JP Radar Nganjuk- Dalam kehidupan satwa liar, gajah dikenal sebagai hewan sosial yang hidup berkelompok dan memiliki ikatan keluarga yang sangat kuat.
Terutama antara induk gajah dan anaknya, hubungan yang terjalin bukan hanya didasarkan pada naluri alamiah, tetapi juga pada kedekatan emosional yang mendalam.
Fenomena yang kerap menarik perhatian adalah bagaimana gajah bereaksi ketika anggota keluarganya, terutama anaknya saat sakit atau meninggal.
Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, ketika video seekor gajah di Malaysia tetap diam dan enggan dipindahkan dari anaknya yang mati tertabrak truk.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ikatan atau bonding antara induk gajah dengan anaknya sangatlah kuat. Beberapa faktor seperti lama masa kehamilan, proses menyusui, dan pola hidup berkelompok menjadi alasan terjalinnya ikatan tersebut.
Baca Juga: Viral Anak Gajah Tewas Tertabrak Truk, Sang Induk Bergeming Tak Mau Pergi Selama Lima Jam
Faktor yang Menyebabkan Ikatan Induk dan Anak Gajah sangat Kuat
Mamalia dengan Masa Kehamilan Terlama
Gajah adalah hewan mamalia dengan masa kehamilan paling lama. Tercatat bahwa gajah Asia memiliki masa kehamilan 21 bulan, sedangkan gajah Afrika 22 bulan.
Saat lahir, bayi gajah memiliki berat sekitar 80 hingga 120 kg, tetapi masih sangat lemah dan bergantung sepenuhnya pada induknya.
Proses Menyusui Selama Bertahun-tahun
Meskipun anak gajah sudah mulai makan dedaunan di usia 6 bulan, akan tetapi proses menyusui induk gajah dengan anaknya berlangsung lebih dari tiga tahun dan ikatan yang terjalin dapat bertahan seumur hidup.
ASI induk gajah mengandung nutrisi penting untuk pertumbuhan tulang dan perkembangan sistem kekebalan tubuh anaknya.
Baca Juga: Iguana Hias: Reptil Eksotis yang Sedang Naik Daun, Cocok Buat Pecinta Hewan Unik
Bergantung Penuh dengan Induk
Gajah Asia dan Afrika hidup hidup berkelompok dengan dipimpin oleh betina tertua. Mereka saling menjaga dan merawat antar anggota kelompok. Akan tetapi, induk gajah tetap memiliki peran utama dalam membesarkan anaknya.
Sejak hari pertama kelahiran, anak gajah tidak bisa bertahan hidup sendiri. Ia membutuhkan perlindungan, asupan susu, dan bimbingan dari induknya.
Induk gajah akan membimbing anaknya belajar berjalan, menemukan sumber air, dan mengenali anggota kawanan. Ketika bayi gajah menangis, sang induk akan menenangkan dengan menyentuhkan belalainya untuk menenangkan.
Perilaku saat Anaknya Meninggal
Karena memiliki bonding yang kuat, gajah memiliki reaksi khusus yang menunjukkan duka dan kesedihan saat anaknya meninggal.
Gajah akan tetap berada di sisi anaknya yang sudah mati, kemudian menyentuh tubuhnya dengan belalai untuk mencoba ‘membangunkannya’.
Induk gajah juga dapat mengalami trauma kehilangan yang berpengaruh jangka panjang. Seperti menjadi lebih pendiam, tidak mau makan, dan menarik diri dari kelompoknya. Reaksi kesedihan tersebut selama ini diyakini hanya dirasakan oleh manusia dan sedikit spesies mamalia.
Editor : Jauhar Yohanis