Perlu Hotel Cadangan Antisipasi Pesawat Delay, Pemkab Kediri Banyak Belajar dari Embarkasi Jogjakarta

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Aktivitas di Bandara Dhoho Kediri. Tahun depan bandara ini ditunjuk menjadi embarkasi haji. (Foto Wahyu Adji)
Aktivitas di Bandara Dhoho Kediri. Tahun depan bandara ini ditunjuk menjadi embarkasi haji. (Foto Wahyu Adji)

 

JP Radar Kediri – Pemerintah Kabupaten Kediri diminta tidak hanya menyiapkan hotel utama sebagai lokasi embarkasi haji berbasis hotel.

Hotel cadangan juga harus dipersiapkan sejak awal untuk mengantisipasi gangguan operasional penerbangan. Termasuk jika terjadi penundaan keberangkatan akibat perawatan atau maintenance pesawat.

Pelajaran tersebut didapat Pemkab Kediri saat melakukan studi tiru penyelenggaraan embarkasi haji berbasis hotel di Jogjakarta.

Dalam paparannya, jajaran Kanwil Kementerian Haji DIY mengungkapkan, skema hotel cadangan menjadi bagian penting dalam standar operasional karena pernah digunakan saat terjadi gangguan penerbangan.

Plt Kepala Kanwil Kemenag DIY Silvia Rosetti menjelaskan, insiden itu terjadi pada salah satu kloter keberangkatan. Saat itu seluruh jamaah telah menjalani proses di hotel, kemudian diberangkatkan menuju Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).

Baca Juga: Penerbangan Super Air Jet Delay 10 Jam, 160 Penumpang Tertahan di Bandara Dhoho Kediri

Namun, setelah tiba di bandara, maskapai menyampaikan pesawat mengalami gangguan teknis sehingga keberangkatan harus ditunda.

“Diinfo oleh general managernya maskapai bahwa ini maskapainya mundur karena masalah teknis,” jelasnya.

Awalnya penundaan diperkirakan hanya berlangsung satu hingga dua jam. Namun setelah mendapat informasi terbaru dari maskapai bahwa proses perbaikan membutuhkan waktu lebih lama.

Panitia memutuskan mengembalikan seluruh jamaah ke hotel agar tetap mendapatkan pelayanan yang layak.

Baca Juga: Kabar Gembira Jelang Berlakunya Embarkasi Haji di Kediri, Tol Akses Bandara Selesai Pertengahan November

“Siapa yang mau paksain berangkat kalau mesinnya rusak,” jelas Silvia.

Keputusan itu diambil karena jemaah tidak mungkin menunggu berjam-jam di terminal bandara. Selain faktor kenyamanan, kondisi fisik jamaah juga menjadi pertimbangan utama.

Selain itu, karena ada penundaan, pasti jemaah akan bergejolak.               

Namun yang menjadi masalah adalah kloter berikutnya sudah bergerak menuju hotel. Sementara jemaah kloter yang tertunda harus dikembalikan ke hotel.

 Sehingga, jika dikembalikan, maka hotel akan tidak muat. Untungnya, hotel transit jemaah juga bersebelahan engan hotel yang juga satu manajemen. Sehingga masih ada kamar yang bisa dipakai.

“Hotel di manajemen kami ada dua dan bersebelahan. Satu dipakai untuk menampung jemaah. Sementara satu untuk petugas haji. Kebetulan yang hotel untuk petugas haji ini masih bisa untuk menampung jemaah yang alami delay,” jelas Anggun Anugrah Operational Secretary Ibis Hotel.

Walaupun ada penambahan hotel, namun segalanya tidak ditanggung oleh petugas haji. Seluruh kebutuhan jemaah selama masa penundaan, mulai konsumsi hingga akomodasi hotel, menjadi tanggung jawab maskapai.

 “Karena delay disebabkan pihak maskapai, maka semua ditanggung oleh maskapai,” jealas Anggun.

Dia menambahkan, bahwa penanganan kondisi tidak normal, seperti keterlambatan penerbangan atau perubahan jadwal keberangkatan, tidak bisa dilakukan secara spontan.

 Seluruh langkah harus mengacu pada SOP embarkasi yang telah disusun bersama.

Baca Juga: Hotel Embarkasi Haji Bakal Digerojok Insentif, Apa saja?

Menurut dia, setiap potensi gangguan harus kembali dianalisis untuk memastikan alur embarkasi tetap berjalan.

Mulai dari pergerakan jemaah, penggunaan ruang hotel, hingga skema pemulangan sementara ke kamar apabila terjadi penundaan penerbangan.

"Penanganan irregularities harus disesuaikan kembali dengan SOP embarkasi, kemudian dianalisis lagi alur embarkasi dan mitigation planning yang sudah dipersiapkan di hotel," tuturnya.

Anggun menambahkan, penyusunan mitigasi juga tidak bisa sekadar meniru daerah lain. Sebab, setiap hotel memiliki karakteristik lingkungan dan kondisi operasional yang berbeda.

 Karena itu, analisis harus disesuaikan dengan lingkungan sekitar hotel yang akan digunakan sebagai embarkasi haji.

"Pengkajiannya akan berpengaruh terhadap mitigation planning yang disiapkan. Jadi tidak hanya berpatokan pada analisis jadwal operasional keberangkatan maupun kedatangan antarkloter, tetapi juga harus menyesuaikan kondisi lingkungan hotel," jelas Anggun.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu materi yang dipelajari Pemkab Kediri. Sebab, skenario serupa juga berpotensi terjadi ketika embarkasi haji melalui Bandara Dhoho.

Karena itu, keberadaan hotel cadangan dinilai harus masuk dalam skema mitigasi sejak awal. Untuk diketahui, di Kediri sendiri, ada dua hotel yang sudah disurvei. Selain itu, ada sekitar 10 hotel yang juga menjadi opsi.

Solikin mengatakan, pengalaman Yogyakarta menjadi masukan penting dalam penyusunan konsep operasional embarkasi di Kediri.

Menurut dia, simulasi tidak cukup hanya dilakukan untuk alur normal, tetapi juga harus mencakup berbagai kemungkinan gangguan operasional.

“Paling tidak kita targetkan dua kali simulasi sebelum operasional. Dari simulasi itu nanti akan terlihat apa saja yang harus dipersiapkan,” tandasnya. 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
bandara dhoho kediri hotel penerbangan haji embarkasi haji