JP Radar Kediri–Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Kediri langsung melakukan investigasi menyusul dugaan keracunan penerima makanan di wilayah Badas pada Rabu (2/9) lalu.
Selain memastikan siswa yang mengalami gejala mendapatkan penanganan, Berikutnya juga menghentikan operasional SPPG Blaru.
Selanjutnya, mereka mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium di Surabaya.
Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib mengatakan, investigasi dilakukan setelah pihaknya menerima laporan terkait dugaan keracunan tersebut.
Penanganan terhadap anak-anak yang mengalami gejala juga langsung dilakukan untuk memastikan tidak ada yang luput dari pemeriksaan.
Menurutnya, seluruh anak yang sempat mengalami gejala kini telah membaik.
“Begitu kami dapat laporan, kami langsung investigasi. Kami obati semua anak-anak yang bergejala dan dipastikan tidak ada yang tertinggal. Alhamdulillah semuanya sudah baikan semua,” kata pria yang akrab disapa Khotib itu.
Baca Juga: 10 Siswa Bergejala Keracunan Usai Diduga Santap MBG di Badas Kediri, Enam Ditangani Puskesmas
Selain investigasi, menurut Khotib satgas juga mengambil sampel makanan yang diduga terkait dengan insiden keracunan tersebut.
Sampel makanan dibawa ke laboratorium di Surabaya sesuai prosedur penanganan dugaan kejadian keracunan pangan.
Pemeriksaan diharapkan bisa membantu memastikan ada tidaknya kontaminasi. Serta mengetahui faktor yang menjadi penyebab keluhan.
“Sesuai SOP kami, setiap ada dugaan tentu kami periksakan ke laboratorium di Surabaya. Sampel sudah diambil,” bebernya sembari memperkirakan hasil uji lab keluar sekitar satu sampai dua minggu.
Seperti diberitakan, puluhan siswa di Desa Blaru, Badas diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG.
Berdasar keluhan para korban, di menu MBG pada Rabu (2/9) lalu, terdapat ayam bumbu kuning yang terasa kecut. Selain itu, menu itu juga berlendir.
Setelah memakan MBG, siswa mengalami diare hingga mual-mual. Setelah insiden keracunan pada Rabu lalu, Kamis (3/9) keesokan harinya siswa mendapati ada ikan lele yang dagingnya masih merah dan diduga belum matang.
Sementara itu, pascainsiden keracunan makanan yang dialami siswa, SPPG Blaru berhenti beroperasi sejak Senin (7/9) lalu.
Kepala SPPG Blaru Ervia Dwi Putra Hernanda mengaku penghentian operasional karena ada proyek pembangunan. Karenanya aktivitas dapur dihentikan.
Baca Juga: Lagi, MBG Diduga Picu Keracunan, Kali Ini di Badas Kediri , Satu SPPG Disorot
Terkait penghentian operasional SPPG Blaru, Khotib yang dihubungi kemarin memberikan alasan yang berbeda.
Menurutnya, SPPG Blaru berhenti beroperasi karena mendapat status suspend dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Namun, mengenai durasi suspend, pihaknya belum mengetahui secara pasti karena menjadi kewenangan BGN.
“Yang suspend dari BGN, tidak tahu sampai kapan. Yang jelas. sampai kekurangan pada SPPG bisa terpenuhi,” tandasnya.
Selain sanksi dari BGN, satgas juga memberi rekomendasi kepada pengelola SPPG untuk melakukan perbaikan.
Selain fasilitas SPPG, satgas juga meminta dapur memperbaiki standar operasional prosedur (SOP) dan tata kelola penyajian MBG.
Khotib menyebut, kepemilikan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) tidak otomatis menjamin makanan terbebas dari risiko.
Terutama jika SOP dan tata kelola tidak dijalankan secara konsisten. Karena itu, pengawasan terhadap penerapan standar setelah sertifikat diterbitkan tetap penting.
“Yang paling penting adalah kepatuhan dalam menerapkan SOP atau tata kelolanya. Walaupun punya SLHS, kalau dalam perjalanan SOP dan tata kelolanya tidak dipatuhi, otomatis berisiko terjadi keracunan,” tegasnya.
Khotib memastikan, kejadian di Badas juga menjadi catatan bagi SPPG lainnya. Satgas akan meningkatkan monitoring agar standar dan petunjuk teknis yang telah ditetapkan BGN benar-benar diterapkan di lapangan.
“Kita harapkan dengan monitoring mereka kembali mematuhi semua SOP dan juknis yang sudah ditetapkan BGN,” imbuhnya.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri