JP Radar Kediri - Burung Sribombok atau ruak-ruak sudah lama menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat Indonesia. Suaranya yang khas di malam hari membuat burung ini lekat dengan berbagai mitos turun-temurun.
Meski tidak memiliki dasar ilmiah, mitos-mitos ini tetap hidup dan menjadi cerminan kekayaan budaya lokal. Berikut delapan mitos menarik tentang burung Sribombok yang masih dipercaya hingga hari ini.
Baca Juga: Mitos Burung Kedasih: Benarkah Tanda Kematian, Sial, dan Hal Mistis?
1. Ibu Hamil dan Kecantikan Bayi
Mitos paling populer tentang Sribombok adalah kepercayaan bahwa ibu hamil yang memakan dagingnya akan melahirkan anak yang cantik atau tampan. Daging burung ini diyakini memiliki "aura" khusus yang memengaruhi penampilan fisik bayi dalam kandungan.
Kepercayaan ini lebih bersifat simbolis dan mencerminkan harapan orang tua terhadap sang buah hati. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut hingga saat ini.
Baca Juga: Delapan Jenis Burung Jalak yang Ada Di Indonesia
2. Pertanda Datangnya Keberuntungan
Sebagian masyarakat percaya bahwa mendengar suara Sribombok di malam hari adalah pertanda akan datangnya rezeki. Suara "ruak-ruak" diartikan sebagai pesan dari alam bahwa sesuatu yang baik sedang dalam perjalanan.
Oleh karena itu, banyak orang justru merasa senang jika burung ini sering terdengar di sekitar rumah. Bagi mereka, kehadiran Sribombok adalah tanda bahwa rumah tangga sedang dilimpahi berkah.
Baca Juga: Mudik Tenang, Burung Kesayangan Tetap Senang
3. Pertanda Kabar Duka atau Kematian
Di sisi lain, ada pula yang meyakini suara Sribombok sebagai pertanda buruk. Bunyi khasnya di malam hari dianggap sebagai isyarat akan datangnya kabar duka atau kematian seseorang di sekitar lingkungan.
Mitos ini menempatkan Sribombok sejajar dengan burung hantu yang identik dengan hal-hal mistis. Kepercayaan ini membuat sebagian orang merasa waswas setiap kali mendengar suaranya.
Baca Juga: Bukan Migrasi Burung Biasa, Inilah Rahasia di Balik Pola Terbang Si Pipit Hitam yang Menakjubkan
4. Ritual Berburu dengan Sapung
Sribombok juga berkaitan erat dengan tradisi berburu menggunakan alat tiup bambu bernama sapung. Pembuatan sapung tidak boleh sembarangan, bambu harus dipotong pada waktu tertentu agar efektif memanggil burung.
Jika aturan ini dilanggar, dipercaya yang datang bukan burung biasa melainkan makhluk gaib. Ritual ini menjadikan perburuan Sribombok bukan sekadar mencari makan, tapi juga sarat makna spiritual.
5. Hubungan dengan Dunia Gaib
Beberapa cerita rakyat menyebutkan bahwa Sribombok bukan makhluk biasa, melainkan utusan dari alam gaib. Burung ini dianggap turun ke bumi untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada manusia.
Ada pula yang percaya suaranya adalah panggilan dari roh leluhur yang ingin berkomunikasi. Kepercayaan ini menjadikan Sribombok sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia roh.
6. Penolak Bala
Di beberapa daerah, daging Sribombok dipercaya mampu menangkal bala dan mengusir energi negatif. Dagingnya kadang digunakan dalam ritual tertentu sebagai perlindungan dari gangguan roh jahat.
Praktik ini memang kini semakin jarang ditemukan seiring berkembangnya zaman. Namun, kepercayaan terhadap kekuatan mistis burung ini masih bertahan di kalangan masyarakat tradisional tertentu.
7. Simbol Kesuburan
Sribombok juga dipandang sebagai simbol kesuburan dalam sejumlah budaya lokal. Suaranya yang nyaring diyakini membawa energi positif yang mempererat harmoni rumah tangga.
Bagi pasangan yang mendambakan keturunan, kehadiran burung ini dianggap sebagai pertanda baik. Kepercayaan ini menempatkan Sribombok sebagai simbol harapan dan kelangsungan kehidupan keluarga.
8. Warisan Budaya yang Layak Dijaga
Terlepas dari benar tidaknya semua mitos ini, kepercayaan terhadap Sribombok mencerminkan cara pandang masyarakat Indonesia dalam melihat alam sebagai bagian dari kehidupan spiritual. Burung ini bukan sekadar hewan liar, melainkan simbol yang mewakili berbagai dimensi kehidupan manusia.
Meski zaman terus berubah, cerita tentang Sribombok tetap menjadi bagian menarik dari warisan budaya Nusantara. Melestarikan pengetahuan tentang mitos ini sama artinya dengan menjaga salah satu cermin identitas budaya lokal kita.
Baca Juga: Mengenal Trinil Semak, Burung Migran yang Singgah di Wilayah Kediri
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil