Warisan sang pendiri, Kiai Haji Zamrodji, tetap dipertahankan di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kencong. Salah satunya adalah rutinan mengaji di Sabtu Wage.
EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Gus Mahu-panggilan akrab Kiai Jauhar Nehru bercerita bahwa semua kegiatan Pondok Raudlatul Ulum masih dipertahankan sampai sekarang.
Salah satunya rutinan Sabtu Wage. Gus Mahu-lah yang mengisi pengajian tersebut. Mengajarkan ilmu Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah.
“Sifatnya melanjutkan dari apa yang sudah dilaksanakan oleh beliau almarhum Kiai Haji Zamrodji,” ujar Gus Mahu.
Gus Mahu menjelaskan bahwa ajaran Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah merupakan ilmu yang mengajarkan tentang Ahwalul Qolbi.
Tentang sikap-sikapnya hati. Contohnya seperti bagaimana menepis sifat takabur, riya, dan sebagainya dengan cara melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah.
“Jadi begini, karena pada prinsipnya kan setiap kali kita melakukan kesalahan hati akan ternoktah. Nah noktah tersebut kita upayakan kita jernihkan dengan zikir. Jadi zikir itu media saja. Prinsipnya adalah bagaimana supaya hati kita itu supaya bener-bener lillahitaala,” jelasnya.
Gus Mahu menekankan bahwa ilmu Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah bisa dipelajari oleh siapa saja. Tidak mengenal batasan usia. Mulai dari anak kecil hingga para orang lanjut usia (lansia).
Menurutnya, ilmu thariqah itu terus disebarluaskan di daerah-daerah. Hanya saja tidak bersifat rutin di hari Sabtu Wage seperti yang sudah dijalankan di Ponpes Raudlatul Ulum.
Melainkan dilaksanakan sesuai jadwalnya masing-masing. Misalnya dalam satu kecamatan ada yang menjadwalkan satu kali dalam sebulan, dua kali dalam sebulan, dan ada yang tiga kali dalam satu bulan.
Selain Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mahu juga berupaya mempertahankan kegiatan-kegiatan pondok yang sudah berjalan sejak dulu.
Misalnya kegiatan manaqib kubro yang diadakan setiap tahun sekali. Saat kegiatan itu berlangsung, akan ada ribuan jemaah yang hadir.
Bagi Gus Mahu, tidak ada kata duka ketika memperjuangkan ajaran-ajaran agama Islam. Selama ini, dia dan adik-adiknya menikmati setiap proses dalam mengasuh Ponpes Raudlatul Ulum.
Dia juga menyangkal ada kata kesulitan dalam melanjutkan apa yang sudah menjadi peninggalan sang ayah.
“Ya biasa-biasa. Kalau pun kita nggak bisa melalui pintu-pintu yang satunya, kita melaluinya dari pintu yang lain. Kita sifatnya tidak kaku ya sehingga kita tidak merasa itu mengalami kesulitan. Karena kita melangkahnya memang tidak kaku,” tekannya.
Gus Mahu menjelaskan bahwa Ponpes Raudlatul harus tetap ada. Sasaran utamanya bukanlah orang-orang yang membutuhkan pondok tersebut. Melainkan orang-orang lain yang merasa belum membutuhkan untuk belajar agama.
“Kalau orang yang datang ke pondok udah jelas kan memang mereka yang butuh. Tetapi kita mencari bagaimana orang-orang lain yang tidak butuh (agama) supaya butuh dengan agama. Memang kami upayakan. Jadi orang yang tidak suka dengan ibadah bagaimana caranya agar suka dengan ibadah,” katanya.
Terakhir, Gus Mahu menjelaskan bahwa ada prinsip khairunnas anfauhum linnas. Yakni sebaik-baiknya manusia yang paling baik adalah bermanfaat bagi manusia lain.
“Lha arti dari bermanfaat adalah dibutuhkan. Lha dibutuhkan berarti kita memberi sesuatu yang dibutuhkan masyarakat, apa itu, ilmu. Jadi kami menyebarkan ilmu-ilmu agama yang memang juga suatu keharusan dari Allah SWT bagi siapapun yang punya ilmu diwajibkan untuk menyebarkan ilmunya,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira