Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gus Miek Kecil Suka Bolos dan Pilih Mancing

Redaksi Radar Kediri • Rabu, 5 Maret 2025 | 21:34 WIB

Gus Miek
Gus Miek

Kisah Perjalanan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri (5)

Ponpes Al Falah tak bisa dilepaskan dari kisah Gus Miek, salah satu keturunan KH Ahmad Djazuli Utsman, sang pendiri. Dia dipercaya para pengikutnya sebagai wali, lebih dari seorang kiai.

 Gus Miek adalah putra kelima pasangan KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodhiyah (Roro Marsinah) di antara sebelas keturunannya. Terlahir dengan nama Hamim Thohari, sejak kecil dia lebih akrab disapa dengan panggilan Amiek. Konon, ini adalah panggilan dari saudara-saudaranya ketika masih kecil. Mereka kesulitan untuk melafalkan namanya dengan benar. Namun, kemudian malah menjadi panggilan hingga dewasa, termasuk oleh orang tuanya.

Berdasarkan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) yang dikeluarkan oleh Pemda Sidoarjo yang berlaku pada 1993-1995, Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940. Ini berarti sekitar 15 tahun setelah Ponpes Al Falah didirikan oleh Kiai Djazuli pada 1925.

Pendidikan formalnya hanya sampai tingkat Sekolah Rakyat (SR). Selebihnya, Gus Miek lebih banyak menempa diri pada sejumlah kiai khos di berbagai daerah yang dikenal sebagai wali. Di antara yang paling memengaruhi adalah KH Dalhar, Watucongol, Magelang.

Kiai Dalhar dikenal sebagai salah satu di antara tiga wali yang masyhur di Jawa Tengah pada masa itu. Yaitu, KH Muslih, Mranggen, Demak sebagai wali syariat; KH Hamid, Kajoran, Magelang sebagai wali dakwah; dan Kiai Dalhar sendiri sebagai wali hakikat. Karena kuatnya pengaruh Kiai Dalhar itu, sampai-sampai Gus Miek menyebutnya sebagai guru dunia akhirat.

Gus Miek kecil juga belajar ngaji pada ayahnya sendiri, sama seperti saudara-saudaranya yang lain. Terutama, siang sepulang dari sekolah. Akan tetapi, di antara mereka semua, hanya Gus Miek yang pernah dan diizinkan nyantri di pesantren luar. Yakni, di Ponpes Lirboyo –meskipun hanya bertahan selama 16 hari sebelum kemudian memilih mengembara dari satu tempat ke tempat lain. 

Gus Miek memang dikenal sebagai sosok yang ‘tidak betah’ belajar dalam lingkungan formal. Saat di SR pun sering membolos. Sampai-sampai ibunya sering mencari. Biasanya, Gus Miek meminta para santri Al Falah untuk menutupi persembunyiannya dengan berbagai cara. Mulai dengan pelepah kelapa, tumpukan kayu, atau tikar pandan.

Bila adiknya memberitahukan tempat persembunyiannya, Gus Miek akan marah. Pernah, suatu ketika dia nyaris tepergok Nyai Rodhiyah bersembunyi di kamar. Gus Miek lalu meloncat jendela dengan bergelantungan pada gorden hingga terjatuh ke tanah. Setelah itu, lari entah ke mana. 

Gus Miek juga sudah senang ‘berkelana’ sejak kecil. Biasanya dengan mengajak satu-dua santri atau teman dekatnya. Terkadang bersepeda berkeliling Kediri atau memancing dan bermain di Sungai Brantas. Ya, sebagian dari hidup Gus Miek memang lekat dengan Sungai Brantas. Dia dikenal suka memancing di sana. Di belakang Ponpes Al Falah yang didirikan ayahnya, di dekat Jembatan Mrican, atau di tempat-tempat lain di sepanjang sungai terpanjang di Jawa Timur itu. Orang-orang yang ingin bertemu dengannya tak jarang harus mencari Gus Miek di pinggir-pinggir Sungai Brantas tersebut.

Tentang Gus Miek dan Sungai Brantas ini, banyak cerita-cerita khas pesantren yang beredar di masyarakat. Misalnya, jika Gus Miek yang memancing, hasilnya akan mendapat banyak sementara pada saat yang sama temannya hanya mendapat hasil sedikit. Konon, pernah pula tiba-tiba Gus Miek hilang di Sungai Brantas hingga membuat kebingungan santrinya. Sebab, dicari-cari hingga sore tidak ketemu. Tapi, kemudian mendadak Gus Miek sudah muncul dan berdiri di tepian Brantas. (*)

Baca Juga: Kisah Perjalanan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri (4)

 

Editor : Jauhar Yohanis
#Pondok Ploso #gus miek