JP Radar Kediri–Kekeringan mulai melanda lereng Gunung Wilis. Selama sepekan terakhir, warga di Dusun Karangwaru dan Dusun Baran, Desa Ponggok, Mojo kesulitan mendapat air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak, mereka harus mengambil air ke sungai di desa tetangga.
Nawir, 74, warga Dusun Karangwaru, Desa Ponggok mengatakan, selama tujuh hari terakhir, air tidak mengalir sampai ke rumahnya. “Sudah seminggu ini tidak ada air sama sekali,” ujarnya.
Menyusutnya debit air mulai dirasakan sekitar sebulan terakhir. Jika sebelumnya aliran air dari sumber itu semakin mengecil, seminggu terakhir sudah sepenuhnya kering.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nawir terpaksa mengambil air dari sumber di Kranding, desa tetangga yang ada di bawah Ponggok.
Air ditampung menggunakan jeriken dan galon untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. “Pakai motor bawa dua sampai tiga galon,” lanjut pria yang butuh lima galon air tiap hari itu.
Selain mengambil air dari Desa Kranding, warga juga memanfaatkan sungai di Desa Petungroto untuk mandi dan mencuci.
Namun, kondisi sungai tersebut juga mulai memprihatinkan karena debit airnya juga terus menurun.
Kondisi serupa juga dirasakan Slamet, 50, warga RT 8, RW IV di Dusun Baran, Desa Ponggok. “Sebelumnya lancar. Dalam sebulan sudah ada tanda-tanda berkurang. Seminggu lebih ini tidak keluar,” keluhnya.
Demi mendapat air, Slamet sempat menunggu mengalirnya air di malam hari.
Namun, penantiannya tidak membuahkan hasil. Dia hanya mendengar suara air dari dalam pipa.
Sedangkan airnya tetap tidak keluar. Untuk memenuhi kebutuhan air, Slamet harus berjalan sekitar 100 meter menuju sungai di Desa Ponggok.
“Aksesnya tidak bisa buat motor karena jalan setapak. Itu pun airnya juga kecil tinggal rembesan,” beber Slamet.
Sungai tersebut juga biasa dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci pakaian. Namun, kondisi medan yang sulit sedikit merepotkan warga.
“Kalau mandi di sana, pulang sudah keringetan lagi,” urainya.
Menurut Slamet, kondisi kekeringan dirasakan oleh hampir seluruh wilayah di Desa Ponggok. Hanya warga yang memiliki sumur dengan kedalaman 100 meter saja yang masih mempunyai air.
“Sepertinya hampir seluruh Ponggok terdampak. Mungkin hanya dua (rumah) yang masih lancar karena punya sumur sekitar 100 meter,” tandasnya.
Terpisah, Sekretaris Desa Ponggok Siti Nurjannah membenarkan tentang kekeringan yang mulai melanda desanya.
Penurunan debit air membuat distribusi yang sebelumnya lancar harus dilakukan secara bergiliran. Sistem pembagian air inilah yang sering kali membuat warga kehabisan.
Mereka lantas mencari sumber air alternatif terdekat. Salah satunya dari sungai.
“Dari total 11 RT, hanya dua RT (yang suplai airnya) masih relatif aman,” ungkap Siti.
Berdasar pendataan desa, untuk di Dusun Baran RT 8 ada 15 kepala keluarga (KK). Selebihnya, harus menunggu giliran untuk mendapatkan air.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri