JP Radar Kediri - Saat ini, siapa yang tak pernah dengar Teras Gubuk? Forum pengajian yang diasuh Gus Kautsar itu punya ribuan jemaah. Ternyata, kajian yang membahas kitab-kitab masyhur itu awalnya hanya kegiatan ngopi bareng.
Pengajian rutin Teras Gubuk sudah kelar. Sebagian jemaah juga sudah bubar, kembali ke rumah masing-masing. Tajpi, di pendapa tempat pengajian itu berlangsung masih ada yang bergerombol. Mengerumuni sosok pengasuh pengajian, Muhammad Abdurrahman Kautsar alias Gus Kautsar.
Mereka yang mengerubungi kiai muda kharismatik dari Pondok Al Falah, Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri itu beragam. Tak hanya santri, tapi juga pria-pria bertato. Bahkan, ada pula yang telinganya penuh tindik. Semu itu adalah jemaah pengajian yang memang datang dari golongan yang bermacam-macam.
“Awalnya untuk kumpul, ngopi. Kumpul sama temen-temen saja,” ujar Gus Kautsar, mengenang awal mula berhimpunnya mereka dalam jemaah pengajian Teras Gubuk.
“Karena gini, keseharian saya kan cuma ngaji. Kalau diniati ngaji lagi, saya sudah nggak mampu. Makanya, niatnya memang ngumpul sama temen-temen saja,” lanjut Gus Kautsar, masih tentang awal mula terbentuknya pengajian Teras Gubuk.
Putera pengasuh Ponpes Al Falah KH Nurul Huda Djazuli ini mengaku memiliki kebiasaan ngopi bareng. Tujuannya untuk menambah teman. Kebetulan, Gus Kautsar juga hobi Vespa. Dia pun berkenalan dan ngopi bareng dengan para anggota komunitas Vespa.
Bagi Gus Kautsar, anak-anak Vespa punya karakteristik yang khas. Mereka adalah orang-orang yang sudah selesai dengan semua yang ingin dilakukan.
"Saya sudah yakin bahwa teman-teman itu adalah yang sudah selesai dengan semua yang pingin dia lakukan. Dan hari ini dia hanya pengen cari tempat, cari nuansa, bagaimana dia berkreasi tapi juga ada input nilai keagamaan di sana," terangnya.
Dari situlah awal mula dia ngopi bareng dengan para pecinta vespa. "Awalnya hanya beberapa temen-temen yang biasa saya ajak bervespa.
Mungkin hanya sekitar anak 10-20-an. Ayo kita ngopi ayo sambil belajar-belajar," lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, terlintas di benak Gus Kautsar, untuk mengenalkan pada teman-teman Vespanya itu dengan dunia pesantren.
"Supaya kamu mengerti bagaimana dunia pesantren. Saya bacakan kitab. Karena biar kita kalau cerita ada runutannnya, ada rujukannya, ada marji’ (seorang ulama atau otoritas agama yang dianggap memiliki pengetahuan dan wewenang yang cukup, Red)," terangnya.
Ternyata, mereka semua setuju. Hingga akhirnya diagendakan untuk melakukan ngopi sambil kajian. Yang berlangsung pertama kalinya pada 17 Agustus 2024.
Awalnya Gus Kautsar mengira bahwa yang datang tak banyak. Hanya berkisar 20 sampai 30 orang. Namun ternyata faktanya di luar perkiraannya. Jumlah orang yang bergabung lebih dari 1.000 orang!
"Kita gak sengaja juga, gak ngerti juga kalau pada akhirnya banyak," akunya.
Soal kitab yang dibahas, menurut Gus Kautsar, disesuaikan seperti yang diinginkan oleh teman-teman Vespa. Mereka ingin bahwa kitab yang dikaji adalah yang ada ceritanya.
"Saya tanya pengennya yang gimana? Terus anak-anak pengennya yang ada ceritanya. (Tapi) kalau hanya yang ada ceritanya, kalau tidak ada isinya, sampean nanti pasti bosan, karena seperti dongeng saja. Enaknya harus ada isinya," jelasnya.
"Terus saya ingat bahwa kita punya suatu kitab yang pasti dibaca pondok. Dan kebetulan itu dijelaskan, disarahi oleh ulama top asli Kediri, Mbah Ihsan (Syekh Ihsan Jampes, Red)," ceritanya tentang alasan memilih kitab yang dikaji.
Sementara itu, Danang Ki Asmoro, salah satu jemaah yang rutin ikut kajian Teras Gubuk Gus Kautsar mengaku mengikuti kajian itu karena ingin menambah ilmu.
"Kalo saya cuma niat mau tau ilmu ilmu dasar dari apa yg sering saya lakukan dalam hidup selama ini," jelas laki-laki yang juga ketua Rosok Scooter Jahanam (RSJ) Kediri.
"Ibarat jalan meskipun saya mampu berjalan di jalan tanpa penerangan tapi akankah lebih baik jika pakai penerangan. Agar tidak sering jatuh bangun masuk lobang lagi," imbuh laki-laki yang tangannya dipenuhi tato itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah