Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tidak Sekadar Pulih! Ketika Luka Menjadi Titik Awal Pertumbuhan Diri lewat Post-Traumatic Growth

Yuni Larasati • Senin, 26 Mei 2025 | 21:48 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Dalam hidup, setiap orang pernah merasakan luka. Ada yang datang dari kehilangan orang tercinta, kecelakaan, kegagalan besar, atau pengalaman hidup yang sangat mengguncang.

Dalam masa-masa itu, dunia seolah runtuh. Pikiran kacau, harapan menghilang, dan masa depan tampak seperti kabut tebal yang tak bisa ditembus. Dari trauma tersebut ada berbagai macam reaksi yang muncul.

Umumnya berfokus pada bagaimana cara untuk bertahan dan pulih. Namun, di baik trauma tersebut ada sebuah fenomena psikologis yang jarang dibicarakan, yaitu Post-Traumatic Growth (PTG). Ini adalah proses dimana seseorang tidak hanya kembali ke kondisi semula, tetapi justru berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih berdaya.

Post-Traumatic Growth (PTG) adalah perubahan positif psikologis yang dialami seseorang sebagai hasil dari perjuangan mereka menghadapi “luka” dan trauma.

Konsep PTG pertama kali dikenalkan oleh para psikolog, Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun pada tahun 1990-an. Mereka menemukan bahwa beberapa orang justru mengalami perkembangan kepribadian dan pandangan hidup yang signifikan setelah melewati peristiwa traumatis.

Berbeda dengan coping atau sekadar bertahan hidup, PTG membawa individu ke tahap yang lebih tinggi: mereka mendapatkan makna baru, tujuan hidup yang lebih dalam, dan kekuatan yang sebelumnya tidak mereka sadari.

PTG bisa terlihat dalam cara seseorang memandang hidup. Hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap remeh menjadi lebih bermakna.

Senyuman anak, sinar matahari pagi, atau percakapan hangat terasa jauh lebih dalam nilainya. Hubungan dengan orang lain pun berubah.

Orang yang mengalami PTG biasanya menjadi lebih terbuka, lebih menghargai waktu bersama, dan lebih tulus dalam menjalin koneksi.

Tidak hanya itu, banyak dari mereka merasa lebih kuat secara pribadi. Trauma yang mereka alami menjadi bukti bahwa mereka bisa bertahan, bahkan dalam kondisi paling sulit. Dari titik terendah itu, mereka menemukan kekuatan batin yang sebelumnya tersembunyi.

Proses menuju PTG tidaklah mudah. Butuh waktu, refleksi, dan sering kali air mata. Tidak jarang proses ini juga disertai rasa marah, kecewa, atau putus asa.

Namun perlahan, luka yang awalnya terasa menyakitkan berubah menjadi lahan subur bagi pertumbuhan jiwa.

Namun penting untuk diingat, bahwa tidak semua orang mengalami Post-Traumatic Growth, dan itu bukan kegagalan.

Setiap orang punya cara sendiri dalam menyembuhkan luka. PTG bukan tujuan yang harus dicapai, melainkan kemungkinan yang bisa terjadi jika kondisi mendukung.

Post-Traumatic Growth menunjukkan bahwa manusia memiliki daya lenting luar biasa. Dari titik terlemah, seseorang bisa bangkit dengan kekuatan baru. Dari kehilangan, bisa lahir pengertian yang lebih dalam.

Dari luka, bisa tumbuh makna. Karena terkadang, dalam hancurnya diri, kita justru menemukan siapa diri kita sebenarnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#Post Trauma