KEDIRI, JP Radar Kediri - Namanya Puspa Sri Wulandari. Usianya saat ini sudah hampir menembus setengah abad. Namun, semangat dan motivasi dalam berkarya pantang surut. Masih gigih dan tak segan kerja keras. Khususnya dalam memanfaatkan jemarinya menjadi karya yang kreatif.
Ya, Puspa-panggilan wanita yang tinggal di Jalan Sultan Agung Kota Kediri ini-adalah pengusaha kostum kreatif. Karyanya itu dia pasok ke berbagai daerah. Tak hanya di Kediri Raya, juga ke kota-kota lain di Jatim hingga ke luar pulau.
Tapi, jangan melihat sukses itu dari yang terlihat saat ini. Proses panjang harus dia lewati sebelum bisa seperti sekarang.
“Setelah resign dari tempat kerja saya sebagai penyiar, saya beralih ke usaha konveksi,” ujar Puspa, mengawali cerita.
Memang, dulu Puspa bekerja di salah satu stasiun radion di Kota Kediri. Namun, ketika menikah sang suami memintanya mundur. Dia pun memilih memanfaatkan bakatnya dalam menjahi. Membuat celemek dan asesoris lain untuk kebutuhan dapur.
“Keahlian ini warisan dari ibu,” ucapnya, sambil mengenang sang ibunda yang sudah meninggal ketika dirinya masih kelas tiga sekolah dasar.
Usaha konveksinya itu mendapatkan arah baru pada 2010. Ketika itu buah hatinya yang duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) bergabung dalam gelaran parade budaya. Tak dinyana, orang tua teman-teman anaknya berbondong-bondong mendatangi. Memintanya membuatkan kostum yang unik.
“Para wali murid bingung mau sewa di mana. Akhirnya mereka menyuruh saya bikin. Langsung dibayar untuk modalnya,” jelas perempuan 40 tahun ini.
Tentu saja dia sangat senang. Sebab, bekalnya hanya benang dan mesin jahit. Sementara, bahan-bahan kostum dia beli dari uang panjar atau down payment (DP) dari pemesan.
Singkat cerita, Puspa mulai fokus membuat kostum unik. Meskipun pandai menjahit, pekerjaan tersebut adalah sesuatu yang baru. Membutuhkan kreativitas yang tinggi, tidak seperti membuat baju biasa.
Setelah selesai dipakai, kostum-kostum itu menumpuk di laci Puspa. Dia pun memutar otak, bagaimana cara bisa memanfaatkan. Akhirnya, dia pun mencoba memanfaatkan teknologi digital.
Saat itu, pada 2012, dunia digital belum semaju dan seheboh saat ini. Dibantu suaminya yang seorang digital marketer, Puspa memanfaatkan website. Dia gunakan untuk memasang iklan dan pemasarannya.
Nasib bagus memihaknya. Respon pasar sangat bagus. Membuatnya menambah koleksi baju hingga 50 kostum unik.
Tanggapan bagus itu tidak semata-mata karena dia sudah memanfaatkan kemajuan digital. Tapi juga faktor berita dari mulut ke mulut. Pelanggannya yang puas akhirnya menyebarluaskan ke teman-teman dan kolega mereka.
“Mouth to mouth juga berdampak. Karena digital juga belum masif banget,” aku wanita alumnus Universitas Kadiri ini.
Selanjutnya Puspa mencoba meningkatkan cakupan bisnis. Tak hanya menambah koleksi juga mengembangkan kemampuannya. Latar belakangnya yang bukan lulusan tata busana memacunya untuk terus belajar dan belajar. Dia pun bisa membuat beragam karakter animasi, hewan, tumbuhan, profesi, dan apapun sesuai keinginan pemesan.
Tapi, dia jarang membuat kostum bertema pakaian adat. Mengapa?”Karena yang seperti itu di (persewaan) wedding juga banyak,” dalihnya.
Jerih payahnya itu tentu saja menuai hasil yang sepadan. Omzetnya bisa jutaan rupiah per bulan. Padahal dulu bekalnya hanya benang dan mesin jahit. Sedangkan modal uang dari DP pelanggan.
“Omset per bulannya sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta,” terangnya.
Tidak hanya kalkulasi omset yang naik signifikan. Jumlah kostum juga tak kalah. Dari puluhan hingga ratusan. Ada 800-an kostum terkoleksi di galerinya yang terletak di Jalan Sultan Agung, No.47, Kediri.
Tapi, Puspa juga enggan terbuai dengan situasi itu. Apalagi kini ada ancaman yang menghadangnya. Salah satunya soal efisiensi anggaran yang dicanangkan pemerintah. Banyak perpisahan dan event yang batal digelar.
“Perpisahan dan wisuda sekarang diminimalisasi, event juga udah jarang, khawatir lumpuh, ” ucapnya khawatir.
Namun, dia tetap semangat berkiprah. Baginya, rezeki tidak hanya terbatas oleh geografis. Ia harus mengembangkan skill dan memperluas pemasaran untuk mendapatkan orderan dari luar kota. Terbukti, kostum karya jemarinya sudah sampai ke Jakarta, Lampung, Surabaya, dan masih banyak lagi.
Kiprah Puspa dalam dunia konveksi adalah contoh nyata bahwa peran ibu rumah tangga bisa berdaya dengan semangat yang tinggi untuk berkarya dan menghasilkan pundi-pundi rezeki. Dengan ancaman besar yang tidak bisa dikendalikan, Ia mampu bertahan melalui upaya dan jerih payah mempertahankan kualitas karya serta memperluas pemasaran produknya.
Editor : Shinta Nurma Ababil