Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Temuan Arca-Arca di Kediri Berpotensi Jadi Wisata Edukasi, Begini yang Dilakukan Pemerintah

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 6 Juni 2026 | 23:33 WIB
Pemdes bersama Disparbud dan warga sedang lakukan serangkaian pemindahan arca yoni di Duwet, Wates
Pemdes bersama Disparbud dan warga sedang lakukan serangkaian pemindahan arca yoni di Duwet, Wates

KEDIRI, JP Radar Kediri– Banyaknya temuan arca dan situs bersejarah di Kabupaten Kediri berpotensi dikembangkan jadi wisata berbasis budaya. 

Persebaran artefak di berbagai desa dinilai bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tetapi juga memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Termasuk dari luar daerah. 


Jika dikelola serius oleh pemerintah, potensi ini bisa menjadi nilai tambah dalam mendongkrak kunjungan wisata.

Terlebih, sebagian besar temuan selama ini masih tersebar dan belum terintegrasi dalam satu konsep pengembangan wisata.

Di sejumlah wilayah, artefak yang ditemukan warga kini diamankan secara mandiri di titik-titik desa.


Selain untuk menjaga kelestarian, keberadaan benda bersejarah tersebut juga mulai dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dan pelajar.

Misalnya di Desa Bogem, Kecamatan Gurah yang ditempatkan di ruangan balai desa. Lalu di Desa Duwet, Kecamatan Wates yang dititipkan di rumah warga.

Upaya ini dinilai sebagai langkah awal yang positif, meski masih membutuhkan dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah.

Baca Juga: Arca Yoni Wates Diduga Peninggalan Kerajaan Kediri, Bentuknya Mirip dengan Arca Era Raja Kertajaya
Dengan penataan yang tepat, titik-titik temuan bisa dikemas menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik. Salah satu contoh ada di Desa Duwet.

Di wilayah ini, ditemukan arca yoni di lahan persawahan milik warga yang kemudian dipindahkan untuk diamankan.

Temuan tersebut ternyata menarik perhatian rombongan wisata spiritual dari Bali yang datang melakukan Tirta Yatra atau ziarah leluhur ke sejumlah situs di Kediri.


Mereka mengunjungi beberapa titik, seperti Sendang Kamulyan, Situs Resi Tomo, hingga lokasi penemuan yoni tersebut.

Ketua Lembaga Adat Desa (LAD) Duwet Candra David, menyebut kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa situs-situs di desanya memiliki daya tarik tersendiri. 


“Setelah penemuan yoni itu, ada rombongan dari Bali sekitar 21 orang yang datang untuk Tirta Yatra. Mereka berdoa di Sendang Kamulyan, lanjut ke Situs Rsi Tomo, lalu ke lokasi yoni yang sudah dipindahkan,” ujar Candra.

Baca Juga: Petani Ini Temukan Arca Mirip dengan Situs Tondowongso Kediri, Begini Kata Pengamat dan Ahli Purbakala
Dia menambahkan, artefak di Desa Duwet saat ini masih tersebar di beberapa titik. Termasuk yang berada di rumah warga seperti lumpang panjang dan watu dakon.

Ke depan, pihak desa berencana mengumpulkan seluruh artefak tersebut di satu lokasi agar lebih mudah diamankan sekaligus dimanfaatkan sebagai pusat edukasi. 

“Nantinya juga untuk pengamanan dan edukasi masyarakat, termasuk anak-anak sekolah,” imbuhnya.


Aktivis Sejarah dan Kebudayaan Erwan Yudiono Hadi Projo menilai perlunya dorongan agar artefak dan situs yang tersebar di desa-desa bisa diintegrasikan. Sehingga, potensi itu bisa mengundang wisatawan.


Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membangun museum desa sebagai pusat penyimpanan sekaligus edukasi.

“Teman-teman kita bantu ke depannya dibuatkan museum desa, biar artefak ada di satu tempat,” ujar laki-laki yang akrab disapa Jeje itu.

Baca Juga: Pelaku ‘Perusak’ Patung Arca Dwarapala asal Grogol Menyerahkan Diri
Menurut dia, integrasi tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi paket wisata berbasis budaya. Apalagi, saat ini beberapa desa telah memiliki lembaga adat desa yang berperan mengangkat ritus sejarah dan kebudayaan setempat.

“Bisa (diintegrasikan), karena beberapa desa sudah punya lembaga adat desa yang tugasnya mengangkat situs sejarah budaya desa,” tambah wakil Pasak itu. Menurutnya pemda perlu melakukan hal itu. Agar bisa mendukung banyaknya wisatawan. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kebudayaan #wisata edukasi #arca #sejarah #artefak