Pernah nggak sih, waktu lagi semangat mendaki gunung, tiba-tiba kuping rasanya budek? Suara jadi kayak masuk ke mode slow motion, atau kayak dengerin orang ngomong dari dalam air. Nah, kalau kamu pernah ngalamin ini, tenang aja. Kamu nggak sendirian, kok!
Fenomena kuping budek saat naik gunung itu wajar banget dan sering terjadi, terutama saat kita cepat berpindah dari tempat rendah ke tempat tinggi. Tapi, kenapa bisa gitu ya?
Apa yang Menyebabkan Kuping Budek Saat Naik Gunung?
Penyebab utamanya adalah perubahan tekanan udara. Semakin tinggi kita naik, semakin rendah tekanan udaranya. Tubuh kita, khususnya telinga, harus beradaptasi sama perubahan ini.
Di dalam telinga ada yang namanya telinga tengah, tempat di mana tekanan udara harus seimbang sama tekanan di luar. Kalau nggak seimbang, ya itu tadi—kuping bisa terasa penuh, nyeri, atau bahkan kayak nggak bisa dengar.
Nah, ada satu bagian penting di telinga kita yang tugasnya nyamain tekanan, yaitu saluran Eustachius. Saluran ini ngubungin telinga tengah ke bagian belakang hidung dan tenggorokan.
Idealnya, saluran ini otomatis buka tutup buat nyamain tekanan. Tapi kadang dia lemot, apalagi kalau kita lagi flu, alergi, atau sinus. Akhirnya, tekanan nggak bisa diseimbangin dengan cepat, dan… budek deh!
Kuping budek ini sering muncul waktu kamu naik ke tempat tinggi dengan cepat, kayak naik mobil ke gunung, atau naik pesawat. Tapi pas turun, biasanya juga bisa kejadian.
Cara Gampang Mengatasi Kuping Budek Saat Naik Gunung
Untungnya, ada beberapa cara sederhana buat ngatasin kuping budek pas naik gunung. Cara paling gampang? Mengunyah permen karet atau ngemut permen. Aktivitas ini bantu saluran Eustachius buat terbuka.
Atau bisa juga menenggak alias menelan ludah beberapa kali. Kalau masih belum berhasil, cobain teknik Valsava: tutup hidung kamu, tutup mulut juga, lalu hembusin napas pelan-pelan. Biasanya langsung ‘plop’, dan kuping normal lagi.
Kalau kamu mendaki sambil flu atau pilek, risiko kuping budek jadi lebih tinggi. Jadi, pastikan kondisi tubuh benar-benar fit sebelum nanjak. Atau siapkan permen dan teknik tadi biar tidak panik.
Jangan anggap remeh juga ya. Kalau kuping budeknya bertahan lebih dari 1-2 hari setelah turun gunung, bisa jadi ada infeksi atau cedera ringan di telinga. Mending langsung periksa ke dokter THT.
Tapi selama itu cuma budek ringan dan hilang sendiri, nggak perlu khawatir. Itu tanda telinga kamu lagi adaptasi sama lingkungan baru.
Baca Juga: Hype Banget! Inilah Alasan Kenapa Gen Z Suka Nge-Gym
Buat kamu yang hobi naik gunung, ini jadi pengingat juga buat lebih aware sama kondisi tubuh. Naik gunung itu bukan cuma soal fisik kuat, tapi juga soal adaptasi tubuh sama alam.
Dan satu lagi, jangan coba-coba korek telinga pakai benda aneh buat ngilangin budek ya! Bisa makin parah malah.
Jadi, sekarang udah paham kan kenapa kuping bisa budek saat naik gunung? Ini murni proses alami dari tubuh kita yang lagi kerja keras buat nyesuaiin diri.
Yuk, daki gunung dengan aman, nikmati pemandangan, dan jangan panik kalau kuping tiba-tiba budek. Kamu udah tau triknya sekarang!
Editor : Jauhar Yohanis