Mendengar kata ular berbisa, banyak orang di Indonesia mungkin langsung teringat pada kobra. Namun, ada jenis ular lain yang tak kalah mematikan dan terkadang tanpa sengaja masuk ke lingkungan rumah, yaitu ular weling dan ular welang.
Keduanya memiliki corak belang hitam putih yang khas, membuat masyarakat awam sering kali menganggap mereka adalah satu jenis ular yang sama. Padahal, jika kita perhatikan lebih saksama, ada beberapa perbedaan mencolok antara keduanya yang sangat penting untuk diketahui demi keselamatan.
Secara taksonomi, ular weling (Bungarus candidus) dan ular welang (Bungarus fasciatus) memang berasal dari silsilah keluarga yang sama. Keduanya tergabung dalam genus Bungarus, sebuah kelompok ular berbisa yang terkenal dengan senjata mematikan berupa racun neurotoksin tingkat tinggi.
Bisa ini menyerang sistem saraf secara diam-diam, dan dampaknya sangat fatal jika korban tidak segera mendapatkan penanganan medis. Oleh karena itu, mengenali identitas mereka di alam liar atau di sekitar pekarangan menjadi langkah antisipasi yang tidak boleh disepelekan.
Baca Juga: Ular Picung, Berbisa Tinggi yang Mematikan Sekaligus Beracun
Perbedaan ular weling dan welang yang paling mudah diamati dari kejauhan adalah pola belang pada tubuhnya. Pada ular welang, belang hitam dan putih (atau terkadang kuning kehitaman) melingkar secara penuh menutupi seluruh tubuhnya, bagaikan cincin yang tidak terputus.
Pola ini terlihat sangat jelas dan konsisten mengelilingi badannya. Mulai dari bagian punggung terus menyambung hingga ke bagian bawah atau perutnya.
Berbeda ceritanya kalau kita menjumpai ular weling. Cincin atau belang hitam putih pada ular weling ternyata tidak melingkar penuh secara utuh.
Jika ular ini bergerak membalik atau kita berkesempatan mengintip bagian bawah tubuhnya, kita akan mendapati bahwa perut ular weling berwarna putih polos tanpa ada corak belang sama sekali. Bagian perut yang bersih ini adalah salah satu kunci utama untuk membedakan keduanya secara visual tanpa harus mendekat.
Baca Juga: Ramalan Shio Ular Pekan Ini: Keuangan dan Asmara Moncer, tapi Awas "Mriyang" Pancaroba!
Selain dari corak tubuh bagian bawah, bentuk kepala juga bisa menjadi petunjuk penting bagi mereka yang cukup jeli. Ular weling terlahir dengan bentuk kepala yang cenderung lonjong atau membulat, dan seolah menyatu begitu saja dengan bagian lehernya tanpa ada batas yang tegas.
Bagian atas kepalanya juga biasanya berwarna hitam polos. Merata hingga memanjang ke area leher.
Sebaliknya, sang kerabat yaitu ular welang memiliki bentuk kepala yang agak melebar dan menyerupai bentuk segitiga, sehingga terlihat lebih memisah dari bagian lehernya.
Ciri khas lain yang sangat ikonik pada kepala ular welang adalah adanya corak berwarna cerah yang membentuk pola seperti huruf "V" terbalik tepat di bagian atas kepalanya. Tanda unik ini ibarat sebuah mahkota alam yang membedakannya dari saudaranya yang berkepala polos.
Kalau kita mengalihkan pandangan ke bagian paling belakang dari tubuh mereka, ada perbedaan fisik yang mungkin akan membuat kita terkejut. Perhatikanlah bentuk ujung ekornya, karena di sinilah letak perbedaan yang sangat signifikan.
Ular weling memiliki bentuk ujung ekor yang mengecil dan meruncing atau lancip. Persis layaknya anatomi ekor ular pada umumnya yang biasa kita lihat.
Baca Juga: Sanca Batu Afrika, Ular Terbesar di Afrika yang Galak dan Bukan untuk Diremehkan
Sementara itu, ular welang justru memiliki ujung ekor yang berbentuk tumpul. Bentuk ekor yang aneh dan tidak biasa ini terkadang membuat ujung belakang ular welang sekilas terlihat menyerupai bagian kepalanya jika hanya dipandang sekilas dari jarak jauh.
Menurut beberapa ahli, hal ini sering kali sukses mengecoh pemangsa alami. Bahkan manusia yang kurang waspada terhadap pergerakan mereka pun bisa jadi korban.
Perbedaan fisik selanjutnya terletak pada struktur sisik dan bentuk penampang tubuh secara keseluruhan. Tubuh ular welang tidak bulat memanjang, melainkan terlihat memiliki sudut tajam di bagian atas karena sisik punggung tengahnya (vertebral) berukuran sangat besar dan menonjol, membentuk penampang tubuh segitiga.
Di sisi lain, ular weling memiliki sisik punggung berukuran normal. Sehingga bentuk badannya tampak lebih membulat silindris seperti selang air.
Dari segi dimensi ukuran, ular welang bisa dibilang sebagai "kakak besar" dalam keluarga genus ini. Ular welang dewasa mampu tumbuh cukup panjang dan berbadan besar, bahkan rekornya bisa mencapai ukuran sekitar 1,8 hingga lebih dari 2 meter di alam liar.
Berbeda dengan ular weling yang memiliki perawakan jauh lebih ramping dengan ukuran yang rata-rata lebih pendek. Umumnya hanya tumbuh dengan panjang maksimal di kisaran 1,5 meter saja.
Meskipun secara perawakan fisik memiliki segudang perbedaan, sifat dasar dan perilaku kedua reptil ini ternyata sangat mirip. Keduanya adalah pemburu nokturnal yang sangat aktif mencari mangsa di malam hari dan akan cenderung pasif, pemalu, atau lamban di siang bolong.
Mereka sangat menyukai area yang bersuhu lembap, bersembunyi di dekat sumber air, area persawahan, tumpukan kayu, atau semak-semak rimbun tempat katak dan tikus biasa bersarang.
Baca Juga: Damkar Kabupaten Kediri Amankan Ular di Rumah Warga Ngadiluwih
Memahami dan mengenali perbedaan antara ular weling dan welang bukan sekadar untuk menambah wawasan fauna, tapi juga merupakan bentuk kesiapsiagaan diri yang nyata. Gigitan kedua ular ini dikenal tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti, sering kali hanya terasa seperti gigitan semut, namun justru di situlah letak bahayanya karena korban sering tidak sadar nyawanya terancam.
Jika Anda suatu saat berpapasan dengan salah satu dari mereka, jangan pernah mencoba menangkap atau mengusirnya sendiri. Segeralah memanggil ahli reptil atau petugas pemadam kebakaran untuk melakukan evakuasi yang aman. (*)
Editor : Mahfud