JP Radar Kediri- Pembahasan soal kecocokan jodoh berdasarkan shio kerap mencuat menjelang Tahun Baru Imlek. Tidak sedikit pasangan yang penasaran, apakah hubungan mereka termasuk harmonis menurut hitungan shio.
Sebagian keluarga Tionghoa bahkan masih mempertimbangkan kecocokan shio sebelum pernikahan. Tujuannya, mencari hubungan yang diyakini lebih selaras dan minim konflik.
Namun, di era modern, pertanyaannya muncul: apakah kecocokan shio benar-benar berpengaruh pada hubungan, atau sekadar mitos budaya?
Dari Tradisi Turun-Temurun
Kepercayaan tentang kecocokan shio berakar dari astrologi Tionghoa kuno. Dalam sistem ini, tiap shio diyakini memiliki karakter dasar tertentu. Kecocokan dinilai dari harmoni karakter tersebut.
Misalnya, shio yang dianggap saling melengkapi dipercaya lebih mudah membangun hubungan stabil. Sebaliknya, beberapa kombinasi dinilai rawan gesekan karena perbedaan sifat.
Tradisi ini dahulu sering dipakai sebagai pertimbangan dalam perjodohan. Terutama untuk memastikan kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Tidak Hitam Putih
Meski demikian, kecocokan shio tidak bersifat hitam putih. Astrologi Tionghoa juga mengenal unsur elemen—kayu, api, tanah, logam, dan air—yang memengaruhi karakter seseorang.
Artinya, dua orang dengan shio yang sama belum tentu memiliki sifat identik. Banyak faktor lain yang ikut berperan.
Karena itu, praktisi budaya Tionghoa sendiri kerap menekankan bahwa hitungan shio hanya salah satu pertimbangan, bukan penentu utama.
Lebih Dekat ke Refleksi
Di masa kini, banyak pasangan memandang kecocokan shio sebagai bahan refleksi. Jika disebut kurang cocok, itu dijadikan pengingat untuk lebih saling memahami.
Sebaliknya, jika dinilai cocok, itu dianggap sebagai motivasi menjaga hubungan.
Pendekatan ini dinilai lebih relevan di tengah pola hubungan modern yang menekankan komunikasi dan komitmen.
Baca Juga: Sambut Imlek: Cari Tahu Urutan dan Makna 12 Shio Berdasarkan Legenda Kuno
Faktor Nyata dalam Hubungan
Psikolog hubungan menilai keharmonisan pasangan lebih dipengaruhi komunikasi, nilai hidup, dan cara menyelesaikan konflik. Faktor-faktor ini bersifat nyata dan bisa diupayakan.
Shio, di sisi lain, berada di ranah kepercayaan dan budaya. Ia bisa menjadi warna dalam hubungan, tetapi tidak menggantikan usaha kedua pihak.
Antara Budaya dan Keyakinan
Kecocokan jodoh berdasarkan shio pada akhirnya kembali pada cara pandang masing-masing. Bagi sebagian orang, itu bagian dari tradisi keluarga. Bagi yang lain, sekadar hiburan.
Yang jelas, hubungan tidak dibangun oleh ramalan semata. Kecocokan tumbuh dari saling percaya, menghargai, dan komitmen jangka panjang.
Maka, percaya boleh saja. Namun, keputusan tetap ada di tangan pasangan itu sendiri. Karena jodoh bukan hanya soal hitungan shio, tetapi juga usaha menjaga hubungan setiap hari.
Editor : rekian