Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Antusias Berebut Gunungan Ketupat, Jadi Tradisi Tahunan Warga Desa Sidomulyo

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 27 Maret 2026 | 15:04 WIB
Semarak hari raya ketupat di Sidomulyo, Wates
Semarak hari raya ketupat di Sidomulyo, Wates

KEDIRI, JP Radar Kediri—Ribuan ketupat diarak dalam tradisi Hari Raya Kupatan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wates.

Meski diguyur hujan, antusiasme warga tidak surut mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Kebersamaan justru makin terasa dalam perayaan tradisi tahunan tersebut.

Kirab ketupat dilakukan dengan rute mengelilingi Dusun Tempuran sejauh sekitar 1,5 kilometer.

Tradisi ini menjadi bagian dari perayaan Syawal yang terus dijaga warga setempat.

Ketua RW 5 Dusun Tempuran Toni Subagyo mengatakan gerebek ketupat merupakan agenda rutin setiap Hari Raya Kupatan.

“Ini memang kegiatan rutin tahunan setiap Syawal, tepatnya di hari raya kupatan selalu diadakan grebek ketupat,” ujar Toni.

Menurut dia, kegiatan tersebut telah berlangsung sekitar lima hingga enam tahun terakhir.

Namun, pelaksanaan tahun ini digelar lebih sederhana dibanding tahun sebelumnya.

Jumlah ketupat yang dikirab sekitar 1.500 buah.

Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding tahun lalu yang mencapai dua kali lipat.

Toni menjelaskan penurunan skala kegiatan dipengaruhi kondisi anggaran.

Saat ini, kegiatan dilaksanakan secara swadaya oleh warga dusun tanpa dukungan anggaran desa seperti sebelumnya.

Meski demikian, tradisi tetap dipertahankan agar tidak hilang.

“Kalau tidak diadakan, nanti bisa merusak tradisi yang sudah ada,” ungkapnya.

Jumlah gunungan ketupat yang diarak tahun ini juga berkurang menjadi empat.

Dari sebelumnya tujuh gunungan.

Meski lebih kecil, suasana kebersamaan tetap terasa kuat.

Bahkan, hujan yang turun tidak mengurangi semangat warga untuk mengikuti kirab hingga selesai.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, selama kegiatan kirab diguyur hujan.

Walau demikian, warga yang membawa gunungan tetap mengarak tumpeng tersebut dengan semangat.

Setelah kirab, seluruh ketupat dikumpulkan dan didoakan sebelum dinikmati bersama warga.

Berikutnya warga saling berebut ketupat di gunungan tersebut.

Tradisi makan bersama menjadi penutup rangkaian acara sebagai simbol syukur dan kebersamaan.

Warga pun berharap grebek kupat tetap bisa digelar setiap tahun sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

“Harapannya terus ada agar tradisi bisa terus jalan,” tandas Toni. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kirab #ketupat #lebaran #Hari Raya Idhul fitri