JP Radar Kediri – Hari Raya Idul Adha selalu membawa berkah berupa melimpahnya daging kurban di banyak rumah. Di Indonesia sendiri, hewan yang sering disembelih untuk kurban adalah sapi dan kambing.
Setelah disembelih dan di timbang, daging kurban barulah dibagikan dalam bentuk potongan yang siap diolah menjadi berbagai hidangan lezat.
Namun, di tengah euforia menyambut pesta daging setahun sekali ini, tak sedikit warga yang justru kalap dan mengonsumsi daging secara berlebihan dalam sehari.
Padahal, ada batas yang sebaiknya tidak dilampaui agar tubuh tetap sehat dan tidak kaget menghadapi lonjakan asupan protein serta lemak secara tiba-tiba.
Daging merah seperti sapi dan kambing memang mengandung nutrisi penting seperti protein, zat besi, seng, dan vitamin B12.
Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah besar dalam satu waktu, tubuh bisa kewalahan memprosesnya, terutama bagi yang tidak terbiasa makan daging dalam porsi banyak. Efek paling umum yang terjadi adalah gangguan pencernaan seperti perut kembung, sembelit, atau bahkan diare.
Belum lagi risiko meningkatnya kolesterol dan tekanan darah apabila daging dimasak dengan santan kental atau digoreng dengan banyak minyak.
Idealnya, dalam sehari konsumsi daging merah dibatasi sekitar 100 hingga 150 gram untuk orang dewasa sehat. Itu pun sebaiknya dibagi dalam dua kali makan agar tubuh punya waktu mencerna secara bertahap.
Sayangnya, dalam suasana lebaran kurban, tak sedikit yang tanpa sadar mengonsumsi daging sejak pagi hingga malam, dari sate, gulai, tongseng, hingga sop daging—semuanya dikonsumsi berturut-turut.
Kondisi ini bisa jadi makin berisiko apabila penderita memiliki riwayat penyakit lambung, kolesterol tinggi, atau hipertensi. Apalagi, sebagian besar olahan daging kurban disajikan dengan bumbu pekat dan kuah santan yang memperberat kerja organ dalam, terutama liver dan ginjal.
Untuk itu, penting menjaga keseimbangan antara porsi dan jenis makanan. Tak ada salahnya menyelingi santapan daging dengan sayur-sayuran segar, buah, atau makanan berserat lain agar pencernaan tetap lancar. Air putih juga jangan sampai dilupakan agar metabolisme tubuh tetap terjaga.
Momen kurban memang waktu yang tepat untuk berbagi dan menikmati kebersamaan bersama keluarga. Tapi jangan sampai semangat makan daging justru membuat tubuh kelelahan dan jatuh sakit.
Bijak dalam mengatur porsi dan frekuensi makan daging tak hanya menjaga kesehatan, tapi juga membuat stok daging bisa dinikmati lebih lama dalam berbagai variasi masakan.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira