Dari hasil pemantauan satelit, terdeteksi 16 titik panas yang tersebar di enam daerah, dengan Kabupaten Nganjuk menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Berdasarkan data BMKG, sebaran titik panas meliputi Kota Kediri satu titik, Kabupaten Kediri satu titik, Kota Blitar satu titik, Kabupaten Blitar nihil, Kabupaten Nganjuk delapan titik, Kabupaten Trenggalek empat titik, dan Kabupaten Tulungagung satu titik.
Di wilayah Kediri, titik panas terpantau berada di Kota Kediri dengan tingkat kepercayaan sedang pada koordinat -7.8529, 112.0427, yang direkam Satelit NOAA20 pada 4 Agustus 2026 pukul 01.11 WIB.
Sementara itu, Kabupaten Kediri juga terdeteksi satu titik panas di koordinat -7.8236, 112.1079 berdasarkan pengamatan Satelit SNPP pada 5 Agustus 2026 pukul 13.08 WIB.
Selain itu, BMKG juga mencatat satu titik panas di Tulungagung pada koordinat -8.0115, 111.8833 yang terpantau oleh Satelit Terra pada 5 Agustus 2026 pukul 08.47 WIB.
Baca Juga: Tiga Titik Panas Terdeteksi di Kediri Raya, Bagaimana Dampaknya?
Adapun di Trenggalek, salah satu titik panas berada di koordinat -8.0910, 111.6825, terdeteksi Satelit NOAA20 pada 5 Agustus 2026 pukul 13.27 WIB.
Meningkatnya jumlah hotspot di sejumlah wilayah sejalan dengan kondisi musim kemarau yang sedang berlangsung.
Namun demikian, BMKG mengingatkan bahwa titik panas tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan, melainkan merupakan indikasi suhu permukaan yang lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya.
Temuan tersebut tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, mengingat vegetasi yang mengering akibat kemarau lebih mudah terbakar.
Jika menemukan indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri, BMKG