Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Deteksi Diri atau Menyesatkan Diri? Risiko Self-Diagnose yang Jarang Disadari

Internship Radar Kediri • Rabu, 4 Juni 2025 | 02:00 WIB
Iustrasi seseorang self diagnose
Iustrasi seseorang self diagnose

Kediri, JP Radar Kediri - Di era digital seperti sekarang, mencari informasi soal Kesehatan termasuk kesehatan mental jadi jauh lebih mudah. Cukup ketik gejala di mesin pencari atau tonton satu-dua video di media sosial, tiba-tiba kita merasa punya “jawaban” atas apa yang sedang dirasakan. Fenomena ini dikenal sebagai self-diagnose, atau mendiagnosis diri sendiri tanpa konsultasi ke tenaga profesional.

Tapi sebenarnya, self-diagnose ini membantu atau justru berbahaya?

Apa Itu Self-Diagnose?

Self-diagnose terjadi saat seseorang menyimpulkan kondisi kesehatannya sendiri hanya berdasarkan informasi yang ditemukan di internet, media sosial, atau pengalaman orang lain. Contohnya, merasa sedih berhari-hari lalu langsung mengira diri mengalami depresi hanya karena gejalanya mirip dengan yang dijelaskan di konten TikTok atau thread X (Twitter).

Kenapa Banyak Orang Melakukannya?

Ada beberapa alasan kenapa self-diagnose makin umum, terutama di kalangan anak muda:

Sisi Positif Self-Diagnose

Walaupun bukan pengganti konsultasi medis, self-diagnose bisa membawa dampak positif jika dilakukan secara bijak:

Risiko dan Bahayanya

Namun, tetap ada risiko besar jika self-diagnose dilakukan tanpa pendampingan yang tepat:

Lalu, Apa Solusinya?

  1. Gunakan informasi hanya sebagai referensi awal. Internet boleh jadi alat bantu, tapi jangan dijadikan satu-satunya rujukan.
  2. Konsultasikan dengan tenaga profesional. Psikolog, psikiater, atau dokter memiliki metode diagnosa yang akurat dan menyeluruh.
  3. Jangan buru-buru melabeli diri. Validasi perasaan itu penting, tapi jangan langsung menyimpulkan kondisi.
  4. Berdayakan diri dengan edukasi yang benar. Ikuti akun atau platform yang memang dikelola oleh profesional kesehatan.

Self-diagnose di internet bukan sepenuhnya salah, tapi harus dilakukan dengan penuh kesadaran. Ia bisa menjadi pintu awal menuju pemahaman diri, namun juga bisa menjadi jebakan jika dilakukan tanpa kehati-hatian. Tetap kritis dalam menyerap informasi, dan jangan ragu meminta bantuan ahli. Karena Kesehatan baik fisik maupun mental bukan soal menebak-nebak, tapi soal dirawat dengan tepat.

Penulis : Annin Firnanda 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#self diagnose #kesehatan mental #influencer #psikiater #adhd