Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Ahmad Kafabihi punya ciri sendiri dalam berdakwah. Namun, juga tak lepas dari ‘pengaruh’ sesepuh Ponpes Lirboyo. Juga, sang istri yang menjadi salah satu sumber motivasi. Meskipun sering berdebat kala berdakwah dalam satu panggung.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Memulai dakwah di usia yang masih sangat muda, 18 tahun, membuat Ahmad Kafabihi merasakan banyak pengalaman. Baik suda dan duka. Yang justru membuatnya semakin matang.
“Kalau ketemu dukanya ya nikmati saja. Tandanya harus belajar lagi agar kesalahan serupa tidak terulang kembali,” tutur Gus Ahmad, panggilan akrabnya.
Banyak kejadian dalam berdakwah yang sulit dia lupakan. Pernah suatu ketika, jemaah yang hadir dalam satu acara pengajian berangsur-angsur pulang. Padahal dia belum kebagian tampil. Tentu saja situasi tersebut mengganggu konsentrasinya. Menjadikannya lupa materi yang hendak disampaikan.
“Waktu itu ada komunikasi yang kurang tepat. Jemaah mengira tidak ada ceramah. Akhirnya mereka bubar,” ceritanya, mengenang kejadian-kejadian yang ‘mengesankan’ selama dia berdakwah.
Bagi Gus Ahmad, pengalaman seperti itu wajar saja terjadi. Tak melulu harus dipandang sebagai sisi negatif. Tajpi, menjadi bahan instropeksi diri. Agar lebih baik ke depannya. Bahkan setiap selesai mengisi ceramah dia selalu melakukan evaluasi.
Seiring berjalannya waktu Gus Ahmad mulai menemukan ciri khas atau gaya berdakwah yang sesuai dengan dirinya. Mengikuti tren kekinian yang sedang berkembang di masyarakat. Misal mengikuti alur sinetron yang sedang digandrungi ibu-ibu. Maupun mengemas kalimat dakwah menjadi kalimat aesthetic yang digemari kalangan muda-mudi.
“Mundur wir, sainganmu orang yang suka ngaji bukan orang yang suka ngobral janji,” ucapnya memberi contoh ungkapan yang dia selipkan ketika berdakwah.
Meskipun memiliki gaya tersendiri dalam berdakwah bukan berarti dia meninggalkan akarnya. Sebab, ilmu yang dia sampaikan tetap mengadopsi model yang diterapkan para sesepuh Ponpes Lirboyo. Terutama soal hadis dan dalil Alquran. Selain itu, yang juga sama, adalah model dakwahnya yang mendatangi jemaah. Bukan mendatangkan jemaah ke ponpes.
“Dari dulu kiai di Pondok Pesantren Lirboyo berdakwah dengan mendatangi tempat-tempat yang ditentukan oleh jemaah. Bukan dengan mendatangkan jemaah ke sini,” dalihnya.
Selain sesepuh dan orang tua, istri juga menjadi salah satu sumber motivasi Gus Ahmad dalam berdakwah. Apalagi dia seringkali bersama istrinya mengisi ceramah dalam waktu dan tempat yang bersamaan. Tak jarang mereka berdua berdebat di atas panggung saat sedang berdiskusi.
Baca Juga: Tak Pernah Menghakimi, Gus Sabuth Juga Tak Pilih-Pilih Orang
Biasanya setelah mengisi dakwah, mereka berdua akan saling memberikan evaluasi. Dari cara penyampaiannya hingga isi yang disampaikan.
“Menurut saya ini salah satu keuntungan. Sebab kalau bukan orang tua dan istri siapa yang berani memberikan masukan secara terang-terangan,” ujar Gus Ahmad.
Untuk diketahui, memang hampir 60 persen ketika berdakwah Gus Ahmad selalu bersama istri dan anaknya. Terkadang jika tidak mengisi bersama, dia tetap mengajak istrinya untuk menemaninya.
Dalam memberikan dakwah Gus Ahmad juga tidak main-main. Dia selalu mempersiapkan atau mempelajari materi yang akan disampaikan kepada jemaahnya. Hal ini dia lakukan agar isi ceramahnya lebih fokus dan tidak melebar ke mana-mana.
Menurutnya, materi yang diminta oleh jemaahnya sangat beragam. Mulai dari sedekah, akhlak, Alquran, percintaan, feminisme, maskulinitas, hingga media sosial. Tetapi yang paling dia sukai adalah ketika menyampaikan hukum tentang sesuatu yang masih belum banyak diketahui oleh orang awam.
“Misalnya apakah wudhu kita batal ketika memegang anak tetangga lawan jenis yang sudah berusia tujuh tahun? Pasti mayoritas akan menjawab tidak. Padahal kenyataannya yang membatalkan wudhu bukan hanya yang sudah baligh. Tetapi anak yang berusia tujuh tahun juga sudah bisa membatalkan. Sebab mereka sudah memiliki rasa ketertarikan,” jelasnya sembari mencontohkan respon dari jemaah yang banyak tidak tahu.
Dari banyaknya materi yang diminta jemaah, hanya satu materi yang dia dan istrinya masih enggan untuk menyampaikan. Yaitu tentang pernikahan dan keluarga. Sebab dia dan istri masih merasa belum pantas dengan usia pernikahannya yang masih terbilang dini.
“Kalau untuk materi lain masih aman dan disesuaikan dengan momen yang ada,” pungkasnya saat ditanya materi apa saja yang dia dan istrinya bisa menyampaikan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel