Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sering Merasa Bersalah Kalau Nggak Sibuk? Hati-hati Terjebak Toxic Hustle Culture!

Dita Citra Oktaviana • Senin, 30 Maret 2026 | 18:30 WIB
Hustle Culture
Hustle Culture

JP Radar Kediri - Di era sekarang, sibuk biasanya dianggap sebagai simbol kesuksesan. Semakin padat jadwal seseorang, semakin keren ia terlihat. Fenomena inilah yang dikenal sebagai hustle culture.

Dilansir dari Alodokter, hustle culture adalah gambaran kehidupan orang yang terobsesi dengan pekerjaannya. 

Gaya hidup ini mendorong seseorang untuk terus bekerja keras bahkan sampai melampaui batas kemampuan diri, tanpa memberi ruang untuk istirahat atau kehidupan pribadi.

Masalahnya, banyak orang tidak sadar bahwa mereka sudah terjebak di dalamnya. Sibuk dianggap normal, bahkan menjadi standar untuk menilai seberapa berharga seseorang.

Baca Juga: Post Holiday Blues Itu Nyata! Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ciri-Ciri Hustle Culture yang Sering Tidak Disadari

Kalau dilihat sekilas, semua ini tampak seperti kerja keras biasa. Tapi sebenarnya ada pola yang lebih dalam. Ada beberapa tanda seseorang terjebak dalam hustle culture antara lain sebagai berikut.

  1. Terus memikirkan pekerjaan, bahkan di luar jam kerja
  2. Mengorbankan waktu tidur demi menyelesaikan tugas
  3. Merasa bersalah saat tidak produktif
  4. Terobsesi dengan kesuksesan
  5. Tidak punya keseimbangan hidup (work-life balance)

Baca Juga: Kenapa Habis Lebaran Malah Ngerasa Kosong? Ini Penjelasan Psikologinya

Kenapa Hustle Culture Bisa Terjadi?

Fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan didorong oleh kombinasi faktor psikologis dan sosial yang saling berkaitan. 

Hal ini dapat berawal dari kebiasaan perbandingan sosial saat melihat pencapaian orang lain di media sosial, yang kemudian memicu fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal dari tren maupun kesuksesan orang lain. 

Kondisi ini diperparah oleh standar sukses yang sempit, di mana keberhasilan hanya diukur dari seberapa sibuk seseorang dan seberapa besar materi yang dihasilkan. 

Ditambah dengan sifat perfeksionisme yang menuntut seseorang untuk selalu menjadi lebih baik, dorongan untuk mencapai status tertentu pun menjadi tak terkendali, hingga akhirnya membuat seseorang terjebak dalam pola kerja tanpa henti.

Baca Juga: Diabetes Melitus dan Kolestrol Mengintai, Ini Tips dan Trik Yang Harus Dilakukan Masyarakat!

Dampak Hustle Culture, Produktif atau Justru Merusak?

Meskipun pada awalnya hustle culture tampak seperti jalan pintas menuju produktivitas, dalam jangka panjang fenomena ini justru memberikan dampak yang kontraproduktif. 

Tekanan yang terus-menerus dapat memicu burnout, yakni kelelahan fisik dan mental yang hebat, yang dapat berlanjut pada gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, bahkan depresi. 

Selain merusak kesehatan mental, kebiasaan ini juga menyebabkan penurunan kesehatan fisik secara signifikan, yang ironisnya justru membuat produktivitas menurun drastis akibat kelelahan kronis. 

Bahkan, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa jam kerja yang berlebihan berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit serius yang mengancam nyawa, seperti penyakit jantung dan stroke.

Baca Juga: Sering Disebut “Silent Killer”, Waspadai Sinyal Tubuh dan Faktor Risiko Kanker Ginjal

Cara Menyikapi Hustle Culture

Kalau kamu merasa mulai terjebak, beberapa hal ini bisa kamu lakukan.

  1. Tetapkan batas waktu kerja yang jelas
  2. Prioritaskan istirahat tanpa rasa bersalah
  3. Fokus pada kualitas kerja, bukan sekadar sibuk
  4. Kurangi kebiasaan membandingkan diri
  5. Dengarkan sinyal tubuh (lelah, stres, burnout)

Baca Juga: Bukan Manja! Ternyata Ini Alasan Medis Mengapa Menstruasi Terasa Sangat Menyakitkan bagi Remaja

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#kerja produktif #hustle culture #toxic hustle culture #gila kerja #merasa bersalah saat tidak sibuk #obsesi dengan pekerjaan #obsesi dengan kerja #obsesi kerja #kerja keras #produktif