Minim Air, Petani di Kota Kediri Beralih ke Komoditas Jagung hingga Kedelai

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 19:08 WIB
Penyuluh pertanian Kecamatan Mojoroto menunjukkan tanaman kedelai yang diserang hama serangga. Komoditas ini jadi salah satu solusi hadapi kemarau panjang. (Foto: Ayu Isma)
Penyuluh pertanian Kecamatan Mojoroto menunjukkan tanaman kedelai yang diserang hama serangga. Komoditas ini jadi salah satu solusi hadapi kemarau panjang. (Foto: Ayu Isma)

KOTA, JP Radar Kediri - Musim kemarau disertai fenomena El Nino tahun ini menyebabkan cuaca panas berlangsung lebih lama dan lebih kering dari biasanya. Sektor pertanian termasuk yang paling terdampak.

Tak hanya berganti komoditas begitu memasuki masa tanam ketiga ini. Banyak petani juga mengeluhkan biaya pertanian yang melonjak tajam imbas cuaca panas.

Penyuluh Pertanian Wilayah Mojoroto Mashudi mengatakan, memasuki masa tanam ketiga di tahun ini, banyak petani mulai beralih ke komoditas tanam. Rata-rata beralih ke tebu dan jagung.

Namun, tak sedikit pula petani yang beralih ke komoditas minim air seperti kedelai dan labu madu untuk lebih menekan biaya produksi. “Ini pun sudah mulai pakai diesel semua,” ungkapnya.

Baca Juga: Polsek Pagu Perkuat Pendampingan Petani dalam Program Ketahanan Pangan

Sedianya, di awal masa tanam, penggunaan diesel untuk pengairan belum terlalu tinggi. Namun karena kondisi lahan yang sudah sangat kering di fase awal mengharuskan petani mulai mengairi sawahnya.

Pengeluaran dari konsumsi solar untuk diesel pun otomatis melonjak.

“Makanya kemarin petani di daerah Mojoroto ini banyak mengajukan (subsidi atau bantuan, Red) untuk pengairan. Tapi mintanya yang sudah sibel (pompa air submersible, Red), bukan yang diesel karena kalau diesel itu cari BBM-nya kan juga susah,” terang Mashudi yang mendapat banyak keluhan dari petani agar sarana pompa air dengan penggerak listrik bisa diperbanyak.

Menurutnya, di wilayah Kecamatan Mojoroto, baru ada segelintir petani saja yang mengairi sawahnya dengan pompa submersible. Itupun seluruhnya dari swadaya petani sendiri.

Baca Juga: BBPP Lembang Buka Magang Petani Muda ke Taiwan Batch 9 dan Jepang

Karena itu, petani berharap pemerintah bisa memfasilitasi kendala pertanian di musim kemarau dengan alat pertanian yang lebih hemat biaya.

Adapun kemarau yang lebih kering dan panjang juga menyebabkan masa tanam ketiga ini kurang maksimal. Misalnya, banyak lahan yang dibiarkan kosong begitu saja karena petani khawatir dengan biaya produksi yang besar.

“Kalau petani yang modalnya lebih kecil lagi paling beralih ke kedelai dan labu madu, tapi rata-rata tetap jagung. Cuma kendalanya, perawatan jagung hari ini dan kemarin biayanya lebih tinggi hari ini karena kebutuhan airnya lebih besar. Bisa sampai 50 persen peningkatannya,” beber pria yang juga koordinator penyuluh pertanian wilayah Kecamatan Mojoroto itu.

Baca Juga: Ratusan Petani Lereng Kelud Rebutan Lahan Garapan, Demo ke Perhutani Bersamaan, TNI dan Polisi Pisahkan Massa

Dengan biaya dan beban perawatan yang lebih kecil, sayangnya komoditas kedelai belum banyak diminati petani. Seperti contoh di musim tanam ketiga tahun ini, di Kecamatan Mojoroto lahan yang ditanami kedelai hanya sekitar 1,5 hektare yang terletak di Kelurahan Gayam.

Padahal, kebutuhan pupuk kimia untuk komoditas kedelai jauh lebih sedikit karena kemampuannya memperkaya unsur hara nitrogen dalam tanah secara alami lewat akarnya.

“Jadi otomatis tanah di sekitar perakaran itu (yang ditanami kedelai, Red) nitrogennya sudah cukup. Sehingga nggak perlu dipupuk. Dan setelah panen, biasanya di sekitar perakaran itupun unsur nitrogennya masih banyak yang tertinggal,” urai Mashudi.

Dengan begitu, komoditas kedelai menurutnya justru bagus ditanam untuk konsep pertanian bergilir atau rotasi tanaman. Sayangnya, produktivitas yang rendah dan harga yang tak menentu membuat tak banyak petani melirik varietas ini. (ais/tar)

 

Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
penyuluh pertanian petani kota kediri pertanian kemarau el nino