Hutan di Lereng Wilis Rawan Terbakar: BPBD dan Perhutani Siagakan Personel untuk Pengawasan 

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:10 WIB
Kondisi lereng Klotok Kediri yang terbakar pada Sabtu (8/8) lalu. (Foto Wahyu Adji)
Kondisi lereng Klotok Kediri yang terbakar pada Sabtu (8/8) lalu. (Foto Wahyu Adji)

 

JP Radar Kediri-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Klotok pada Sabtu (8/8) malam, jadi alarm kewaspadaan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri melakukan pemetaan ancaman serupa yang mungkin terjadi.

Termasuk area hutan lereng Gunung Wilis di Kecamatan Mojo dan Banyakan yang juga rawan dilalap si jago merah.       

Kalaksa BPBD Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno mengatakan, berdasarkan kejadian dan pemantauan tahun sebelumnya, kawasan Gunung Wilis menjadi salah satu wilayah yang rawan terjadi kebakaran lahan.

Kondisi tersebut terjadi saat vegetasi dan material di kawasan hutan mulai mengering di musim kemarau.

“Wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain kawasan Manyaran, Banyakan; dan Jugo, Mojo,” kata pria yang akrab disapa Djoko itu.

Dua wilayah tersebut, lanjut Djoko, berada di kawasan perbukitan dan hutan. Sehingga potensi kebakaran perlu diantisipasi. Terutama ketika kondisi lingkungan kering.

Baca Juga: Susul Kebakaran Bromo, Si Jago Merah Hanguskan Kawasan Gunung Klotok Kediri!

Pencegahan, tutur Djoko, tidak hanya dilakukan saat sudah muncul titik api. Melainkan, BPBD bersama stakeholder terkait menyiagakan personel selama 24 jam. 

“Personel yang siaga (karhutla) 24 jam ada 13 orang,” terang Djoko.

Upaya pencegahan kebakaran, beber Djoko, juga terus dilakukan lewat imbauan kepada masyarakat.

Yakni untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan meteorologis. Salah satunya, imbauan agar masyarakat tidak membakar lahan ketika membuka atau membersihkan lahan.

“Jangan membuang puntung rokok sembarangan, khususnya di kawasan hutan maupun lahan yang kering,” pintanya.

BPBD, kata Djoko, juga mendorong setiap lingkungan menyediakan peralatan pemadam sederhana. Serta menyiapkan personel dan perlengkapan yang dapat digunakan sewaktu-waktu ketika terjadi bencana.

Langkah tersebut dilakukan menyusul kebakaran di Petak 131a dan 131b RPH Pojok, BKPH Kediri, di Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan, Sabtu (8/8).

Kebakaran diperkirakan menghanguskan sekitar 1,5 hektare semak belukar dan serasah di kawasan yang ditumbuhi akasia, jati, dan johar. 

Api berhasil dipadamkan pada Sabtu malam. Selebihnya, tim gabungan melakukan pemantauan kembali hingga Minggu pagi untuk memastikan tidak ada titik api lagi.

Dengan kondisi musim kemarau, BPBD mengingatkan masyarakat untuk tidak meninggalkan sumber api maupun bara sisa pembakaran.

Baca Juga: Puncak Kemarau Agustus ini: Awas Bencana Kekeringan!

Jika menemukan titik api, warga diminta segera melapor kepada pemerintah desa, kepolisian, petugas pemadam agar bisa segera ditangani.

Terpisah, Waka Administratur KPH Perhutani Kediri Utara Bambang Ribudiono mengatakan, pihaknya juga menyiapkan personel untuk siaga.

“Misalnya ada kejadian di wilayah, semua bisa dikerahkan merapat ke titik kejadian,” ujar Bambang.

Jumlah personel yang diterjunkan, menurut Bambang menyesuaikan kondisi dan lokasi kejadian.

Saat kebakaran Gunung Klotok pada Sabtu (8/8) lalu, misalnya, Perhutani mengerahkan 12 personel untuk membantu proses pemadaman bersama unsur TNI, Polri, BPBD dan masyarakat. 

 

Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri
karhutla lereng wilis BPBD Kabupaten Kediri Perhutani gunung klotok