JP Radar Kediri – Pemerintah Kota Bogor pada Senin (12/5) lalu telah mengungkapkan penyebab keracunan masal yang menimpa ratusan pelajar di Kota Bogor melalui hasil uji lab.
Jumlah siswa yang mengalami keracunan di Kota Bogor mengalami kenaikan. Korban baru yang terdata oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor bertambah sembilan orang. Sehingga total keseluruhan siswa yang menjadi korban keracunan massal menjadi 223 orang.
Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya bakteri berbahaya yang terdapat pada sample makanan talor ceplok saus barberkyu yang disajikan kepada para siswa. Dua bakteri tersebut adalah Escherichia coli (E.coli) dan Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi padan saluran pencernaan.
Lantas apa itu bakteri E.coli dan Salmonella?
Secara alami, E.coli sebenarnya hidup di dalam usus manusia dan hewan sebagai bagian dari sistem pencernaan normal. Namun, beberapa jenis E.coli—terutama strain O157:H7—dapat berubah menjadi patogen mematikan ketika masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang tercemar.
Bakteri ini bisa berkembang biak dalam makanan yang tidak dimasak hingga matang sempurna, seperti daging olahan atau sayur yang tidak dicuci bersih. Kontaminasi juga bisa terjadi jika makanan disentuh tangan yang tidak higienis.
Gejala yang muncul biasanya berupa sakit perut hebat, diare yang kadang berdarah, mual, dan muntah. Pada kasus parah, terutama pada anak-anak dan lansia, infeksi E.coli bisa menyebabkan komplikasi serius seperti gagal ginjal (disebut sindrom uremik hemolitik).
Salmonella sendiri adalah bakteri yang umum ditemukan pada daging ayam, telur mentah, dan susu yang tidak dipasteurisasi. Sayuran mentah yang dicuci dengan air tercemar juga bisa menjadi medium penyebaran.
Bakteri ini bisa bertahan hidup meski makanan disimpan di suhu ruangan, dan cepat berkembang biak dalam kondisi lembap serta hangat. Makanan yang diolah tanpa standar sanitasi yang benar bisa menjadi sarang penyebaran bakteri ini.
Gejala infeksi Salmonella meliputi diare, demam, kram perut, sakit kepala, dan muntah. Gejalanya biasanya muncul dalam waktu 6–72 jam setelah mengonsumsi makanan tercemar dan bisa berlangsung selama 4–7 hari. Meskipun umumnya sembuh tanpa pengobatan, kasus berat tetap membutuhkan perawatan medis.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira