KEDIRI, JP Radar Kediri – Organisasi Yakuza Maneges yang dipimpin Thuba Topo Broto Maneges atau Gus Thuba memastikan seluruh pendampingan dan pengusutan laporan dari masyarakat dilakukan tanpa pungutan biaya.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari misi organisasi yang mengaku hadir untuk membantu korban mendapatkan keadilan, terutama mereka yang berasal dari kalangan tidak mampu.
Gus Thuba mengatakan, pihaknya tidak ingin masyarakat mengurungkan niat melapor karena khawatir harus mengeluarkan biaya.
Sebab, tidak sedikit korban yang selama ini merasa takut atau ragu mencari bantuan lantaran menganggap proses pendampingan membutuhkan biaya besar.
Karena itu, Yakuza Maneges membuka ruang pengaduan secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan.
Menurut dia, prinsip tersebut sejalan dengan tujuan pembentukan organisasi yang selama ini dikenal aktif mengungkap berbagai dugaan pelanggaran.
Bahkan, apabila korban yang datang diketahui memiliki keterbatasan ekonomi, pihaknya justru berupaya membantu kebutuhan mereka selama proses pendampingan berlangsung.
“Bahkan kalau kelihatan orang tidak mampu, ya saya suruh (Anggota Yakuza Maneges) urunan, saya kasih bekal juga,” ujar putra dari KH Agus Tijani Robert Saifunnawas atau Gus Robert.
Gus Thuba menjelaskan, semangat tersebut tidak terlepas dari filosofi yang diusung Yakuza Maneges.
Ia menyebut Yakuza merupakan akronim dari kalimat “yang awalnya kotor, ujungnya zuhud abadi”.
Filosofi itu menggambarkan harapan agar setiap pelaku yang melakukan kesalahan dapat menyadari perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar setelah proses penegakan hukum berjalan.
Selain itu, Yakuza Maneges juga membawa misi “ngorat ngarit sing wis morat-marit”, yakni membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dinilai telah merusak tatanan kehidupan masyarakat.
Karena itu, organisasi tersebut mengaku tidak hanya berfokus pada pengungkapan kasus, tetapi juga berupaya memberikan perlindungan dan pendampingan kepada korban.
Menurutnya, keberadaan organisasi tersebut bukan untuk mencari keuntungan dari setiap kasus yang ditangani.
Sebaliknya, seluruh aktivitas dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Dengan demikian, korban diharapkan tidak lagi takut melapor hanya karena alasan biaya.
“Yang penting korban berani bicara dan mendapatkan pendampingan. Jangan sampai ada yang memilih diam karena takut tidak punya uang untuk mencari keadilan,” tegas cucu KH Chamim Thohari Djazuli atau Gus Miek itu.
Editor : Andhika Attar Anindita