JP Radar Kediri - Rasulullah memiliki beberapa saudara sepersusuan dari Halimah Sa’diyah. Salah satunya adalah Syaima.
Syaima merupakan anak tertua Halimah. Oleh karena itu Ia diberi tugas oleh Halimah untuk menjaga adik-adiknya termasuk Rasulullah kecil.
Mereka berdua sering bermain dan bercanda bersama. Terkadang juag saling mengejek dan bertengkar.
Hingga pada suatu hari Rasulullah menggigit punggung Syaima karena saudarinya itu telah menginjak kakinya. Gigitannya meninggalkan bekas di punggung Syaima.
Syaima mengaduh kesakitan dan mengadukan perilaku Rasulullah pada ibunya, Halimah. Halimah tertawa karena gemas dengan tingkah laku mereka. “Memangnya kau apakan Muhammad hingga Ia menggigit punggungmu?”
Baca Juga: Kisah Sahabat Rasul: Kisah Ummu Sulaim, Perempuan Mulia dengan Mahar Paling Mulia
Saat Rasulullah beranjak empat tahun, Halimah mengembalikan pengasuhannya pada Aminah, ibunda Rasulullah. Rasulullah akhirnya harus berpisah dengan keluarga Halimah.
Hingga beberapa puluh tahun kemudian pada saat perang Hunain, pasukan muslim berhasil memenangkan pertempuran dan memukul mundur kaum Hawazin.
Kaum Hawazin pun melarikan diri dan meninggalkan harta bendanya yang kemudian menjadi harta rampasan perang kaum muslimin.
Selain itu, para perempuan kaum Hawazin pun menjadi tawanan pasukan muslimin. Salah satu perempuan yang jatuh sebagai tawanan pasukan muslimin, yakni Syaima.
Para perempuan tersebut diperlakukan kasar oleh tentara muslim. Mereka diarak untuk menghadap Rasulullah.
Baca Juga: Kisah Sahabat Rasul: Kisah Pohon Sahabi, Sahabat Rasulullah yang Masih Hidup hingga Kini
Syaima merasa tak terima akan perlakuan yang Ia dapatkan. Syaima pun mengaku bahwa Ia adalah saudara sepersusuan Rasulullah.
Namun para tentara muslim tak percaya akan hal itu. Mereka menganggap bahwa itu hanyalah alasan belaka agar mendapat perlakuan yang lebih baik.
Setibanya di hadapan Rasulullah, Syaima kembali mengaku bahwa Ia adalah saudara sepersusuan Rasulullah. Mendengar hal itu, Rasulullah tak percaya. Beliau meminta bukti dari ucapan Syaima.
Mereka tak bertemu selama 50 tahun lebih. Hal ini menjadikan Rasulullah lupa akan wajah dari saudarinya tersebut.
Baca Juga: Kisah Sahabat Rasul: Kisah Dzuljannah, Kuda Kesayangan Sayyidina Husain bin Ali
Syaima pun berkata, “Ingatkah kau, Nabi Allah, ketika aku memukul pangkal pahamu, kita bermain di dekat tenda, tenda keluarga kita Bani Sa’ad. Ketika kau naik ke punggungku dan menggigitku dengan gigitan kasih sayang?”
Seketika Rasulullah memutar memori masa lalunya kembali. Beliau akhirnya mengingat saat beliau diasuh oleh keluarga Halimah.
Rasulullah mengingat kembali kenangan masa kecilnya bersama Syaima. Setelah memastikan dengan seksama keraguan yang menghinggapi Rasulullah pun perlahan menghilang.
Beliau menghampiri Syaima dengan perasaan bahagia bercampur sedih karena harus bertemu dengan cara yang yang kurang tepat.
Baca Juga: Kisah Rasul: Cinta Pertama Rasulullah yang Menolak Lamarannya Dua Kali
Beliau membentangkan sorbannya agar Syaima duduk diatasnya. Dengan lembut Rasulullah menawarkan Syaima untuk tinggal bersamanya.
“Kalau kamu ingin pulang ke kaummu, aku akan mengantarmu. Atau dengan penuh hormat, silahkan kamu menetap di sini,” ucap Rasulullah.
Namun Syaima menolak. Ia ingin pulang dan tinggal dengan keluarganya. Syaima’ pun menjawab pertanyaan Rasulullah, “Tidak, saya ingin pulang ke kaumku.”
Rasulullah tidak menuntut Syaima dan menerima keputusannya dengan penuh kebijakan dan keikhlasan.
Baca Juga: Kisah Rasul: Ketika Malaikat Ridwan Membawakan Baju Lebaran untuk Hasan dan Husain
Sebelum itu Syaima memutuskan untuk memeluk Islam. Sebelum melepas kepergian saudarinya Rasulullah memberikan hadiah berupa empat orang budak dan seekor unta.
Penulis: Rozita Nir Azizah
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira