KEDIRI, JP Radar Kediri- Tidak mudah bagi Agus Ahsinil Umam mengikuti jejak dakwah para pendahulunya. Terutama seperti yang dilakukan ayahnya, KH Thoha Mu’id. Terutama bila melihat generasi berbeda yang dia hadapi. Namun, semua itu bisa dia pelajari dan diterapkan.
Yang juga menjadi tantangan besar adalah membagi waktu. Sebab, meskipun jadwalnya mengasuh berbagai kelompok pengajian masyarakat sangat padat tetap harus menularkan ilmunya ke para santri yang mukim di Ponpes Al Ishlah. Padahal, setiap Ramadan materi yang diberikan bertambah.
“Saat Ramadan ini ada penambahan kegiatan seperti mengaji kitab tertentu,” ucapnya.
Materi baru yang dia sampaikan ke santrinya adalah ilmu tentang fiqih, tafsir, dan nasihat-nasihat.
Waktunya setelah salat Subuh, mengaji kitab Rohmatul Ummah dan usai Asar kitab Safinatun Najah. Diakhiri bakda Isya dengan kitab tafsir Jalalain.
Meskipun waktunya padat pria yang karib disapa Gus Ahsin ini tak mempersoalkan.
Sebab, sudah menjadi tanggung jawabnya mengajak seluruh jemaahnya berlomba-lomba dalam kebaikan. Terutama Ramadan ini.
“Ketika selesai berdakwah dari luar terkadang saya masih kembali ke pondok untuk beristirahat. Sebelum melanjutkannya lagi. Tetapi berbeda dengan para sesepuh saya yang dengan senang hati langsung berpindah dari satu ke tempat ke tempat yang lain untuk mengisi dakwah,” kenangnya, sembari mengingat betapa hebatnya para pendahulu pondok yang diasuhnya dalam mensyiarkan islam.
Menariknya, dengan jadwal Gus Ahsin yang tersusun rapi dari pagi hingga malam, tak menjadi masalah bagi keluarga. Terutama sang istri, Ning Zulfatussuroya, yang sangat memahami kondisi suaminya.
“Keluarga sudah memahami. Ketika berada di luar berarti saya milik jemaah majelis taklim. Sejalan dengan hal tersebut, apabila di pondok saya juga milik santri. Baru ketika berada di rumah sepenuhnya milik keluarga,” tegas Gus Ahsin.
Kebetulan istri Gus Ahsin juga dari keluarga pondok. Juga ikut mengajar. Yaitu madrasah ibtidaiyah dan Madrasah Diniyyah Takmiliyyah (MDT) al-Badriyyah.
“Kebetulan istri juga mengajar di sini (Pondok Al Ishlah, Red). Sudah menjadi kewajiban hampir semua dzurriyah untuk mengajar dan menyampaikan ilmu,” imbuhnya.
Sebagai informasi tambahan, istri dari Gus Ahsin memiliki kesamaan dengannya. Dia menimba ilmu tidak hanya di satu tempat. Melainkan di beberapa pondok pesantren yang ada di Jawa Tengah. Yaitu daerah Purworejo dan Kebumen.
“Yang di Kebumen ini memang pondok asalnya. Di sana ilmu yang diajarkan berfokus pada nahwu shorof saja. Sehingga setiap harinya yang dipelajari berkutat pada kaidah tata bahasa Arab,” jelas Gus Ahsin sembari menerangkan waktu pembelajarannya yang dari pagi hingga malam.
Oleh karenanya, tidak mengherankan jika waktu dakwah yang padat tidak menjadi masalah bagi keluarga kecil Gus Ahsin. Sebab masing-masing anggotanya juga memiliki peran yang sama dalam mensyiarkan islam.
Saat ini, anak-anak dari Gus Ahsin juga sedang menimba ilmu di pondok pesantren lain.
Seperti anaknya yang pertama di pondok pesantren Krapyak, Yogyakarta. Dilanjut dengan yang kedua, saat ini sedang mengikut pondok Ramadan di pondok pesantren Lirboyo, Kediri. Dan yang ketiga di pondok pesantren Gedongsari, Nganjuk.
“Untuk saat ini masih mondok semua. Agar ilmu yang diperoleh semakin banyak,” paparnya saat ditanya wartawan Jawa Pos Radar Kediri apakah anaknya sudah mulai melakukan dakwah.
Terakhir, Gus Ahsin berpesan agar masyarakat bisa ajeg dan jejeg dalam menjalankan perintah dan larangan Allah SWT. Bahkan dengan situasi dan kondisi apapun harus selalu taat pada Allah SWT.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah