KEDIRI, JP Radar Kediri-Setelah kasus keracunan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Kediri pada 22 April lalu, Senin (27/4) lalu giliran siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Atta’awun yang diduga keracunan makanan dari program Pusat tersebut.
Siswa asal Desa Tugurejo, Ngasem itu mengeluhkan sakit perut, muntah, dan mencret setelah mengonsumsi menu ayam suwir.
Ari Setia Rini, 30, salah satu orang tua siswa mengatakan, sekitar pukul 13.00 Senin lalu, pihak sekolah menghubungi.
Memberitahu jika anaknya yang Mengabarkan bahwa sang anak yang duduk di kelas 1 MI Atta’awun mengeluhkan sakit perut.
“Saya langsung ke sekolah untuk menjemput. Di situ saya juga mengajak anak saya yang kecil,” ungkap Ari ditemui di RSUD SLG kemarin.
Baca Juga: Bupati Dhito Jenguk Pasien Terduga Keracunan MBG di RS Simpang Lima Gumul Kediri
Jika di sekolah mengeluh sakit perut, saat perjalanan pulang kondisi anaknya justru memburuk.
Anak pertama muntah di jalan. Sedangkan sang adik yang mengenyam pendidikan di Raudlatul Athfal (RA) Atta’awun juga muntah-muntah setelahnya.
“Di jalan itu kakaknya bilang mau muntah, terus saya berhenti, langsung muntah di jalan. Adiknya juga muntah-muntah pas berhenti di depan toko,” bebernya.
Awalnya, perempuan asal Dusun Babaan, Desa Tugurejo, Ngasem itu mengira anaknya hanya masuk angin. Karenanya, dia sempat menyiapkan obat herbal.
Namun, setelah mendapat informasi bahwa ada beberapa siswa lain yang mengalami muntah-muntah, Ari langsung membawa anaknya ke rumah sakit.
“Saya dapat info banyak yang muntah. Terus langsung dibawa ke IGD RSUD SLG 14.00–14.15,” terangnya.
Dikatakan Ari, selain mengonsumsi menu MBG, anaknya belum mengonsumsi menu lain. Anak sulungnya makan paket MBG di sekolah. Sedangkan si bungsu membawa pulang makanan untuk disantap di rumah.
Menu MBG yang dimakan Senin lalu berupa nasi, ayam suwir, tahu goreng, dan terong goreng tepung. Paket makanan dilengkapi buah salak dan susu kotak.
Ari yang sempat mencicipi makanan anaknya, mengaku merasakan ada rasa yang janggal. Khususnya pada lauk ayam suwir.
Baca Juga: Korban Keracunan MBG Kota Kediri Kembali Sekolah, Dinas Kesehatan Kebut Penerbitan SLHS
“Kalau dari saya pribadi, mungkin dari ayamnya. Rasanya agak aneh, tidak seperti biasanya. Enggak tahu ya, pokoknya enggak senormalnya ayam,” kata Ari saat diminta mendeskripsikan makanan anaknya.
Secara visual, makanan menurut Ari terlihat normal. Tidak ada tanda basi seperti berlendir atau berbau menyengat.
Namun, selain ayam, ia juga merasakan terong goreng yang sedikit pahit. “Kalau penampakan enggak ada yang aneh. Tapi terongnya agak pahit,” imbuhnya.
Sementara itu setelah dirawat sejak Senin lalu, kemarin (28/4) kondisi dua anak Ari mulai membaik. Dia berharap kejadian tersebut menjadi evaluasi bagi penyedia makanan.
Menurutnya, anak-anak belum mampu membedakan makanan yang layak atau tidak dikonsumsi.
“Harus dievaluasi lagi. Untuk sementara mungkin bawa bekal sendiri dulu, lebih aman,” tandasnya.
Terpisah, Direktur RSUD SLG Kediri dr Tony Widyanto SpOG (K) mengatakan, total ada enam pasien yang sempat mendapatkan penanganan medis di tempatnya.
Namun, satu pasien sudah diperbolehkan pulang. Adapun lima lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Kejadiannya kemarin ada enam pasien. Satu sudah kita pulangkan, lima masih kita rawat,” ujar Tony yang kemarin mengecek kondisi pasien.
Lebih jauh Tony menyebut enam pasien datang dengan keluhan sama. Yakni, mual dan muntah.
Saat tiba di rumah sakit, kondisi pasien dalam keadaan sadar. Namun frekuensi muntah cukup sering sehingga perlu penanganan intensif.
“Keluhannya mual muntah. Kemudian kami tangani dengan infus, diberikan obat untuk mengurangi mual muntah, lalu kita observasi,” jelasnya.
Dari hasil pemantauan terbaru, kondisi pasien menunjukkan perkembangan positif. Gejala muntah sudah jauh berkurang. Bahkan sebagian pasien sudah mulai bisa makan dan minum secara normal.
“Pagi ini (28/4) kondisinya sudah membaik. Sudah tidak muntah, sudah mau makan dan minum,” jelasnya.
Terkait penyebab keracunan, Tony mengaku belum bisa memastikan. Dugaan sementara mengarah pada keracunan makanan, namun perlu pemeriksaan lanjutan oleh pihak terkait.
“Untuk diagnosa pastinya, kita duga ada keracunan makanan. Tapi untuk kandungan apa, itu masih belum. Kami sudah koordinasi dengan dinas kesehatan (dinkes) untuk tindak lanjut,” tegasnya.
Kapan pasien bisa pulang? Tony menyebut jika kondisi terus membaik dan pasien sudah bisa makan minum tanpa keluhan, mereka semua diperbolehkan pulang. Perkiraannya hari ini (29/4) bisa dipulangkan.
“Kalau sudah tidak ada keluhan muntah dan bisa makan minum dengan baik, kemungkinan bisa dipulangkan. Tapi mungkin juga masih perlu observasi satu hari lagi,” tandasnya.
Kepala Dinkes Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib mengatakan, satgas MBG telah turun ke lapangan untuk melakukan observasi. Selain itu, pihaknya juga telah mengambil sampel untuk dilakukan uji lab.
“Kami memeriksakan sampel sisa makanan ke laboratorium di Surabaya,” jelasnya sembari hasil laboratorium akan memastikan penyebab keracunannya. Apakah dari MBG atau makanan lainnya.
Baca Juga: Ancam Tutup SPPG Salahi SOP, Empat Dapur MBG di Kota Kediri Belum Kantongi SLHS
Sembari menunggu hasil uji laboratorium, Dinkes Kabupaten Kediri melakukan penutupan sementara SPPG Tugurejo. “Sambil nunggu hasil evaluasi, operasional diberhentikan sementara,” paparnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Kediri Ahmad Gunawan mengaku belum bisa berkomentar. Dia menyerahkan semuanya ke satgas MBG. “Kami ikuti pemeriksaan satgas MBG. Kami menunggu bagaimana hasilnya,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Desa Tugurejo Sugeng Agung Witanto yang juga mitra SPPG membenarkan terkait adanya keracunan makanan di desanya. Namun, dia mengaku belum bisa memastikan apakah mereka keracunan akibat memakan MBG atau bukan.
“Karena kan dapur kami melayani 2000-an anak. Sementara yang sakit sekitar lima saja,” tegasnya sembari menyebut SPPG masih menunggu hasil pemeriksaan dari dinkes. (sad/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita