JP Radar Kediri-Kasus diabetes pada anak di Kabupaten Kediri terbilang tinggi. Hingga akhir Juni ini setidaknya ada belasan anak di Bumi Panjalu yang terjangkit penyakit ini. Mayoritas mereka mengidap penyakit karena faktor genetik.
Informasi itu dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Bambang Triyono Putro. Dia mengatakan, sesuai hasil laporan puskesmas, sedikitnya ada 13 anak di Kabupaten Kediri yang mengidap diabetes.
“Belasan anak itu usianya di bawah 18 tahun,” kata Bambang.
Berbeda dengan diabetes yang biasa diidap oleh orang dewasa yang merupakan diabetes tipe 2, anak-anak ini mengidap diabetes tipe 1. Sebagian besar penyebabnya karena faktor genetik.
Diabetes tipe 1 menurut Bambang terjadi saat kondisi autoimun. Yakni, tubuh anak tidak bisa memproduksi insulin karena sistem kekebalan tubuh menyerang sel beta di pankreas. Akibatnya, pankreas tidak bisa membuat insulin.
Padahal menurut Bambang insulin memiliki fungsi yang penting. Di antaranya mengatur agar kadar gula darah di tubuh manusia bisa tetap normal.
“Tanpa insulin gula tidak bisa masuk ke dalam sel buat dijadikan energi. Akhirnya, gula menumpuk di darah dan membuat kadar gula darah jadi tinggi,” terang Bambang.
Anak-anak penderita diabetes tipe 1 ini menurut Bambang harus tergantung pada suntikan insulin tiap hari. Sehingga, mekanisme mengubah gula menjadi energi di dalam tubuh bisa tetap berjalan.
“Mereka harus melakukan suntik insulin setiap hari karena penyebabnya tidak ada insulin,” paparnya.
Untuk memastikan pendataan puskesmas akurat, menurut Bambang pihaknya juga mengintensifkan deteksi dini penyakit diabetes tipe 1. Salah satunya lewat program cek kesehatan gratis (CKG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Dengan demikian, dinas kesehatan bisa mengoptimalkan penanganan anak-anak tersebut.
Seperti diberitakan, salah satu anak penderita diabetes tipe 1 adalah Regina Felicia Zahra, 12, asal Kepung. Di usianya yang masih belia, dia harus menjaga pola makannya agar tidak terlalu banyak kadar gula.
“(Makannya) tetap tiga kali sehari. Tapi takarannya hanya enam sendok,” jelas Tianah, 54, Sang ibu.
Selain itu, setiap harinya, dia juga harus suntik insulin. Jumlahnya empat kali sehari. Meski dengan segala keterbatasannya itu, Regina merupakan murid berprestasi. Awal Juni lalu dia berhasil meraih juara 1 lomba menulis cerita Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). (*)
Editor : Mahfud