Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kenapa Menikah di Bulan Suro Dianggap Pantangan? Ini Alasannya!

Ilmidza Amalia Nadzira • Kamis, 26 Juni 2025 | 20:53 WIB

Pantangan menikah di bulan Suro.
Pantangan menikah di bulan Suro.
JP Radar Kediri - Di tengah masyarakat yang semakin modern, kepercayaan terhadap tradisi lama masih bertahan kuat, terutama di wilayah Jawa, termasuk Kediri dan sekitarnya.

Salah satu tradisi yang masih dipegang hingga saat ini adalah pantangan menikah di Bulan Suro.

Bulan Suro yang bertepatan dengan Muharram dalam kalender Hijriah bukan sekadar bulan biasa dalam budaya Jawa.

Bulan ini dianggap sakral, penuh aura mistis, dan menjadi waktu yang dipercaya sebagai momen untuk menyepi dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.

Karena itu, perayaan atau pesta besar seperti pernikahan dianggap tidak selaras dengan nuansa spiritual Bulan Suro.

Baca Juga: Malam 1 Suro Segera Tiba, Ini Amalan dan Doa yang Dianjurkan untuk Tolak Bala dan Mohon Keselamatan

Tak sedikit warga yang rela menunda hari bahagia demi menghormati tradisi ini. Bahkan, banyak calon pengantin yang sudah menetapkan tanggal akhirnya memilih untuk menggeser jadwal ke bulan berikutnya.

Bukan karena tidak percaya diri, tetapi karena ingin menjaga keharmonisan dengan keluarga besar dan lingkungan yang masih sangat menjunjung nilai adat.

Bulan Suro: Waktu Menyepi, Bukan Pesta

Dalam pandangan masyarakat Jawa, Bulan Suro adalah saat untuk mengheningkan cipta, melakukan perenungan diri, serta menjalani laku batin seperti tirakat, doa tolak bala, dan ziarah ke makam leluhur.

Kegiatan-kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan dalam menjalani tahun baru Jawa.

Baca Juga: Lahir Weton Pahing? Waspada di Bulan Suro! Bisa Dapat Rezeki Ngalir Deras atau Justru Kena Gangguan Gaib

Karena sifatnya yang khusyuk dan hening, Suro dianggap bukan bulan yang cocok untuk melakukan hajat besar yang penuh suka cita, seperti pernikahan.

Menikah di bulan ini diyakini dapat menimbulkan ketidakharmonisan, baik dalam rumah tangga itu sendiri maupun secara sosial di tengah masyarakat.

Di beberapa daerah, orang tua bahkan masih meyakini bahwa menikah di Bulan Suro bisa membawa hal-hal buruk, seperti sulit mendapat keturunan, sering terjadi konflik dalam rumah tangga, bahkan perceraian.

Meski tidak semua percaya secara mutlak, kekhawatiran ini membuat banyak pasangan memilih menunggu hingga Suro berlalu.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Perubahan

Meskipun tidak ada larangan resmi dari pemerintah atau ajaran agama yang mengharamkan menikah di Bulan Suro, namun kepercayaan lokal ini sudah menjadi bagian dari budaya turun-temurun.

Dalam praktiknya, warga lebih memilih untuk menghormati dan menjaga tradisi, apalagi jika berkaitan dengan acara besar seperti pernikahan.

Baca Juga: Malam 1 Suro 2025 Jatuh di Malam Jumat Kliwon, Begini Mitos dan Tradisi yang Masih Dilestarikan

Sebagian generasi muda memang mulai bersikap lebih terbuka, namun pada akhirnya banyak yang tetap menyesuaikan keputusan dengan restu orang tua dan keluarga besar.

Karena di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi harmoni, menghargai adat sering kali lebih penting daripada memaksakan kehendak pribadi.

Menunda pernikahan dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu dan suasana yang dianggap sakral.

Sebagian warga bahkan menyebutnya sebagai bentuk "eling lan waspada", yakni sikap hati-hati dalam memilih waktu terbaik untuk memulai kehidupan baru.

Menunggu Bulan Baik, Demi Awal yang Lebih Berkah

Tak jarang, pasangan calon pengantin lebih memilih mencari “bulan baik” atau hari pasaran yang diyakini membawa keberuntungan.

Setelah Bulan Suro, biasanya mereka langsung mengincar bulan yang lebih “ringan” seperti Bulan Sapar atau Rabiul Awal, yang dinilai lebih cocok untuk menggelar hajatan.

Baca Juga: Weton Tulang Wangi, Lahir dengan Aura Gaib? Ini Ciri-ciri dan Pengaruhnya Saat Malam 1 Suro

Tradisi seperti ini memang tidak bisa dipaksakan untuk diterima semua orang. Namun di wilayah yang masih kuat akar budayanya seperti Kediri, Tulungagung, Blitar, hingga Trenggalek, kepercayaan ini tetap menjadi pertimbangan penting dalam setiap rencana pernikahan.

 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#Bulan Suro 2025 #malam 1 suro 2025 kapan #larangan menikah