Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kala Opium Jadi Candu Masyarakat Kediri di Abad ke-19, Dahulu Banyak Melibatkan Masyarakat Tionghoa

Redaksi Radar Kediri • Selasa, 24 Juni 2025 | 18:47 WIB
Kala Opium Jadi Candu Masyarakat Kediri di Abad ke-19, Dahulu Banyak Melibatkan Masyarakat Tionghoa
Kala Opium Jadi Candu Masyarakat Kediri di Abad ke-19, Dahulu Banyak Melibatkan Masyarakat Tionghoa

JP Radar Kediri- Menikmati opium atau candu pernah menjadi bagian dari gaya hidup warga Kediri pada abad ke-19. Saat itu, orang-orang akan datang ke tempat-tempat umum yang memang dibuka khusus untuk menyantap candu.

Kebiasaan ini banyak dilakukan oleh kalangan bawah, seperti pedagang kecil, buruh, dan tukang. Berbeda dengan kaum priyayi dan Tionghoa kaya yang menikmatinya dengan cara lebih privat dan eksklusif.

Karesidenan Kediri termasuk daerah makmur pada masa kolonial Belanda. Hal ini ditandai dengan diterapkannya sistem opiumpacht, yaitu monopoli perdagangan candu oleh pemerintah kolonial.

Sejak tahun 1833, peredaran candu diwakili oleh “Kongsi Kediri” yang dominan diisi oleh komunitas Tionghoa. Salah satu buktinya adalah keberadaan organisasi Gie Kie Kong Soe di Jalan Monginsidi, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri, dengan plakat donasi bertanggal 5 Januari 1890 yang masih terpasang hingga kini.

Kompleks makam Tionghoa di kaki Gunung Klotok juga menjadi bukti bahwa komunitas ini telah lama menetap di Kediri, setidaknya sejak abad ke-18. Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai pedagang, baik eceran maupun perantara.

Sepanjang abad ke-19, bisnis candu di Kediri melibatkan nama-nama seperti Tan Kok Tong, Han Liong Ing, Kwee Siwe Toan, hingga Djie Thay Hien. Namun, kejayaan itu mulai retak ketika krisis ekonomi melanda pada tahun 1880-an.

Harga komoditas turun, pendapatan merosot, dan Kongsi Kediri mulai kehilangan kekuatannya. Meskipun sempat bertahan berkat dukungan pihak luar, kemunduran tak bisa dihindari.

Tokoh seperti Tan Kok Tong pun mulai terdesak, tidak hanya dalam bisnis candu, tetapi juga dalam usaha properti dan aset-asetnya di Kota Kediri. Kejayaan yang pernah manis itu pun mulai mengabur ditelan waktu.

 

 

Penulis adalah Yulita Dyah Kusumasari, mahasiswa magang jurusan Ilmu Sejarah dari Universitas Airlangga Surabaya

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #tionghoa #candu #sejarah #opium