JP Radar Kediri – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) merupakan dua perguruan silat besar yang tumbuh dari akar ajaran yang sama, yakni aliran Setia Hati yang dirintis Eyang Suro di Madiun pada awal abad ke-20. Meski berasal dari satu sumber, keduanya berkembang menjadi organisasi yang berbeda secara filosofi, struktur, hingga sistem pelatihan.
PSHT didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922 dan resmi menggunakan nama Persaudaraan Setia Hati Terate sejak 1948. Sementara itu, PSHW terbentuk pada tahun 1966 oleh Raden Djimat Hendro Soewarno yang juga merupakan murid Eyang Suro. PSHW mengambil nama “Winongo” dari nama kampung tempat aliran ini berkembang.
Baca Juga: Sejarah Singkat PSHT: Warisan Eyang Suro yang Mendunia dari Tanah Madiun
Perbedaan paling mencolok terlihat dari sistem keanggotaan. Di PSHT, proses menjadi warga atau anggota sah harus melalui tahapan latihan selama kurang lebih dua tahun dan mengikuti ujian khusus. Sedangkan di PSHW, proses pengesahan dilakukan di awal keanggotaan dan tidak melalui jenjang latihan yang panjang.
Struktur organisasi juga berbeda. PSHT memiliki sistem jenjang yang melibatkan guru besar, pelatih, hingga siswa. Sebaliknya, PSHW menerapkan pendekatan yang lebih egaliter tanpa pembagian pelatih dan murid. Semua disebut sebagai “saudara se-asuhan”.
Ciri khas lain terletak pada seragam. Ikat sabuk di PSHT berada di sisi kiri, sedangkan di PSHW berada di sisi kanan, dengan warna kuning sebagai sabuk utama. Dari sisi teknik, PSHT dikenal dengan gerakan cepat dan pola kaki fleksibel, sementara PSHW mempertahankan gaya tradisional dengan tendangan yang lebih tegak dan kuda-kuda kokoh.
PSHT kini memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia dan luar negeri, sedangkan PSHW lebih fokus pada pengkaderan di pusat, yaitu di wilayah Winongo, Madiun.
Meskipun memiliki sejarah dan tujuan yang hampir serupa, kedua perguruan ini menempuh jalur berbeda dalam membina anggotanya. Keduanya kini menjadi bagian penting dalam perkembangan pencak silat di Indonesia.
Editor : Jauhar Yohanis