JP Radar Kediri – Media sosial kini menjadi salah satu tempat masyarakat mencari informasi kesehatan. Mulai dari tips menjaga pola hidup hingga berbagai klaim mengenai makanan, obat, dan kondisi kesehatan, semuanya dapat ditemukan dalam hitungan detik.
Masalahnya, tidak semua informasi yang terlihat meyakinkan benar-benar dapat dipercaya. Karena itu, kemampuan mengevaluasi informasi kesehatan menjadi bagian penting dari literasi kesehatan.
WHO menjelaskan bahwa literasi kesehatan mencakup kemampuan mengakses, memahami, menilai, dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan terkait kesehatan.
Lalu, bagaimana cara sederhana mengecek informasi kesehatan yang ditemukan di media sosial?
Baca Juga: BLT Rp900 Ribu 2026 Dikabarkan Cair Lagi, Penerima Kategori Desil 1-5
1. Cek Siapa yang Menyampaikan
Langkah pertama adalah melihat sumber informasi. Periksa siapa yang membuat atau mengunggah konten tersebut dan apakah orang atau lembaga tersebut memiliki keahlian yang sesuai dengan topik yang dibahas.
NCCIH, bagian dari National Institutes of Health (NIH), menyarankan pengguna mempertanyakan siapa yang menjalankan atau membuat sumber informasi serta apakah sumber tersebut dapat dipercaya.
Jika sebuah konten hanya mencantumkan “kata ahli” tanpa nama atau sumber yang jelas, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai fakta.
Baca Juga: Gejala Kerusakan Ginjal! Jangan Asal Percaya Mitos Ramuan Herbal, Kenali Ciri-cirinya
2. Jangan Berhenti di Video atau Unggahan
Konten kesehatan di media sosial sering dibuat singkat sehingga konteksnya bisa terbatas. Karena itu, coba cari sumber asli yang menjadi dasar informasi tersebut.
NCCIH menyarankan pengguna memeriksa situs organisasi yang disebut dalam konten serta menelusuri sumber yang mendukung suatu klaim. Informasi yang baik seharusnya dapat ditelusuri kembali ke sumber yang jelas.
Misalnya, jika sebuah unggahan menyebut hasil penelitian, cari penelitian atau lembaga yang menjadi sumbernya sebelum mempercayai kesimpulan dalam video tersebut.
Baca Juga: Harga BBM Pertamina Terbaru 1 September 2026 untuk Wilayah Jawa Timur
3. Perhatikan Tanggal Informasi
Informasi kesehatan juga perlu dilihat waktunya. Periksa kapan artikel, penelitian, atau unggahan dibuat dan apakah sudah diperbarui.
NCCIH memasukkan tanggal penulisan atau peninjauan sebagai salah satu dari lima pertanyaan penting ketika mengevaluasi informasi kesehatan di media sosial.
Informasi yang sudah lama bukan berarti otomatis salah, tetapi konteks dan bukti ilmiah dapat berkembang. Karena itu, informasi terbaru dan relevan tetap perlu dipertimbangkan.
Baca Juga: Tekanan Ekonomi, Ratusan Orang di Kota Kediri Idap Gangguan Jiwa, Ini Yang Wajib Kamu Ketahui!
4. Waspadai Klaim yang Terlalu Bagus
Perlu berhati-hati jika sebuah konten menjanjikan hasil yang terlalu cepat, pasti, atau berlebihan.
Contohnya, klaim yang mengatakan suatu produk dapat memberikan hasil instan tanpa menjelaskan bukti yang mendukungnya. NCCIH menyarankan pengguna mempertanyakan apakah klaim yang diberikan terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan serta apakah informasi tersebut didukung penelitian ilmiah.
Perhatikan juga apakah konten tersebut sebenarnya bertujuan menjual produk atau layanan.
Baca Juga: Niat Istirahat Lima Menit, Malah Satu Jam: Kenapa Kita Sulit Berhenti Scrolling?
5. Bandingkan dengan Sumber Tepercaya
Jangan menentukan benar atau salah hanya berdasarkan satu unggahan. Cari informasi yang sama dari beberapa sumber tepercaya dan lihat apakah keterangannya konsisten.
UNICEF juga menyarankan pengguna mengecek sumber, membaca informasi secara utuh, memeriksa foto atau video, serta mencari konfirmasi dari sumber lain sebelum membagikan informasi.
Untuk informasi kesehatan, sumber seperti lembaga kesehatan pemerintah, organisasi kesehatan internasional, institusi pendidikan, atau publikasi ilmiah dapat menjadi titik awal yang lebih baik daripada sekadar mengandalkan unggahan yang viral.
Baca Juga: Birthcare Center, Drakor Pendek yang Mengupas Sisi Lain Perjalanan Menjadi Ibu
Jangan Langsung Bagikan
Kemampuan memeriksa informasi kesehatan bukan berarti seseorang harus memahami seluruh istilah medis atau membaca setiap penelitian secara mendalam.
Yang lebih penting adalah membiasakan diri berhenti sejenak sebelum percaya: siapa sumbernya, dari mana informasinya berasal, kapan dibuat, apa buktinya, dan apakah ada kepentingan tertentu di baliknya.
Di tengah derasnya informasi kesehatan di media sosial, kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang menjadi pengguna informasi yang lebih kritis. Sebab, informasi yang viral belum tentu benar, dan informasi yang terlihat meyakinkan tetap perlu diperiksa sebelum dipercaya atau dibagikan.
Editor : Shinta Nurma Ababil