KEDIRI, JP Radar Kediri- Pemdes Turus memiliki rencana matang dalam bidang kesehatan melalui berbagai program desa.
Beberapa di antaranya meliputi pencegahan penyakit demam berdarah (DBD), pelayanan Posyandu bagi balita, remaja hingga lansia, serta program pembinaan keluarga.
Pencegahan DBD dilakukan dengan menerjunkan juru pemantau jentik (jumantik) setiap bulannya ke masyarakat.
Petugas mendatangi rumah warga untuk memeriksa air kamar mandi sekaligus memberikan obat jentik.
Intensitas kegiatan ini ditingkatkan pada musim hujan karena risiko penularan relatif menjadi lebih tinggi.
“Setiap bulan untuk pencegahan DBD kita terjunkan jumantik, cek kamar mandi dan genangan lainnya. Kalau musim hujan bisa lebih dari tiga kali sebulan,” ungkap Sekretaris Desa Turus Ali Musada.
Jumantik desa juga didampingi pihak puskesmas. Jika ditemukan kasus DBD, pemdes segera melakukan fogging di rumah-rumah warga.
Selain itu, Pemdes Turus memberikan pelayanan kesehatan melalui Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer) yang dilaksanakan sebulan sekali di dua dusun, yaitu Turus dan Celelek. Layanan ini tidak hanya ditujukan untuk balita. Tetapi juga remaja dan lansia.
Untuk balita dan ibu hamil, Posyandu menyediakan pemberian makanan tambahan (PMT) guna menekan angka stunting.
Bantuan berupa bahan mentah seperti susu, telur, dan sayur. “Alhamdulillah menurun dari tahun kemarin, dari 10 menjadi 9 kasus stunting,” terangnya.
Sementara itu, layanan untuk lansia berupa pemeriksaan kesehatan rutin. Bagi remaja (usia SMP hingga sebelum menikah), diberikan tablet tambah darah serta sosialisasi mengenai pubertas dan pergaulan bebas.
Program ini diharapkan membuat remaja lebih memahami serta mampu menjaga diri. Di sisi lain, Pemdes juga menggiatkan program pendampingan keluarga.
Program ini menyasar pasangan yang baru menikah hingga memiliki anak berusia dua tahun. Petugas desa melakukan sosialisasi langsung ke rumah-rumah.
Ali menyebutkan, program ini sudah berjalan rutin selama empat tahun terakhir. Tahun ini, terhitung sejak Agustus, sebanyak 11 keluarga menerima pendampingan.
“Program ini dilakukan untuk sosialisasi pernikahan, parenting, dan pembinaan keluarga. Apalagi bagi pasangan muda yang baru menikah, biasanya mentalnya belum sepenuhnya siap,” pungkas Ali.
Editor : Andhika Attar Anindita