Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Enam Bulan, Laporan Bullying di Kota Kediri Alami Peningkatan. Ini Penyebabnya!

Hilda Nurmala Risani • Kamis, 16 Juli 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi bullying. (Afrizal Syaiful M/JPRK)
Ilustrasi bullying. (Afrizal Syaiful M/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Kasus perundungan di beberapa daerah kian marak. Termasuk di Kota Kediri. Kasusnya mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya ada 30 kasus dalam kurun waktu satu tahun. Kini, dalam kurun waktu enam bulan saja sudah ada hampir 40 kasus bullying.

“Kasus bullying ini meningkat,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) dr. Muhammad Fajri Mubasysyir.

Menurutnya, bullying banyak terjadi di lingkungan sekolah. Baik jenjang sekolah menengah pertama (SMP) maupun sekolah menengah atas (SMA). Dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari bullying fisik hingga ekonomi.

Baca Juga: Polsek Ngadiluwih Goes to School, Lakukan Edukasi Siswa Cegah Bullying dan Tingkatkan Disiplin

Tak hanya itu, kurangnya peran ayah atau yang sering disebut dengan istilah fatherless ini juga menjadi pemicu utama. Mengingat ayah ini memiliki peran yang cukup krusial.

“Peran ayah sebagai pelindung, kalau saya bilang sebagai super hero. Kalau ada ayah anaknya tidak takut. Lebih berani begitu,” tuturnya. Sebaliknya, ketika tidak ada peran ayah anak akan mudah takut. Situasi ini yang akan dimanfaatkan oleh teman-temannya.

Untuk diketahui, angka fatherless di Indonesia saat ini berada di angka 25 persen. Meskipun di Kota Kediri belum bisa dihitung, Pemerintah Kota sudah berupaya untuk mencegahnya.

Baca Juga: Kanit Bintibsos Satbinmas Polres Kediri Kota Iptu Muhammad Komaruzaman Berbagi Kisah Inspirasi di SDN Sukorame 4: Ajak Siswa Kenali dan Hindari Bullying

Perlu diketahui juga bahwa fatherless itu bukan berarti ayahnya tidak ada. Tetapi  kepemimpinan sosok ayah itu yang tidak muncul dengan keluarga. Sehingga banyak anak-anak yang mencari figur ayah di orang lain.  Yang justru akan salah kaprah.

Apalagi dengan kondisi digital saat ini, banyak orang yang menghabiskan waktunya menggunakan handphone. Terkadang duduk berjejer saja tetap yang dipegang adalah handphone.

Dia menerangkan bahwa ayah harus menjadi pelindung anaknya, juga memberikan rasa aman. Jadi sekarang sudah tidak waktunya semua terserah ibu, tapi ayah juga harus banyak berperan. Ayah ini yang lebih penting karena sosok ayah ini adalah sebagai pelindung, beda dengan ibu,” paparnya.

Baca Juga: Sosok 6 Pelaku Bullying Timothy Anugerah, Mahasiswa Unud Bali yang Lompat dari Lantai 4, Lengkap dengan Jabatannya di BEM

Sementara itu, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menerangkan jika keluarga adalah rumah pertama bagi seorang anak. Di sanalah anak belajar berbicara, belajar menghormati orang lain, belajar disiplin, bahkan belajar bermimpi.

“Anak-anak tidak hanya membutuhkan ayah yang hadir secara fisik, tetapi ayah yang benar-benar hadir dalam hidup mereka,” tandas Vinanda. 

 

 

Editor : Hilda Nurmala Risani
Sumber : Radar Kediri
BULLYING MENINGKAT FIGUR AYAH DP3AP2KB fatherless kota kediri