Sering Ambil Screenshot, Benarkah Bisa Bikin Informasi Lebih Mudah Terlupa?

Isna Febriani Nur Habibah • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:08 WIB
notifikasi screenshot di ponsel (pinterest)
notifikasi screenshot di ponsel (pinterest)

JP Radar Kediri – Mengambil screenshot sering menjadi cara praktis untuk menyimpan informasi dari ponsel. Namun, kebiasaan tersebut justru bisa berkaitan dengan kemampuan mengingat, terutama ketika tangkapan layar yang dibuat tidak pernah dilihat kembali.

Penelitian dari Binghamton University, New York, Amerika Serikat, yang berjudul Digital Amnesia: The Aftermath of a Screenshot, menemukan bahwa orang yang mengambil gambar dapat mengingat lebih sedikit dibandingkan mereka yang hanya melihat gambar tanpa mengambilnya. Fenomena tersebut dikenal sebagai photo-taking impairment effect.

Baca Juga: Pilih iPhone 17 atau iPhone 16 Pro Max? Ini yang Lebih Unggul

Screenshot Tidak Selalu Membantu Ingatan

Mengambil tangkapan layar sebenarnya dapat berguna sebagai pengingat. Masalahnya muncul ketika seseorang menyimpan informasi tersebut tetapi tidak pernah membukanya kembali.

Salah satu penulis penelitian, Sophia Fabrizio, menjelaskan bahwa gambar yang disimpan tidak banyak membantu ingatan apabila tidak ditinjau kembali secara aktif. Dengan kata lain, menyimpan informasi belum tentu sama dengan mengingatnya.

Dalam penelitian tersebut, mahasiswa diperlihatkan berbagai karya seni seperti foto, lukisan, dan sketsa. Sebagian gambar diminta untuk di-screenshot, sementara gambar lainnya hanya dilihat. Setelah itu, peserta diminta mengenali kembali karya yang sebelumnya mereka lihat.

Baca Juga: 11 Fitur Eksklusif Instagram Plus, dari Story Tahan 48 Jam sampai Mode Anonim

Baca Juga: TikTok Kini Bisa Dipakai Buat Telpon-Telponan, Ini Deretan Fitur Barunya

Hasilnya, peserta justru lebih sulit mengingat gambar yang mereka screenshot. Mereka juga lebih kecil kemungkinannya mengingat bahwa pernah mengambil tangkapan layar gambar tersebut.

Mengapa Bisa Terjadi?

Para peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan beberapa kemungkinan.

Pertama, perhatian dapat terbagi. Ketika mengambil screenshot, perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada informasi yang sedang dilihat sehingga sumber daya kognitif untuk membentuk ingatan ikut terbagi.

Kedua, ada konsep cognitive offloading. Seseorang dapat menjadi kurang terdorong untuk mengingat ketika mengetahui informasi tersebut sudah tersimpan di tempat lain, seperti galeri ponsel.

Ada pula teori attentional disengagement, yaitu kondisi ketika aktivitas mengambil gambar membuat seseorang secara tidak langsung berjarak dari pengalaman yang sedang berlangsung.

Lebih Baik Dicatat?

Para peneliti menyarankan menuliskan informasi yang ingin diingat dibandingkan hanya mengambil screenshot. Menulis tetap memiliki risiko cognitive offloading, tetapi proses tersebut membuat seseorang lebih aktif mengolah informasi.

Karena itu, untuk informasi yang benar-benar penting, seseorang dapat mencoba mencatat poin utamanya terlebih dahulu. Screenshot tetap bisa digunakan sebagai cadangan, tetapi jangan menganggap semua informasi yang tersimpan di ponsel otomatis akan tersimpan dalam ingatan.

Baca Juga: Mix and Match Kemeja Kotak-Kotak untuk Hijabers Kediri, Ini Yang Wajib Kamu Tiru!

Pada akhirnya, teknologi memang memudahkan kita menyimpan hampir semua hal. Namun, menyimpan informasi dan mengingat informasi merupakan dua proses yang berbeda.

Jadi, sebelum mengambil screenshot berikutnya, mungkin ada baiknya bertanya: informasi ini benar-benar ingin saya ingat, atau hanya ingin saya simpan?

Editor : Shinta Nurma Ababil
screenshot memori kebiasaan digital psikologi