Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Peletakan Batu Kemuncak Jadi Wujud Penghormatan Leluhur, Kirab Agung Candi Dorok Dimeriahkan Delapan Tumpeng

Himalaya Azzahra • Minggu, 12 Juli 2026 | 19:57 WIB
Kepala Dusun Dorok Nardiono meletakkan batu kemuncak candi yang menjadi puncak acara
Kepala Dusun Dorok Nardiono meletakkan batu kemuncak candi yang menjadi puncak acara

 

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Ratusan warga Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu menggelar Kirab Agung Budaya Candi Dorok, Minggu (12/7) pagi.

Kegiatan yang merupakan tradisi nyadran pada bulan Suro tersebut menjadi wujud rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para pendiri desa dan leluhur.

Kirab budaya dimulai dari gapura Dusun Dorok menuju kawasan Candi Dorok. Sepanjang perjalanan, warga dari 16 RT memeriahkan acara dengan kostum dan membawa delapan gunungan tumpeng hasil bumi.

Selain adanya kirab, rangkaian acara juga menjadi sengat sakral dengan adanya doa bersama, pertunjukan tari tradisional dari sanggar seni desa, hingga prosesi peletakan batu kemuncak candi yang menjadi puncak acara.

Baca Juga: Kearifan Lokal di Desa Kawedusan Plosoklaten, Rutin Lakukan Kirab Budaya untuk Hormati Leluhur

Peletakan batu kemuncak dilakukan oleh Kepala Dusun Dorok sebagai simbol penghormatan kepada para leluhur.

Sekaligus mengenang jasa pihak yang menemukan dan selama ini merawat Candi Dorok.

Prosesi tersebut menjadi bagian paling sakral dalam rangkaian Kirab Agung Budaya Candi Dorok yang rutin digelar setiap bulan Suro.

Kepala Dusun Dorok Nardiono mengatakan tradisi nyadran yang dikemas dalam bentuk kirab budaya merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan. 

Sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka dan membangun Dusun Dorok.

 “Kami juga ingin masyarakat semakin mengenal Candi Dorok sebagai warisan budaya yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Menurut Nardiono, penyelenggaraan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika tahun lalu hanya terdapat empat gunungan hasil bumi, kini bertambah menjadi delapan gunungan.

Seluruh gunungan dibuat secara swadaya oleh warga menggunakan hasil bumi setempat.

 “Semua gunungan dibuat dari hasil bumi warga sebagai bentuk rasa syukur,” katanya.

Baca Juga: Jadi Aset Tak Benda, Pemkab Kediri Akan Lestarikan Kirab Suroan di Desa Menang, Kecamatan Pagu

Juru Pelihara Candi Dorok Nila mengatakan kirab budaya menjadi salah satu upaya mengenalkan keberadaan Candi Dorok kepada masyarakat yang lebih luas.

Menurutnya, selain memiliki nilai sejarah, candi tersebut juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Dusun Dorok. Sehingga perlu terus dilestarikan.

“Semoga semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap pelestarian Candi Dorok,” tutur Nila.

Setelah prosesi peletakan batu kemuncak selesai, masyarakat disuguhi berbagai penampilan tari tradisional dari sanggar seni milik desa.

Suasana semakin meriah ketika delapan gunungan hasil bumi diperebutkan warga. Antusiasme masyarakat terlihat sejak gunungan mulai dibagikan, karena warga meyakini hasil bumi tersebut membawa berkah.

Rina Puspita, 27, salah seorang warga mengaku selalu menantikan pelaksanaan Kirab Agung Budaya Candi Dorok setiap bulan Suro.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga mempererat kebersamaan antarwarga. Sekaligus mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan sejarah desa.

“Saya senang tradisi ini terus dilestarikan. Selain menjadi ajang berkumpul dengan warga, anak-anak juga bisa mengenal sejarah dan budaya desa,” tandas Rina. (c1/tar)

Editor : Andhika Attar Anindita
#candi dorok #suroan #kirab gunungan #kirab budaya #nyadranan