JP Radar Kediri - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, media sosial pun juga berkembang kegunaannya.
Masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan informasi terbaru dari media sosial. Khususnya di Instagram, masyarakat sudah banyak memakai aplikasi ini untuk keperluan mencari informasi atau sekadar untuk hiburan saja.
Instagram biasanya digunakan masyarakat untuk memposting foto-foto estetik dan pencapaian dalam hidup sebagai branding pribadi.
Beberapa waktu belakangan ini, orang-orang, khususnya Generasi Z atau kaum muda, telah banyak membuat akun kedua di aplikasi Instagram. Fenomena ini disebut sebagai Second Account.
Second Account ini biasanya dibuat oleh Gen Z sebagai safe place dalam bersosial media.
Berbeda dengan akun pertama yang berisi pencapaian-pencapaian sebagai branding pribadi, akun kedua ini digunakan untuk mengekspresikan diri lebih bebas dan tidak memandang branding diri.
Baca Juga: Dari TikTok ke Layar Lebar, Tren Baru Influencer Jadi Aktor di Industri Hiburan
Akun kedua sebagai safe place yang dibuat ini bersifat privat, pengikut cenderung lebih sedikit karena pengikutnya adalah teman dekat, dan konten yang diunggah lebih spontan dan personal.
Alasan munculnya tren ini adalah untuk kebutuhan privasi dengan membatasi akses agar konten yang diunggah hanya bisa dilihat oleh keluarga atau teman-teman terdekat.
Selain itu, second account juga digunakan sebagai tempat curhat, memposting foto santai (dump) tanpa memikirkan likes dan komentar dari orang yang tidak dikenal.
Karena biasanya orang-orang takut dihakimi dan adanya tekanan untuk menjadi sempurna, maka second account ini adalah jawaban dari keresahan tersebut.
Di sisi lain, yang terjadi di akun kedua umumnya bersifat lebih personal dan setiap konten yang diunggah hanya akan dilihat oleh orang terdekat yang dipercaya oleh pemilik akun.
Hal ini memungkinkan untuk menciptakan ruang komunikasi yang lebih terbuka serta saling memberikan dukungan.
Untuk sebagian orang, membagikan cerita di akun kedua ini merupakan aktivitas yang bisa meredakan stres, karena biasanya orang terdekat akan mendukung dan memberi semangat ketika pengguna akun menceritakan keluh kesahnya.
Meskipun memberikan rasa aman, penggunaan akun kedua juga perlu diperhatikan risiko yang akan terjadi.
Baca Juga: 10+ Cara Menambah Followers Instagram Gratis dan Organik, Bisa Dapat Ribuan Dalam Sepekan!
Rasa nyaman yang muncul ketika berbagi cerita di akun kedua akan membuat pengguna berbagi informasi pribadi secara berlebihan (oversharing), sehingga pengguna mungkin akan menyesal ketika terlanjur bercerita terlalu banyak di media sosial.
Selain itu, jika pengguna sering berbagi cerita akan memunculkan ketergantungan pada validasi yang diberikan oleh pengikut.
Pengguna akan mulai mengharapkan respons setiap kali mengunggah cerita keluh kesah berupa komentar, likes, atau tanggapan dari teman-temannya.
Jika harapan tersebut tidak terpenuhi, akan memengaruhi suasana hati dan muncul perasaan kurang puas.
Maka dari itu, meskipun penggunaan akun kedua ini bisa menjadi media mengekspresikan diri, pengguna tetap perlu menyadari bahwa tidak semua permasalahan harus dibagikan secara cuma-cuma di media sosial.
Masih perlu pemilahan untuk penggunaan akun kedua ini. Jika memiliki permasalahan emosional yang berkepanjangan, bisa bercerita langsung kepada teman dekat atau keluarga agar perasaan yang bermasalah bisa diatasi tanpa perlu ketergantungan pada respons pengikut media sosial.
Penulis : Ulyatul Ula
Universitas Nusantara PGRI Kediri
Editor : Shinta Nurma Ababil