JP RADAR KEDIRI- Statistik menjelaskan, prevelensi pengidap gagal ginjal saat ini berkisar 0.38 persen dari jumlah penduduk. Dari jumlah itu 60 persen di antaranya harus cuci darah.
Di Kota Kediri, baru ada empat rumah sakit yang dilengkapi unit cuci darah. Total alatnya kurang dari 60 unit. Artinya, masih kurang untuk memenuhi kebutuhan pasien cuci darah.
“Sehingga beberapa orang harus antre ke luar kota,” terang AKBP dr Badrul Munir SpPD, spesialis penyakit dalam RS Bhayangkara Kediri.
Dari semua pasien itu, penyebab paling banyak adalah hipertensi dan diabetes. Jika dipersentasekan, mencapai 35 persen karena hipertensi dan 29 persen diabetes. Sisanya disebabkan faktor risiko lain di luar dua penyakit tersebut.
“Artinya kalau kita bisa mengendalikan dua penyakit ini, itu sangat strategis untuk menekan kejadian gagal ginjal kronik. Dua penyakit ini kalau saya istilahkan seperti dua teroris, silent killer,” urainya.
Dua penyakit ini juga, menurutnya, sering terlambat dideteksi penderitanya. Tahu-tahu sudah parah dan berdampak pada kerusakan ginjal. Padahal, dua penyakit itu termasuk sangat bisa dicegah.
“Baik dari pola lifestyle-nya atau obat-obatannya ada semua. Kalau berbicara BPJS pun, sangat ada (pengobatan untuk pencegahan, Red). Sangat cukup,” sambung Ketua IDI Kota Kediri Periode 2021-2025 itu.
Oleh sebab itu, meningkatkan kesadaran masyarakat sangat diperlukan. Selain itu, petugas kesehatan juga harus lebih proaktif dengan menggencarkan skrining awal melalui fasilitas kesehatan. Seperti contoh melalui program BPJS, skrining awal dapat digencarkan melalui faskes tingkat 1.
“Dia kan ada data anggotanya yang dia tanggung. Dari faskes 1 secara proaktif menskrining pesertanya. Jadi tidak hanya ada namanya saja di faskes itu tapi tidak pernah terpantau oleh petugas medisnya,” tandasnya sembari menyebut, skrining di masyarakat perlu digalakkan.
Adapun untuk faktor risiko yang langsung memicu kerusakan ginjal yang paling umum ditemui adalah dari pemakaian obat-obatan yang sifatnya nefrotoksik.
Namun menurutnya, kasus seperti itu tidak lebih banyak dibandingkan yang dipicu penyakit hipertensi dan diabetes.
“Biasanya masyarakat yang awam suka mengonsumsi obat-obatan rematik seperti ‘setelan’. Itu kalau tidak terkontrol, bisa merusak lambungnya sampai ginjalnya,” beber dr Badrul.
Saat ini, pasien-pasien yang menjalani hemodialisis di RS Bhayangkara paling banyak dari rentang usia 45-54 tahun. Ada pula pasien-pasien muda yang rutin melakukan terapi cuci darah.
Dia pun mendorong agar masyarakat bisa meningkatkan kesadaran tentang faktor-faktor risiko pemicu gagal ginjal.
Salah satunya dengan rutin memantau gula darah dan tekanan darah. Terlebih untuk masyarakat yang memiliki risiko genetik terjangkit penyakit tersebut.
“Yang orang tuanya ada darah tinggi, ada DM (diabetes mellitus, Red), si anak harus lebih aware. Saya ada bakat hipertensi loh, saya ada bakat DM loh. Karena dia pasti terdaftar di faskes tertentu, maka segera periksa. Karena risikonya mungkin 30 persen (juga menderita penyakit yang sama, Red),” urainya, mendorong agar masyarakat rutin melakukan deteksi dini.
Sementara itu, penurunan fungsi ginjal itu tidak hanya disebabkan beberapa penyakit tertentu. Melainkan juga identik dengan kebiasaan atau gaya hidup kurang sehat yang juga menjadi faktor risiko.
Ahli Gizi dari RSUD Gambiran Miftakhul Jannah menyoroti maraknya pola konsumsi pangan masyarakat yang tidak sehat.
Sehingga, berpotensi memicu penyakit tertentu, termasuk gagal ginjal. Mirisnya, itu justru banyak ditemukan dari anak-anak usia sekolah.
Dia mencontohkan, konsumsi makanan dengan kadar natrium yang tinggi dan terlalu sering berpotensi memengaruhi fungsi ginjal.
Itu banyak ditemui di makanan-makanan instan atau jajanan olahan. Atau, yang juga disebut dengan ultra-processed food.
“Seperti sosis, nugget, pentol, yang masa simpannya panjang,” ujarnya, sembari menyebut, masa simpan yang panjang itu juga menjadi salah satu indikator adanya penggunaan unsur pengawet dan natrium yang tinggi.
Adapun anjuran konsumsi harian untuk garam dibatasi cukup 1 sendok teh atau setara 5 gram dalam sehari. Atau, setara 2 ribu milligram untuk natrium.
“Kalau di makanan UPF (ultra-processed food) itu pasti sudah di angka ratusan ribu milligram natriumnya. Sedangkan nanti dalam sehari kita pasti makannya berulang, pasti ada natrium lainnya,” urai Miftakh.
Selain itu, perilaku konsumsi minuman kemasan dengan berbagai rasa juga berpotensi memicu gagal ginjal.
Banyak pula kasus anak maupun orang dewasa harus dilarikan ke rumah sakit karena sering minum minuman rasa-rasa.
“Minuman berenergi apalagi. Itu justru lebih cepat merusak ginjal. Merasa sudah minuman rasa-rasa tadi, akhirnya minum air putihnya kurang sehingga dapat merusak ginjal,” tandas perempuan asal Malang itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah