KOTA, JP Radar Kediri—Puncak perayaan Waisak berlangsung pukul 23.55.29 malam ini. Puluhan umat Buddha dari Kediri Raya mengikuti puja bakti di Vihara Jayasaccako. Di sana mereka melakukan rangkaian ritual dan doa secara khusyuk.
Pantauan koran ini, hingga kemarin sore serangkaian persiapan terus dilakukan di vihara yang terletak di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota itu.
Rohaniawan Vihara Jayasaccako Romo Pandita Daniel Chriestanto mengatakan, kemarin umat tinggal menata tempat ibadah. Termasuk di antaranya menata persembahan.
Selebihnya, mereka bersiap melakukan serangkaian ritual doa. “Dari tahun ke tahun rata-rata sekitar 60 umat yang hadir (mengikuti puncak detik-detik Waisak, Red),” kata Daniel.
Umat yang beribadah di Vihara Jayasaccako adalah mereka yang berdomisili di Kediri Raya. Beberapa di antaranya merupakan warga Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.
Untuk diketahui, dalam puncak upacara Trisuci Waisak tadi malam, ibadah diawali dengan penghormatan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Selanjutnya, umat melakukan ritual mengelilingi patung Buddha sebanyak tiga kali searah jarum jam. Ritual ini biasa disebut dengan pradaksina.
Selesai melakukan pradaksina, umat mengikuti pembacaan Parrita Suci, meditasi. Kemudian, ditutup dengan penyampaian pesan dhamma oleh Bhante Santamano Mahathera.
“Puncaknya setelah pukul 23.55. Di situ nanti ada bel yang akan dibunyikan sebagai penanda bahwa kita sudah mencapai di waktu detik-detik Waisak dan meditasi sudah waktunya diakhiri,” beber Daniel sembari menyebut rangkaian puncak ibadah Waisak baru selesai sekitar pukul 01.00 dini hari.
Dalam momentum Trisuci Waisak itu, Bhante Santamano Mahathera berpesan agar umat melaksanakan puja bakti peringatan Trisuci Waisak. Pelaksanaannya pun tidak harus di vihara. Melainkan juga bisa di tempat-tempat yang dekat dengan simbol-simbol kehadiran Buddha seperti di candi.
“Bisa di rumah dengan adanya altar keluarga atau pribadi untuk melaksanakan meditasi dan pembacaan parita-parita. Itu yang dilakukan khususnya di detik-detik waisak,” ungkap Bhante Santamano.
Selain itu, Bhante Santamano juga menyampaikan adanya objek-objek suci yang juga memiliki kedekatan dengan Buddha.
Di antaranya seperti Pohon Bodhi atau Ficus Religiosa. Pohon ini dipercaya sebagai tempat Buddha Gautama melaksanakan meditasi dan memperoleh pencerahan.
“Di tiap-tiap vihara hampir selalu ada. Pohon Bodhi, rupang Buddha, itu adalah simbol-simbol dari guru agung sang Buddha,” ungkapnya terkait objek-objek suci yang bisa dijadikan tempat umat dalam menjalankan ibadah.
Sebelumnya, di hari peringatan tiga peristiwa penting Buddha Gautama itu, Bhante Santamano Mahathera berpesan agar setiap umat bisa melatih kesadaran untuk meningkatkan pikiran yang lebih mulia.
Dengan pikiran yang mulia, umat bisa meningkatkan kehidupannya menjadi jauh lebih tenteram, bahagia, serta berpengaruh baik terhadap lingkungannya. “Masyarakat juga akan merasa nyaman, tenteram, damai,” tandas Bhante Santamano.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira