JP Radar Kediri – Musim pancaroba seperti saat ini sering menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat.
Tak sedikit yang mengira dirinya terserang flu, padahal yang sebenarnya terjadi adalah reaksi alergi.
Padahal, penanganan keduanya berbeda dan harus disesuaikan dengan penyebabnya.
Flu disebabkan oleh infeksi virus influenza dan ditandai dengan gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, lemas, hingga batuk berdahak.
Gejalanya muncul secara mendadak dan biasanya berlangsung sekitar lima hingga tujuh hari. Dalam beberapa kasus, flu bisa memicu komplikasi, terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah.
Sementara itu, alergi bukan disebabkan oleh virus, melainkan oleh respons sistem imun terhadap zat pemicu (alergen), seperti debu, serbuk sari, bulu hewan, atau makanan tertentu.
Gejalanya bisa berupa hidung berair, bersin-bersin, mata gatal dan berair, namun tanpa disertai demam.
Alergi bisa muncul secara berulang, terutama bila penderita satu klinik di Kota Kediri.
Perbedaan ini penting diketahui agar masyarakat tidak keliru dalam mengobati. Flu bisa diatasi dengan istirahat, konsumsi cairan yang cukup, dan obat penurun demam.
Sedangkan alergi memerlukan antihistamin dan menghindari faktor pemicunya.
Kasus flu dan alergi meningkat ketika cuaca tidak menentu. Polusi udara dari kendaraan, debu jalanan, serta perubahan suhu yang ekstrem menjadi faktor pemicu yang cukup dominan.
“Anak-anak sekolah juga banyak yang datang ke puskesmas dengan keluhan pilek dan bersin-bersin. Tapi setelah diperiksa, ternyata bukan flu, melainkan alergi debu,” ungkap seorang petugas kesehatan di Puskesmas Pesantren.
Langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain menggunakan masker saat keluar rumah, menjaga kebersihan kamar dan lingkungan, serta menghindari paparan alergen.
Tak kalah penting, menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi dan istirahat cukup.
Bila gejala yang dirasakan tak kunjung reda dalam tiga hari, atau justru memburuk, segera periksa ke dokter.
Penanganan sejak dini akan mencegah kondisi makin parah.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira