JP Radar Kediri-Visitasi yang dilakukan Saudia Airlines bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) ke Bandara Dhoho dan hotel untuk jemaah sejak Rabu (19/8) lalu hingga kemarin (20/8), bukan sekadar untuk mengecek kesiapan bandara saja.
Maskapai penerbangan asal Saudi Arabia itu diberi tenggat untuk membuat rencana penerbangan di Bandara Dhoho sebelum 20 September.
Hal tersebut diungkapkan oleh General Manager Hajj and Umrah Revenue Management and Sales Coordination Saudia Airlines Amer Alghamdi.
Pria yang kemarin mengikuti rapat di hotel Grand Surya itu mengatakan, pihaknya harus memastikan seluruh aspek pendukung penerbangan siap sebelum mengambil keputusan operasional di Bandara Dhoho.
“Kami menerima permintaan untuk mempertimbangkan Bandara Dhoho sebagai embarkasi haji dan umrah dengan sekitar 9.000 hingga 9.500 penumpang,” kata Amer dalam bahasa Inggris.
Meski demikian, menurut Amer pihaknya tidak bisa mengambil keputusan secara cepat. Sebab, mereka harus mempertimbangkan banyak aspek.
Terutama terkait keselamatan dan kenyamanan jemaah, masyarakat, serta lingkungan. Kajian yang dibuat Saudia, tutur Amer, tidak hanya menyangkut kondisi fisik bandara.
Melainkan juga melihat aspek regulasi, operasional penerbangan, layanan kru, hotel, ground handling, keamanan.
Kemudian, aspek keselamatan, perawatan pesawat, dukungan teknis, hingga penanganan apabila terjadi kondisi darurat.
Persetujuan otoritas penerbangan sipil Arab Saudi atau General Authority of Civil Aviation (GACA), diakui Amer juga menjadi bagian dari proses tersebut.
Baca Juga: Hotel Embarkasi Haji Bakal Digerojok Insentif, Apa saja?
GACA akan berkoordinasi dengan Dirjend Perhubungan Udara Indonesia terkait aspek regulasi dan kelayakan operasional.
Saudia, terang Amer, juga perlu mengetahui kesiapan kompleks haji. Termasuk lokasi jemaah akan menjalani proses pelayanan serta akses menuju Bandara Dhoho.
“Saudia belum bisa mengambil keputusan atau memberi janji sebelum seluruh stakeholder menjalankan tanggung jawabnya. Tantangan utama saat ini bukan bandara maupun kondisi bandara, melainkan waktu yang tersedia,” lanjut Amer.
Sebab, operasional penerbangan haji 2027 dijadwalkan dimulai April 2027.
Sementara, Saudia diberi tenggat untuk menyampaikan rencana penerbangan, termasuk jadwal dan slot penerbangan, sebelum 20 September 2026.
Setelah melakukan visitasi dan rapat koordinasi, Amer mengaku akan menyusun laporan awal untuk dikirimkan ke perusahaan di Arab Saudi.
Laporan tersebut akan jadi dasar bagi departemen terkait untuk melakukan kajian lanjutan sebelum masuk pada pembahasan kontrak, pemilihan penyedia layanan, serta pemeriksaan aspek legal dan teknis.
Terkait tenggat rencana penerbangan yang harus disusun Saudia Airlines tersebut, Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Jawa Timur Mahmudi optimistis seluruh proses dapat dituntaskan sesuai target.
Apalagi, semua stakeholder memberi dukungan penuh untuk mewujudkan embarkasi Dhoho.
“Saya pikir semua stakeholder mendukung. Masyarakat mendukung, Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri juga luar biasa mendukung,” ujarnya optimistis Embarkasi Dhoho bisa terwujud tahun depan.
Mahmudi mengatakan, Embarkasi Dhoho diperlukan untuk mengurai kepadatan di Bandara Juanda.
Embarkasi Surabaya, kata Mahmudi, harus melayani 44 ribu jemaah dan dinilai terlalu padat.
“Intinya, kenapa ada Dhoho? Ini untuk mengurangi beban selama ini di Surabaya yang begitu padat. Karena 44.000 jamaah haji Embarkasi Surabaya ini sangat mendesak untuk bisa diurai,” jelasnya.
Jika Embarkasi Dhoho beroperasi, sedikitnya ada sekitar 10 ribu jemaah yang bisa dialihkan ke Kediri. Mereka berasal dari Kediri, Magetan, Ngawi, Madiun.
Baca Juga: Bidik Embarkasi Haji Jadi Motor Pariwisata, Pemerintah Siapkan Ini untuk Pendamping Jemaah
Kemudian, Pacitan, Trenggalek hingga Bojonegoro dan daerah lain di wilayah Jawa Timur selatan.
“Dhoho ini adalah alternatif, jalan yang bisa memberikan satu solusi untuk pelayanan jemaah agar aman dan nyaman. Karena pelayanan jemaah haji yang nyaman, aman, dan murah ini sesungguhnya menjadi tujuan kita,” jelasnya.
Sementara itu, Asisten I Sekretariat Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesra Sukadi mengatakan, jika ada kekurangan yang harus dipenuhi, dia berharap dalam rapat kemarin bisa diselesaikan.
Sehingga, tahun depan penerbangan haji di Kediri bisa terlaksana.
“Harapan kami, diskusi hari ini (20/8) produktif. Tugasnya masing-masing apa, ya itu yang kita bahas supaya 2027 Kediri sudah jadi embarkasi,” tegasnya menyebut Pemkab Kediri siap memberi dukungan secara penuh.
Editor : Shinta Nurma AbabilSumber : Radar Kediri