Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bulan Sela dan Sura Dianggap Tidak Baik untuk Menggelar Hajatan Pernikahan dalam Tradisi Jawa? Ini Penjelasannya

Mohammad Basid Alharis • Senin, 12 Mei 2025 | 22:06 WIB

 

 

Ilustrasi pasangan pengantin.
Ilustrasi pasangan pengantin.

JP Radar Kediri - Dalam budaya Jawa, adat dan kepercayaan leluhur masih memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menentukan waktu yang tepat untuk menggelar hajatan pernikahan.

Dua bulan dalam kalender Jawa yang sering dihindari untuk menyelenggarakan pernikahan adalah bulan Sela dan Sura.

Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan berakar dari filosofi, spiritualitas, dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Pertama, bulan Sela sebagai bulan persiapan menyambut bulan Suci. Bulan Sela adalah bulan ke-11 dalam kalender Jawa, yang berada tepat sebelum bulan Sura (bulan pertama dalam kalender Jawa).

Dalam tradisi Jawa, bulan Selo dianggap sebagai masa tenang dan persiapan menjelang datangnya bulan Suro yang dianggap sakral.

Masyarakat biasanya menggunakan waktu ini untuk berbenah diri, membersihkan lingkungan, dan mempersiapkan batin.

Mengadakan hajatan besar seperti pernikahan di bulan Selo dianggap kurang bijak karena bisa mengganggu ketenangan batin dan dianggap tidak selaras dengan nuansa persiapan spiritual menyambut bulan Suro.

Selain itu, dalam pandangan sebagian orang tua Jawa, hajatan di bulan Selo dipercaya tidak akan membawa keberkahan dan dapat mengurangi kekhusyukan menyambut tahun baru Jawa.

Kedua, bulan Suro sebagai bulan sakral dan penuh tirakat. Bulan Suro memiliki makna khusus dalam budaya Jawa, sebanding dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriyah.

Bulan ini dikenal sebagai bulan untuk berdoa, menyepi, dan menjalani tirakat (laku spiritual) demi keselamatan dan kebijaksanaan.

Banyak masyarakat Jawa yang menjalankan tradisi seperti ritual 1 Sura, tapa bisu, atau ziarah kubur untuk mengenang leluhur.

Karena suasana bulan Sura sarat dengan nilai-nilai keheningan, kesucian, dan kontemplasi, maka menggelar pesta atau perayaan besar seperti pernikahan dianggap tidak selaras secara spiritual.

Bahkan, beberapa kalangan percaya bahwa menikah di bulan Sura bisa membawa kesialan atau kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis.

Mitos ini meski tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, tetap dipegang erat oleh banyak masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan spiritualitas leluhur.

Ketiga, memiliki nilai filosofis dan sosial dibaliknya. Larangan tak tertulis ini sebenarnya menyimpan nilai-nilai filosofis yang mendalam.

Menahan diri untuk tidak mengadakan pesta di bulan Sela dan Sura mengajarkan masyarakat untuk hidup selaras dengan siklus alam dan waktu, serta menghormati nilai-nilai budaya.

Ini juga menjadi bentuk kedisiplinan spiritual dan sosial, di mana individu dan keluarga diajak untuk tidak hanya memikirkan kebahagiaan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan keharmonisan lingkungan.

Meski zaman telah berubah dan banyak orang mulai meninggalkan adat, larangan mengadakan hajatan pernikahan di bulan Sela dan Sura tetap memiliki tempat tersendiri dalam masyarakat Jawa.

Ini bukan sekadar mitos, melainkan cerminan dari kearifan lokal yang mengajarkan tentang keseimbangan, penghormatan terhadap waktu, dan kedalaman spiritual.

Bagi mereka yang masih menjunjung tinggi tradisi, memilih waktu yang baik untuk menikah adalah bagian dari ikhtiar untuk membangun rumah tangga yang rukun dan penuh berkah.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Bulan Sura #manten #malam satu suro #Pengantin Adat Jawa #jawa