JP Radar Kediri – Fenomena childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak dalam pernikahan kini semakin banyak diperbincangkan di masyarakat.
Jika dulu memiliki anak dianggap sebagai tujuan utama dalam berumah tangga, kini sebagian orang mulai melihatnya sebagai pilihan, bukan kewajiban.
Perubahan ini tidak lepas dari pergeseran nilai sosial, meningkatnya kesadaran individu terhadap kualitas hidup, serta berbagai faktor lain yang memengaruhi cara pandang generasi modern terhadap keluarga.
Secara pengertian, childfree merupakan keputusan sadar seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak, baik dalam jangka waktu tertentu maupun seumur hidup.
Hal ini berbeda dengan kondisi tidak memiliki anak karena faktor biologis atau medis. Dalam konteks childfree, keputusan tersebut diambil secara sukarela dengan berbagai pertimbangan yang matang.
Alasan Seseorang Memilih untuk Childfree
1. Faktor Finansial
Biaya hidup yang semakin tinggi membuat banyak pasangan mempertimbangkan ulang untuk memiliki anak.
Mulai dari biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari menjadi beban jangka panjang.
2. Fokus pada Karier dan Pengembangan Diri
Sebagian orang ingin lebih fokus pada karier, pendidikan, atau pencapaian pribadi tanpa tanggung jawab besar sebagai orang tua.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Memilih Diam? Fenomena Silent Majority
3. Kesehatan Mental dan Fisik
Kondisi psikologis seperti trauma masa lalu atau kekhawatiran tidak mampu menjadi orang tua yang baik juga menjadi alasan penting.
4. Gaya Hidup dan Kebebasan
Ada pasangan yang ingin menikmati kehidupan berdua tanpa komitmen mengasuh anak, sehingga merasa lebih bebas dalam menentukan gaya hidup.
5. Nilai dan Keyakinan Pribadi
Nilai hidup, pandangan terhadap dunia, hingga kekhawatiran terhadap masa depan (lingkungan, sosial) juga memengaruhi keputusan ini.
Baca Juga: Fenomena Curhat ke AI di Kalangan Anak Muda, Apa Alasannya?
Meski demikian, fenomena childfree tidak lepas dari berbagai tantangan sosial. Di masyarakat tradisional, pasangan childfree sering kali dicap negatif karena dianggap menyalahi kodrat atau tradisi.
Mereka sering dianggap egois, tidak normal, atau bahkan menyalahi kodrat. Keluarga juga menjadi tekanan besar karena budaya tradisional menganggap anak sebagai simbol kebahagiaan dan penerus garis keturunan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pola pikir masyarakat mulai berubah, penerimaan terhadap childfree masih belum merata.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil