya lain: patung. Dari aktivitasnya, semua mafhum, bahwa Pak Ci adalah seorang pecinta keindahan.
Ini lah yang menjelaskan, mengapa sedikitnya 130 properti yang digarap Ciputra selalu memiliki ornamen khas, berupa patung atau pun lukisan. Patung-patung itu, didesain sendiri oleh Pak Ci, sebelum akhirnya diserahkan pengerjaannya kepada timnya.
Ketajaman intuisi Pak Ci juga terlihat ketika dia mengelola rerimbunan semak dan lahan terbengkalai di Ancol. Lahan itu digarap dengan sangat serius oleh Pak Ci, meski saat itu banyak yang mencemoohnya. Kala itu, Pak Ci berani menawarkan skema bisnis kepada Pemprov DKI Jakarta sebagai pemilik lahan tersebut. Skema bisnisnya saat itu: Jika usaha membuka lahan itu rugi, Pak Ci yang akan menanggungnya. Tapi jika usaha itu menguntungkan, hasilnya dibagi dua.
Dengan skema bisnis seperti ini, tentu saja diterima oleh Pemprov DKI Jakarta, karena ada jaminan mereka tidak akan dirugikan.
Walhasil, kita semua tahu, bahwa upaya Pak Ci membangun kawasan Pantai Utara Jakarta itu akhirnya sukses besar. Kawasan iitu menjadi taman hiburan terbesar di Asia Tenggara. Dengan ketajaman intuisi Pak Ci, akhirnya berhasil mengubah kawasan yang sebelumnya terbengkalai itu menjadi tempat hiburan, sekaligus unit usaha yang menguntungkan.
Ini lah dahsyatnya kekuatan intuisi.
Saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Alden M. Hayashi, yang dimuat di Harvard Business Review, tempat Hayashi menjadi editor senior. Kata Hayashi, otak kita sebelah kiri merupakan pabrik pengolah informasi secara sadar, rasional, dan dipenuhi logika. Sedangkan otak kanan kita kebalikannya. Bagian otak kanan ini mengolah informasi secara bawah sadar, emosional, dan berdasarkan intuisi.
Banyak eksekutif yang menyadari keampuhan otak kanan ini. Mereka merangsang otak kanan lewat kegiatan relaks, seperti jogging, nggowes, mendengarkan musik, meditasi, atau bahkan melamun. Banyak di antara kita, misalnya, justeru mendapat ide-ide segar saat mandi. Saya sering dapat ide-ide bagus, (maaf), ketika sedang BAB (buang air besar).
Dengan melatih otak kanan secara teratur, kreativitas berpikir kita bertambah kaya. Fakta selanjutnya, Antonio R. Damasio, ahli saraf di Fakultas Kedokteran University of Iowa, Amerika Serikat, menemukan bahwa emosi erat hubungannya dengan intuisi kita saat mengambil keputusan. Misalnya, keputusan yang diambil saat kita sedang marah besar, cenderung meleset dari sasaran.
Faktor lainnya adalah pengalaman luas, yang mampu secara intuitif membuat kita melakukan cross-indexing terhadap berbagai masalah dan subjek. Dengan cara itu, keputusan yang kita ambil secara intuisi lebih baik struktur polanya.
Dengan menggabungkan faktor-faktor tersebut, kita bisa melatih menajamkan intuisi, membuatnya menjadi alat kreatif untuk mengambil keputusan.
Ayo, kita coba lakukan bersama-sama. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah