Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Miris! SDN Simbarlor Plosoklaten Kediri hanya Miliki Enam Murid dari Kelas I sampai VI

Himalaya Azzahra • Kamis, 18 Juni 2026 | 22:22 WIB

 

Guru SDN Simbar sedang mengajar kelas campuran, dari murid kelas 1 sampai 6
Guru SDN Simbar sedang mengajar kelas campuran, dari murid kelas 1 sampai 6

KEDIRI, JP Radar Kediri — SD Negeri Simbarlor di Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten masih bertahan meski hanya memiliki enam siswa yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI.
Di tengah minimnya jumlah peserta didik, lima guru tetap mengajar setiap hari dengan menempuh perjalanan belasan kilometer melalui jalan tanah dan sebagian besar belum beraspal.

Kepala dan guru di sekolah tersebut harus menjalankan berbagai peran sekaligus agar proses belajar mengajar tetap berlangsung.

Seluruh siswa belajar dalam satu ruang kelas yang sama karena setiap jenjang hanya dihuni satu orang murid.

Baca Juga: Keren! Guru SD di Kota Kediri Ini Tak Hanya Mengajar, Tapi Juga Produktif 'Telurkan' Banyak Buku Cerita Anak

Meski hanya memiliki enam siswa, SDN Simbarlor tidak direncanakan untuk digabung (merger) dengan sekolah lain karena merupakan satu-satunya sekolah dasar di desa tersebut.

Para guru khawatir jika siswa harus bersekolah lebih jauh dengan akses yang sulit, kondisi itu justru berpotensi meningkatkan angka putus sekolah.

Karena itu, keberadaan SDN Simbarlor dinilai masih sangat penting untuk menjamin akses pendidikan bagi anak-anak di Desa Simbar.

Salah satu guru, Alvian Ardinata, mengatakan dirinya setiap hari menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer menuju sekolah.

Selain menjadi guru kelas dan wali kelas, ia juga mengajar hampir seluruh mata pelajaran kecuali agama dan olahraga.

“Karena tenaga pengajar juga sedikit, kelas-kelas digabung dalam satu ruang saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Saya mengajar semua mata pelajaran kecuali agama dan olahraga,” ujarnya.

SDN Simbarlor yang berdiri sejak 1983 ini berada di wilayah terpencil dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit.

Dalam satu desa hanya terdapat sekitar 35 hingga 40 kepala keluarga sehingga jumlah calon siswa juga sangat terbatas. Sebagian besar peserta didik berasal dari lingkungan sekitar sekolah.

Keterbatasan akses tidak hanya berdampak pada kegiatan belajar mengajar, tetapi juga distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Karena kendaraan pengantar tidak dapat menjangkau sekolah, Alvian harus mengambil sendiri jatah makanan siswa setiap hari.

“Saya yang mengambil jatah MBG untuk anak-anak. Jaraknya sekitar lima kilometer. Kalau pagi MBG sudah siap, saya ambil sekalian berangkat dari rumah. Kalau belum siap, saya ke sekolah dulu lalu turun lagi untuk mengambil MBG,” katanya.

Baca Juga: Pemkab Kediri Kebut Akses Jalan Sekolah Rakyat: Lahan Milik PTPN, Pemerintah Lakukan Hibah Fisik

Dari jalan beraspal terdekat, masih terdapat sekitar empat kilometer jalan tanpa aspal yang harus dilalui untuk mencapai sekolah.

Kondisi tersebut membuat biaya transportasi dan bahan bakar kerap ditanggung secara pribadi oleh para guru.

Selain akses jalan, aktivitas pertanian di sekitar sekolah juga menjadi tantangan tersendiri.

Suara traktor dan debu yang masuk ke ruang kelas sering mengganggu proses pembelajaran. Namun para siswa tetap mengikuti pelajaran dengan fasilitas yang sederhana.

Alvian juga mengingat kondisi sekolah yang sempat mengalami kesulitan air bersih akibat sumur mengering dan kerusakan pompa air.

“Dulu sumur sering kering dan alat pompanya rusak. Pernah anak-anak masuk sekolah dalam kondisi belum mandi selama beberapa hari karena diimbau untuk hemat air,” kenangnya.

Dedikasi serupa ditunjukkan Mu’anam, guru agama asal Kecamatan Gurah yang setiap hari menempuh perjalanan sekitar 18 kilometer untuk mengajar di SDN Simbarlor. 

Menurutnya, keterbatasan yang ada tidak mengurangi semangat para guru dalam mendidik siswa.

“Ikhlas dan memang diniatkan untuk mengajar anak-anak. Kadang kami juga menggunakan dana pribadi untuk mencetak modul, bahan ajar, dan media pembelajaran penunjang lainnya,” tuturnya.

Baca Juga: Lipsus Urgensi Bahasa Prancis di Dunia Pendidikan (2): Lebih Mendesak Penguatan Bahasa Lokal

Tahun ini SDN Simbarlor hanya meluluskan satu siswa. Meski tanpa acara pelepasan yang meriah, para guru berharap lulusan tersebut dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan meraih masa depan yang lebih baik.

Di tengah keterbatasan jumlah siswa, akses jalan yang sulit, dan fasilitas yang minim, SDN Simbarlor tetap menjadi satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak di desa tersebut.

Keberlangsungan sekolah hingga saat ini tidak lepas dari dedikasi para guru yang memilih bertahan demi menjaga akses pendidikan bagi enam siswa yang masih menuntut ilmu di ujung desa. (c1)

Editor : Andhika Attar Anindita
#kabupaten kediri #plosoklaten #akses jalan #sekolah #guru SDN