Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, atau yang dikenal sebagai Pemerintah Hindia Belanda, dibangun sebuah jembatan yang berguna untuk menghubungkan wilayah barat dan timur Sungai Brantas di Kediri.
Jembatan ini dinamakan Brug over de Brantas te Kediri, atau yang lebih dikenal dengan nama Jembatan Lama.
Pembangunan jembatan ini dimulai pada tahun 1855 dan selesai dibangun pada 18 Maret 1869. Anggaran yang dibutuhkan sekitar 230.000 gulden. Arsiteknya adalah seorang Belanda bernama Insinyur Sytze Westerbaan Muurling.
Jembatan Lama Kediri merupakan pelopor jembatan-jembatan yang berdiri di atas Sungai Brantas, seperti Jembatan Brawijaya, Jembatan Mrican atau Jongbiru, dan Jembatan Bandar.
Kehadiran jembatan ini sangat berguna untuk transportasi para buruh perkebunan Belanda yang tinggal di seberang sungai, termasuk para buruh Pabrik Gula Pesantren yang terletak di timur Sungai Brantas, serta akses menuju rumah Residen Kediri.
Pada tahun 1901, Gunung Kelud meletus hebat, menyebabkan Sungai Brantas mengalami pendangkalan karena banyaknya material seperti pasir dan batu yang terbawa dan memenuhi dasar sungai. Akibat pendangkalan ini, Jembatan Lama sering terendam oleh air sungai.
Kemudian diusulkan agar bangunan Jembatan Lama dinaikkan sekitar 1,5 meter agar tidak lagi terendam air.
Renovasi pertama Jembatan Lama terjadi pada tahun 1915. Sebelumnya, usulan renovasi jembatan belum pernah dilakukan di Pulau Jawa.
Surat kabar De Preanger Bode yang terbit pada 23 Oktober 1915 mengabarkan bahwa renovasi Jembatan Lama hanya memakan waktu 11 hari, dengan hasil mengangkat jembatan setinggi 24 cm dan meninggikan struktur jembatan hingga 1,5 meter.
Salah satu hal paling ikonik dari jembatan ini adalah ketika Jembatan Lama dihias dengan lampu-lampu untuk perayaan pernikahan putri Ratu Belanda, yaitu Putri Juliana dan Pangeran Bernhard, pada tahun 1937.
Pada tanggal 12 Maret 2019, Jembatan Lama resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh BP3 Trowulan.
Kemudian, pada 18 Maret 2019, jembatan ini diresmikan oleh Wali Kota Kediri saat itu, Abdullah Abu Bakar, sebagai Cagar Budaya, bertepatan dengan peresmian Jembatan Brawijaya.
Penulis adalah Yulita Dyah Kusumasari, mahasiswa magang jurusan Ilmu Sejarah dari Universitas Airlangga Surabaya
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah